Minggu, 09 November 2008

DIAH

“ Din , ayo berangkat ! “ kata Cinta.
“ Iya , sebentar ,“ jawabku .
Hari ini kami akan pergi ke gunung Bromo dan akan menginap di vila milik Rini . Kami berada di sana selama satu minggu . Kami ingin menikmati liburan kenaikan kelas dengan pergi ke gunung Bromo .
“ Udah ngumpul semuakan ? “ tanya Rini sambil menghitung anak yang datang .
“ Udah , ayo kita berangkat ! “ kata Cinta .
Tiga jam kemudian mereka sampai di vila milik Rini . Sore harinya kami pergi ke sebuah restoran . Tiba - tiba Cinta menarik tangan seorang anak dan sepertinya Cinta mengenal anak itu . Anak itu kaget , dia bingung dengan perlakuan Cinta .
“ Maaf kamu siapa ya ? “ tanya anak itu .
“ Aku Cinta , kamu jangan bercanda Dini . Aku serius nih !“ bentak Cinta .
“ Cinta ?! Maaf aku bukan Dini namaku Diah ,“ jawab Diah .
Aku yang semula tidak peduli menjadi kaget dengan apa yang dikatakan oleh anak itu . Aku pernah mendengar nama itu , aku mulai mengingat - ingat ada apa dengan nama itu . Dan akhirnya aku ingat ibu pernah berkata jika aku mempunyai saudara kembar namanya Diah . Dia diasuh oleh teman ibuku, karena keluargaku saat aku dan Diah lahir sedang kesulitan ekonomi . Teman ibuku itu sekarang pindah di Jakarta . Dulu saat ibu cerita aku ingin sekali ke Jakarta , padahal Surabaya - Jakartakan jauh . Aku melihat Diah dengan seksama ternyata Diah sangat mirip denganku . Akupun mendekati Diah .
“ Hai , namamu Diah ya ? “ tanyaku .
“ Ya kamu tahu dari mana , kalau boleh tahu namamu siapa ? “ tanya Diah .
“ Aku dengar dari pembicaraanmu dengan Cinta , namaku Dini ,“ jawabku .
“ Oh …. jadi kamu Dini ,” kata Diah .
Aku dan Diah berbincang - bincang lama sekali , sepertinya aku dan Diah sudah kenal lama . Aku dan Diah sepertinya sehati . Aku mempunyai perasaan kalau Diah adalah saudara kembarku . Kamipun saling bertanya tentang keseharian masing - masing .
Satu minggupun terasa cepat . Aku sedih sekali berpisah dengan Diah , tetapi Diah berjanji akan berkirim surat padaku . Akhirnya dengan berat hati aku meninggalkan Diah . Pukul 12.00 siang kami sampai di rumah masing - masing .
Satu bulanpun berlalu aku menunggu surat dari Diah , tetapi surat itu tak kunjung
tiba . Aku sudah berusaha mengirim surat pada Diah , tetapi tidak pernah dibalas . Aku rasa Diah pasti sudah melupakanku . Tak lama kemudian ada telepon berdering . Aku merasa malas mengangkat telefon , tetapi aku angkat saja mungkin penting .
“ Halo , ini siapa ? “
“ Ini Diah , Dininya ada tante ? “
“ Tante ?! Ini Dini , enak saja tante !!!!!!!!!!!!!!!! “
“ Oh….. sorry Din , kupikir Ibumu . Oh ya aku ada kabar baik aku …. sekarang …. ada di belakangmu ….” kata Diah sambil tertawa .
Diah ternyata sedang libur sekolah selama satu minggu . Akupun mengantar Diah mengelilingi kota Pahlawan . Karena hari ini adalah hari minggu , jadi aku bisa bebas kemanapun aku pergi . Tetapi seperti biasanya ibu dan ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya . Sejak peristiwa perginya Diah ayah dan ibuku tak ingin mengecewakanku maka dari itu mereka bekerja keras siang malam . Padahal mereka tak tahu betapa menderitanya aku tanpa mereka . Maka dari itu aku ingin mempunyai seorang saudara .
Satu mingu bersama Diah pun berlalu . Saat ini aku sendiri lagi . Tiba - tiba ibu datang .
“ Dini , sini sayang ! “ panggil ibu .
Akupun mendekati ibu . Sepertinya ibu mau membicarakan sesuatu yang penting sekali .Aku dan ibu berbicara tentang saudaraku kembarku . Ternyata dugaanku selama ini benar Diah adalah saudara kembarku . Hari Sabtu aku , ayah , dan ibuku pergi ke Jakarta untuk mengunjungi Diah . Rencananya kalau Diah mau , dia akan tinggal di Surabaya .
Sabtu pagi kamipun berangkat dengan pesawat terbang . Setelah kami sampai di Jakarta , kami mencari rumahnya Diah . Ternyata mudah sekali mencari rumah Diah .
Setelah beristirahat sejenak .Orang tuaku dan orang tua Diahpun berunding . Orang tua Diahpun menyerahkan semua keputusan pada Diah . Akupun berharap - harap cemas . Harapanku Diah akan ikut ke Surabaya bersamaku . Akhirnya Diah angkat bicara .
“ Pa.. ma.. Dini …om…tante… semoga keputusanku adalah keputusan yang membuat kalian bahagia ,“ Diah menghela nafas sejenak .
“ Sebelumnya aku minta maaf jika keputusanku menyakiti salah satu dari kalian semua , aku memutuskan untuk pergi ke Surabaya bersama saudaraku . Sejak pertama bertemu dengannya aku tak ingin terpisah darinya , sekali lagi maafkan Diah papa.. mama.. “
Mendengar keputusan Diah aku sangat bahagia . Tapi aku melihat air mata mengalir di mata Diah sepertinya Diah tak ingin berpisah dengan kedua orang tuanya . Aku tak tega melihatnya .
“ Diah …. apa kamu yakin dengan keputusanmu kalau kamu masih ragu lebih baik jangan kamu lakukan , “ ujarku .
“ Tapi Din , aku melakukan semua ini demi kamu , “ kata Diah .
“ Walaupun demi aku , kalau kamu di Surabaya terbayang - bayang wajah orang tuamu bagaimana ? “ tanyaku .
“ Tapi Din aku tak ingin kehilangan kamu . “
“ Diah , kitakan bisa surat - menyurat , saling menelpon . Diah ini jaman modern banyak alat komunikasi yang bisa kita gunakan !” tegasku .
“ Ta..tapi….. “
“ Diah aku tau kamu sangat mencintai kedua orang tuamu , begitu juga mereka , jadi demi aku jangan tinggalkan mereka . “
Akhirnya keputusan yang diambil Diah tetap tinggal di Jakarta . Besok pagi kami sekeluarga pulang ke Surabaya , Walaupun aku sedih Diah tidak ikut kami ke Surabaya . Aku yakin itu yang terbaik untuk Diah . Sampai jumpa Diah , semoga hubungan kita tetap berjalan sampai kita tua .

1 komentar:

tika mengatakan...

Diah tu sbnrx nmx ade q, but syang dy dah g smpet mrasakan indahx dunia. Dia kbru prgi ke alam baka. So q bkin cerpen niy buat ngingetinq ma ade q. Love you my sister