Senin, 30 November 2009

Andaikan waktu dapat ku putar

Pelangi membereskan kertas-kertas yang berserakan di mejanya. Ia harus segera pulang, agar ia tak terlalu larut. Diliriknya jam di tangannya pukul delapan, pantas saja perutnya sudah keroncongan. Dengan segera ia mencari rumah makan yang paling dekat dengan kantornya. Dipilihnya sebuah meja di dekat jendela dengan pemandangan sebuah taman kota lengkap beserta air mancurnya. Cukup sempurna untuk sejenak menghilangkan kepenatannya selama ini.
Pelangi memperhatikan seorang wanita yang duduk di meja seberang. Ditatapnya wanita itu lekat-lekat. Mengapa wajah itu begitu familiar? Ia membongkar seluruh memori dalam otaknya. Dan ditemukannya sebuah nama, yang dulu pernah berarti dalam hidupnya. Raina…
" Raina….? Ini bener kamu, Raina?"
Raina terkejut. " Pelangi?!"
" Iya Ra. Ini aku Pelangi."
Tatapan Raina mendadak berubah saat ia mengingat suatu peristiwa. " Kamu!? Aku nggak ngerti kenapa aku harus ketemu sama kamu lagi."
" Kamu kenapa, Ra?"
" Kamu tanya ‘kenapa’?! Setelah semua yang kamu lakuin ke Kak Rhesa? Kamu masih tanya ‘kenapa’?!"
Pelangi tercekat. Nama itu… Nama yang semenjak dulu berusaha untuk dilupakan. Dengan susah payah Pelangi mengucapkan nama itu. " Rhe.. Rhesa.."
" Ya.. Kak Rhesa. Dia udah meninggal delapan tahun yang lalu. Tepat satu minggu setelah kamu pergi."
Tanpa terasa air mata Pelangi meleleh. " Rhe..Rhesa udah meninggal?"
" Ngapain sih kamu nangis? Bukannya kamu yang mau Kak Rhesa pergi. Ini semua salah kamu. Semenjak pertengkaran itu dia nggak mau berobat lagi, dia udah nggak punya semangat buat hidup. Sama persis kayak waktu dia belum ketemu sama kamu."
" Maafin aku, Ra. Aku nyesel banget."
" Nyesel??? Percuma, Semua udah terlambat. Penyesalanmu nggak akan buat Kak Rhesa kembali lagi."
Air mata Pelangi makin tak terbendung lagi.
" Ra.. kamu mau nganterin aku ke makam Rhesa?"
"Buat apa? Mau ngapain lagi kamu? Pengen nambah penderitaan Kak Resha lagi?!"
"Please, Ra..! Aku mohon sama kamu.."
Sesaat Raina terdiam.
"Ra, kalau nanti kakak udah nggak ada, kakak mohon sama kamu… Kalau kamu ketemu sama Pelangi, tolong antar dia ke tempat peristirahatan terakhir kakak.. Kamu mau kan?"
Terngiang di benak Raina, pesan kakaknya sesaat sebelum kakaknya meninggal…
Aroma bunga kamboja begitu terasa saat kaki Pelangi mulai memasuki areal pemakaman. Pelangi terpaku menatap pusara yang ada di hadapannya. Pusara yang di dalamnya terbaring jasad orang yang dicintainya. Pusara yang bertuliskan Rhesa Aldo Alana.
Setetes air mata mulai meleleh di sudut mata Pelangi, kala mengingat segala hal tentang Rhesa. Betapa bodohnya dirinya, ia meninggalkan Rhesa saat Rhesa membutuhkannya. Andaikan dulu ia mendengarkan alasan Rhesa, semuanya takkan menjadi seperti ini.


Fajar baru terjaga, seorang gadis sudah selesai menyiapkankan dagangannya. Gadis berusia lima belas tahun itu biasa menjual dagangannya di terminal-terminal. Pelangi… begitu dia biasa disapa. Rambutnya yang panjang terurai indah dipermainkan angin saat ia berlari kecil keluar dari kampungnya. Kali ini tujuannya bukanlah di terminal di mana ia biasa mangkal, tapi ke daerah-daerah yang mengalami kemacetan.
Dia begitu semangat menjalani hari-harinya tanpa peduli akan kesendirian yang menghantuinya. Sejak secil dia sudah terbiasa dengan kesendiriannya. Karena memang ayah ibunya sudah lama menghadap Sang Pencipta.
Kaki-kaki Pelangi bergerak begitu lincah ke sana ke mari seakan tiada mengenal lelah. Ada sepasang mata memperhatikannya. Sepasang mata yang kelak akan mengisi hari-harinya. Segala gerak-geriknya tiada yang luput dari pandangan sepasang mata itu.
" Air.. air.. air mineral.. kacang...." seru Pelangi penuh semangat.
" Dik.. dik… Air mineralnya satu," seorang ibu-ibu memanggilnya. " Berapa satu?" tanyanya seraya menggambil dompet di tasnya.
" Seribu lima ratus, Bu ," jawab Pelangi.
Di samping ibu-ibu itulah sepasang mata itu berada. Sepasang mata itu kembali menatap Pelangi. Pelangi menyadari hal itu, tapi Pelangi berusaha untuk tidak menggubrisnya. Sepertinya sepasang mata itu merasa bahagia saat melihat segala hal yang dilakukannya, semua semangatnya yang tak pernah padam. Perlahan-lahan kemacetan itu mencair dan mobil milik sepasang mata itu menghilang di ujung jalan.
Kaki-kaki Pelangi melangkah dengan tak sabar, rasanya ia ingin terbang atau menggunakan pintu ke mana saja seperti yang ada di film kartun favoritnya, untuk segera sampai di SMAnya yang baru. SMA yang dulu hanya bisa dilihatnya dari luar. Kini ia tak hanya bisa memasuki gerbangnya yang begitu megah, tapi ia telah menjadi salah satu siswa di SMA itu.
Pelangi menatap kagum gerbang SMA yang kini menjadi sekolahnya. Menakjubkan hanya kata itu yang pantas menggambarkan suasana sekolah barunya. Walaupun ia bisa masuk ke sekolah itu karena beasiswa, ia sama sekali tak percaya bisa bersekolah di sekolah semewah itu.
Berbagai pertanyaan menghampiri Pelangi, apakah teman-teman barunya yang rata-rata anak orang kaya akan menerimanya sebagai teman, apakah dia sanggup bertahan di sekolah barunya ini. Dengan segera Pelangi menepis semua pertanyaan yang berkecambuk dalam hatinya. Dengan langkah pasti dia memasuki gerbang yang bertuliskan SMA Putra Bangsa.
Tiba-tiba ada seorang gadis yang menghampirinya. " Hey… kamu anak baru juga kan?"
" Ehm… ya, kamu juga anak baru?"
" Yap, bener banget." Gadis itu lalu mengulurkan tangannya. " Oh ya kenalin namaku Raina, nama kamu siapa?"
Pelangipun mengulurkan tangannya. " Namaku Pelangi."
Raina dan Pelangi berjalan berdampingan menuju ke kelas mereka. Beberapa pasang mata memandangi mereka. Ada yang mengagumi kecantikan Raina dan Pelangi, tapi ada pula yang memandang risih ke arah Pelangi.
Pelangi memandangi seluruh pakaiannya. Seragam yang digunakannya memang sama seperti siswa-siswi SMA barunya, tapi tetap saja ia merasa tidak percaya diri. Apalagi pandangan yang seolah merendahkan dari beberapa pasang mata. Pelangi sadar dia tidak pantas bersekolah di tempat ini. Tanpa terasa langkah Pelangi terhenti.
" Kenapa kok berhenti?" tanya Raina.
" Aku ngerasa nggak nyaman deh."
Raina menatap Pelangi dalam-dalam. " Nggak nyaman kenapa? Karena pandangan mereka ngeremehin kamu? Atau kamu ngerasa beda sama mereka?"
" Kok kamu tau sih Ra?"
" Pelangi.. Pelangi.. Aku udah tau kalau kamu masuk sini karena beasiswa kan, tapi santai aja aku tetep mau temenan kok sama kamu. Ya udah ah, nggak usah peduli`in mereka. Yuk kita ke kelas aja." Dengan segera Raina menarik tangan Pelangi untuk menuju ke kelas.
Terik matahari siang ini begitu menyengat, tapi tentu saja tidak menghalangi Pelangi untuk tetap menjajakan dagangannya dari satu bus ke bus lainnya. Tanpa mengenal lelah Pelangi tetap melangkah dengan lincahnya.
Pelangi kembali melihat sepasang mata itu. Benarkah dia ada di sini. Benarkah dia memperhatikan Pelangi. Segala tingkah lakunya. Sesekali pelangi berusaha mencuri pandang ke arah sepasang mata itu untuk memastikan sepasang mata itu benar-benar ada dan bukan hanya khayalannya saja.
Pelangi ingin mengetahui sepasang mata itu milik siapa. Pelangi ingin mengetahui nama sepasang mata itu. Tapi tak mungkin ia menanyakannya pada sepasang mata itu. Kalau memang misalnya sepasang mata itu benar-benar memperhatikannya tak apa, jika selama ini sepasang mata itu tidak pernah memperhatikan pelangi mau di letakkan di mana muka Pelangi. Apalagi sepertinya sepasang mata itu berasal dari keluarga yang berada.
" Dik.. dik.." sebuah suara membuyarkan lamunan Pelangi. " Tehnya berapa harganya?"
" Ehm.. kenapa, pak"
" Aduh dik.. dik.. kerja itu jangan sambil melamun. Saya mau beli teh. Harganya berapa?"
" Oh.. maaf, pak. Tehnya dua ribu lima ratus, pak?"
" Ini uangnya. Lain kali jangan melamun lagi ya," kata lelaki separuh baya itu sambil memberikan sejumlah uang pada Pelangi.
Pelangi tersenyum malu. Pelangi mengalihkan pandangannya ke arah sepasang mata itu lagi, tapi sepasang mata itu telah menghilang.


Pelangi menatap bintang-bintang dari balik jendela kamarnya. Ia mengingat-ingat peristiwa yang beberapa hari ini lumayan menyiksanya. Bayangan tentang sepasang mata yang memperhatikan Pelangi. Apakah sepasang mata itu benar-benar ada, ataukah semua itu hanya khayalannya. Tapi sudah kali kedua ia melihat sepasang mata itu dari kejauhan.
Entah mengapa Pelangi berharap sepasang mata itu benar-benar ada. Ia ingin lagi menatap kelembutan sepasang mata itu saat memperhatikan gerak-geriknya. Ia sepertinya ketagihan untuk bertemu lagi dengan pemilik sepasang mata itu. Walaupun mereka sama sekali tak pernah mengobrol, Pelangi merindukan saat-saat sepasang mata itu menatapnya. Ia bertanya pada dirinya benarkah ini suatu kerinduan? Mereka baru dua kali bertemu, mengobrol saja mereka tak pernah. Bahkan terkadang Pelangi menganggap sepasang mata itu tidak benar-benar ada. Semoga ia bisa bertemu sepasang mata itu untuk kali ketiga, agar ia yakin bahwa sepasang mata itu benar-benar ada.
Pelangi memandang rumah yang ada dihadapannya. Benarkah ini rumah Raina? Jika memang benar, Raina berarti benar-benar anak orang kaya. Pelangi menjadi ragu-ragu untuk memencet bel. Ia takut orang tua Raina tak mau menerima kehadirannya. Tapi ia sudah berjanji pada Raina untuk mengerjakan tugas ini di rumah Raina, ia semakin tak enak jika harus mengerjakan di rumahnya yang kecil itu.
Akhirnya Pelangi memberanikan diri untuk memencet bel. Tapi tak ada seorangpun yang keluar bahkan suarapun tak ada. Sekali lagi ia memencet bel. Tetap saja tak ada respon. Dengan putus asa Pelangi memencet bel untuk yang ketiga kali.
" Ya… sebentar," suara seorang lelaki dari balik pagar. " Aduh bi` Inah ke mana sih. Ada tamu kok nggak dibukain," kata lelaki itu lagi sambil membuka pagar yang berdiri kokoh itu.
Ketika pagar sudah terbuka, Pelangi begitu terkejut melihat sosok yang ada di belakang pintu. Sosok itupun sama terkejutnya dengan Pelangi. Pelangi tak menyangka siapa sosok yang ada di hadapannya. Kenyataankah ini atau semua ini hanya mimpi atau khayalan belaka atau malah karena selama ini Pelangi terlalu memikirkan pangeran impiannya itu. Tapi ia begitu mengenal sosok itu, tatapannya yang lembut penuh arti, lekuk-lekuk wajahnya, apalagi sepasang mata yang di milikinya. Sepasang mata yang selama ini menghiasi mimpi-mimpi indahnya, sepasang mata yang selama ini berusaha dianggapnya tak pernah ada. Kedua anak manusia itu diliputi keterkejutan yang mendalam. Mereka tak menyangka bisa bertemu lagi untuk yang ketiga kalinya.
" Siapa kak tamunya?" sebuah suara menyadarkan mereka dari keterkejutan. " Ih.. Kak Rhesa kok nggak disuruh masuk sih, itu Pelangi…." Suara itu diam sejenak menyadari ada yang tak beres antara kakak lelaki dan teman perempuannya.
Rhesa segera mengakhiri keterpukauannya terhadap kedatangan Pelangi. " Ini temen kamu Ra? Ayo masuk."
Raina mengamit lengan Pelangi dan berjalan memasuki rumah. Di belakang mereka Rhesa mengikuti. Wajahnya masih diliputi keterkejutan yang amat sangat. Raina segera mengajak Pelangi menuju ke kamarnya.
" Ra… itu tadi kakak kamu?" tanya Pelangi saat di kamar Raina.
" Bener banget. Namanya Kak Rhesa. Ehm.. kamu udah kenal sama Kak Rhesa? Tadi kalian berdua kayak gimana gitu waktu ketemu," tanya Raina dengan tatapan penuh selidik.
" Kenal? Ehm kalo kenal sih nggak, aku kayak ngerasa pernah ketemu aja sama Kak Rhesa. Eh.. Ra ayo kita mulai dari mana nih."
Raina merasa Pelangi mengalihkan pembicaraan tentang Kak Rhesa. Tapi Raina menurut saja untuk memulai mengerjakan tugas mereka.
Tok,tok,tok. " Permisi boleh masuk kan, aku cuma mau nganterin minuman aja buat kalian berdua."
" Lho kok kakak yang anterin. Bi` Inah ke mana, kak? Tumben mau nganterin minuman. Biasanya aja nggak mau nganterin minuman buat…." Raina sadar celotehannya dari tadi sama sekali tak didengar kakaknya.
Rhesa sedang asyik memperhatikan tingkah laku Pelangi yang sedang mengerjakan kerajinan tangan. Rhesa begitu terpukau melihat gerak lincah tangan Pelangi ketika membentuk pola, sedangkan Pelangi sesekali mencuri pandang ke arah Rhesa.
" Ehem…"
Rhesa segera sadar apa yang telah dilakukannya tadi. " Minumannya kakak taruh sini ya." Rhesa meletakkan minuman itu di atas meja dan Pelangi kembali mengerjakan tugasnya.
Raina tahu jika ada sesuatu antara Kak Rhesa dan Pelangi, tapi mereka tak mau mengakuinya. Rainapun pura-pura tak menyadarai semua dan kembali mengerjakan bagiannya.


Pelangi merasa ada yang aneh pada Raina seharian ini. Dari awal pelajaran sampai pelajaran berakhir, selalu saja mengoceh tentang Kak Rhesa tentang kebaikan Kak Rhesa, kepintaran, bahkan ketampanannya - yang ini diakui oleh Pelangi -. Untung saja waktu sepulang sekolah Pelangi pergi ke perpustakaan. Menurut Pelangi walaupun Raina mengikutinya Raina tak bisa mengoceh banyak tentang Kak Rhesa di perpustakaan.
Tapi bukan Raina namanya jika tak mempunyai akal untuk tetap memamerkan kehebatan kakaknya di depan Pelangi. Bulatan kertas melayang ke arah Pelangi, Raina tersenyum ke arah Pelangi dan menyuruhnya untuk membaca bulatan kertas itu. ` Pelangi, tau nggak sih Kak Rhesa itu pinter banget main gitar dan main piano `. Huft.. apa sih mau Raina itu. Semakin banyak lagi bulatan-bulatan yang melayang ke arah Pelangi. Dari pada ia dimarahi pengurus perpustakaan karena mengotori perpustakaan, lebih baik ia segera keluar dari perpustakaan itu. Raina segera menyusul Pelangi dan berjalan di sampingnya.
" Pelangi Kak Rhesa itu…"
" Stop! Aduh Ra.. kamu itu apa`an sih," potong Pelangi. " Penting nggak sih, cerita-cerita tentang Kak Rhesa terus. Aku kan jadi… ups."
" Apa? Aku kan jadi? Jadi apa jadi keinget terus sama Kak Rhesa, " kata Raina menggoda Pelangi.
Pelangi tersipu malu sehingga Raina semakin gencar menggoda Pelangi.
" Hai, Pelangi."
" Ha..hai." Pelangi terpaku melihat siapa yang menyapanya.
" Ehem.. yang disapa cuma Pelangi nih. Ade`nya yang imut ini nggak dianggep."
" Apa sih Ra? Ayo kita pulang," kata Rhesa.
" Ehm.. Ra.. aku nggak jadi nebeng deh," bisik Pelangi.
" Kenapa nggak jadi? Karna ada Kak Rhesa?" tanya Raina keras-keras, yang disebut namanya menoleh.
" Raina." Bisik Pelangi.
" Ayo, Raina, Pelangi kalian kok jadi bengong gitu."
" Iya, kak." Raina langsung mengamit lengan Pelangi agar Pelangi segera naik ke dalam mobil.
Mobil Rhesa berhenti di sebuah tempat kursus piano. Rainapun turun dan Pelangi mengikutinya.
" Lho Ra.. kamu mau ke mana?" tanya Pelangi.
" Aku mau les. Ngapain kamu ikut turun. Tenang aja Kak Rhesa bakal nganterin kamu pulang kok."
" Tapi Ra…"
" Udah naik cepetan," kata Raina lalu mendorong tubuh Pelangi masuk ke dalam mobil.
" Pelangi ayo masuk, tenang aja. Aku anterin kamu pulang kok," kata Rhesa.
Pelangi menurut dan masuk dari pintu belakang.
" Duduk depan dong. Memangnya aku supir kamu," kata Rhesa sambil tersenyum.
Pelangi menjadi salah tingkah karena ucapan Rhesa. Diapun pindah ke kursi depan. Suasana mobil menjadi hening. Pelangi ingin menghidupkan suasana, tapi ia bingung apa yang harus dikatakannya.
" Ehm… Pelangi.. aku lagi BT banget nih di rumah. Enaknya kita ke mana?" tanya Rhesa memulai pembicaraan.
" Biasanya kalo aku lagi sedih, lagi ada masalah, atau lagi bosen aku ke suatu tempat yang bagus banget. Tempatnya di kota ini kok. Kak Rhesa mau ke sana?" tanya Pelangi.
" Boleh banget. Kamu tunjukin ya."
Pelangi tersenyum.


Tempat yang dimaksud Pelangi adalah sebuah danau lengkap dengan taman bunga yang mengitarinya. Jika danau itu terkena sinar matahari, ada pantulan cahaya yang menyerupai pelangi. Danau itu begitu jernih, sehingga bebatuan di dasar danau itu terlihat. Tempat itu sangat indah tak ada kata yang dapat menggambarkan keindahan tempat itu.
" Tara… ini dia tempatnya," kata Pelangi.
" Wow.. sumpah ini keren banget, Pelangi. Aku nggak nyangka di kota ini ada tempat seindah ini," kata Rhesa, matanya masih terbelalak kagum melihat keindahan taman itu.
Pelangi tersenyum. " Ayo ikut aku, Kak." Pelangi berlari ke pinggir danau dan Rhesa mengikuti. " Kalau Kak Rhesa lagi kesel, coba deh teriak pasti semua kekeselan Kak Rhesa ilang."
" Hooooooiiiiiiiiiiiii."
" Kurang keras, kak. Kayak gini. Hooooooooooiiiiiiiiiii.."
" Wow teriakan kamu keras banget. Aku coba ya. Hooooooooiiiiiiiii." Rhesa tersenyum. " Kamu bener Pelangi. Semua beban aku rasanya terlepas. Makasih banget ya."
" Waktu kecil, aku sering banget ke sini sama orang tuaku. Sekarang kalau aku lagi sedih aku sering ke sini dan teriak sekenceng-kencengnya buat ngilangin semua beban itu." Ada kilatan di sudut mata Pelangi.
Rhesa mengusap dengan lembut air mata yang mulai membasahi pipi Pelangi. " Eh liat deh, itu ada orang jual gelembung sabun. Beli yuk." Tanpa sadar Rhesa menggandeng tangan Pelangi. " Ups.. maaf."
Pelangi tersenyum dan mengikuti Rhesa.
Rhesa membeli dua gelembung sabun dan memberikan satu untuk Pelangi. Pelangi meniupkan gelembung itu ke arah Rhesa. Rhesa membalasnya, tapi Pelangi sudah berlari menjauh. Rhesapun berlari mengejar Pelangi.
Pelangi dan Rhesa terus berkejar-kejaran mengitari danau. Dan mereka berhenti di bawah pohon di pinggir danau.
" Hh..hh.. gila… kamu lari hh.. cepet banget sih," kata Rhesa terengah-engah.
" Ye.. itu sih Kak Rhesa yang lambat," kata Pelangi.
" Ya, mungkin karna lemak yang udah menumpuk ini ya.. " Kata Rhesa sambil bercanda..
Pelangipun membalas dengan senyum..
" Kamu haus?" Tanya Rhesa.
" Yah lumayan."
" Bentar ya, aku beli minum dulu." Rhesa pergi ke tempat penjual minuman. Lalu Rhesa kembali sambil membawa dua botol minuman dingin. " Ini buat kamu..."
" Makasih, Kak."
" Ehm.. jangan panggil kak dong, kita beda berapa tahun sih, paling tiga tahun kan. Panggil Rhesa aja langsung."
" Lho kan Kak Rhesa kakaknya Raina."
" Oh.. jadi kamu anggep aku sebagai kakaknya Raina bukan temen kamu."
" Bukannya gitu, Kak."
" Kalo kamu anggep aku temen kamu, panggil Rhesa aja. Ok?"
" Oke deh. Rhesa"
" Nah gitu dong. Ehm… dari tadi aku di tempat ini, tapi aku belum tau namanya. Apa sih nama tempat ini?"
" Ehm.. sebenernya tempat ini belum ada namanya sih kak eh Rhes."
Rhesa tersenyum. " Ehm… gimana kalo namanya Taman Pelangi?"
" Kok gitu?"
" Ya, soalnya di tempat ini ada dua pelangi, yang hiasin hari aku."
Pelangi menatap Rhesa heran.
" Ya dua pelangi. Pelangi di danau itu dan kamu." Kata Rhesa sambil memandangi Pelangi dengan penuh senyuman..


Semenjak kejadian di Taman Pelangi, Rhesa dan Pelangi semakin dekat. Dan merekapun juga sering ke Taman Pelangi. Taman Pelanginya kini terasa begitu lengkap karena ada pangeran yang selama ini diimpikannya, yaitu Rhesa. Pelangi begitu bahagia saat berada di dekat Rhesa. Tatapan mata Rhesa yang lembut itu begitu dirindunya.
" Whoy… nglamunin Kak Rhesa ya," suara khas Raina yang manja mengagetkan Pelangi.
" Apa`an sih, Ra. Aku nggak nglamunin Rhesa kok." Pelangi memperhatikan ekspresi Raina yang lain dari biasanya. " Kamu kenapa, Ra? Kayaknya seneng banget."
" Jelas dong. Aku seneng banget mulai kemaren Kak Rhesa udah punya waktu buat aku. Biasanya waktunya diabisin buat kamu sama penelitiannya itu," kata Raina pura-pura kesal.
" Yah, maaf deh kalo Rhesa sering pergi sama aku."
" He..he..he.. kalo pergi sama kamu sih bodo, aku malah seneng. Yang bikin waktunya habis itu masalah penelitiannya. Syukur sekarang penelitiannya udah selese."
" Penelitian? Penelitian apa Ra, Rhesa kok nggak pernah cerita."
" Ih.. keterlaluan banget sih Kak Rhesa, masa kamu nggak dikasih tau tentang kesehariannya. Itu lho Kak Rhesa ada tugas penelitian tentang ehm.. kalo nggak salah kehidupan pedagang asongan, ya gitu deh biasa anak kuliahan."
" Kehidupan pedagang asongan?"
" Yap.. Kehidupan pedagang asongan. Tau dapet ide….." Raina masih mengoceh tentang penelitian Rhesa, tetapi Pelangi tak mendengarkannya.
Pikiran Pelangi melayang. Penelitian Rhesa tentang kehidupan pedagang asongan dan dirinya adalah pedagang asongan. Jadi selama ini dirinya hanya dibuat bahan penelitian. Dia sama sekali tak menyangka, Rhesa yang selama ini dianggapnya sebagai orang yang baik dan tulus, tega menjadikannya sebagai obyek penelitian.
" Pelangi… hey.. kamu dengerin aku nggak sih?"
" Ra.. bilang sama kakakmu itu. Udah cukup kebohongannya selama ini." Pelangi beranjak pergi lalu menoleh pada Raina " Oh ya satu lagi Ra? Bilang sama dia makasih buat semuanya."
" Pelangi… apa maksudmu aku nggak ngerti… Pelangi."
Pelangi berjalan dan terus berjalan tujuannya hanya satu. Taman Pelangi. Ia ingin meluapkan segala kekesalannya di sana.
" Argh….. kamu jahat Rhes. Aku nggak nyangka kamu bisa setega itu sama aku. Aku benci sama kamu." Air mata Pelangi mulai meleleh, tapi ia tak peduli. " Bodoh banget aku nyangka kamu punya perasaan yang sama kayak aku. Aku benci sama kamu."
Tanpa Pelangi sadari Rhesa sudah berdiri di belakangnya.
" Pelangi… aku tau kamu pasti di sini." kata Rhesa.
" Puas kamu. Puas kamu liat aku nangis di sini karna kamu. Tulis semua itu di penelitian kamu. Tulis bahwa ada seorang gadis pedagang asongan bodoh yang percaya ada seseorang yang tulus sayang sama dia. Tulis… tulis semua kebodohanku."
" Pelangi kamu nggak ngerti, aku nggak pernah jadi`in kamu bahan penelitian."
" BOHONG!! Aku nggak percaya. Aku nggak mau lagi jadi orang bodoh yang percaya sama ketulusan orang kayak kamu."
" Pelangi…"
Pelangi menutup kedua telinganya. " Udah cukup Rhes, cukup! Aku nggak mau liat kamu lagi. Jangan pernah ganggu aku lagi!"
Pelangipun pergi meninggalkan Rhesa sendiri. Mata hatinya seakan tertutup untuk melihat sinar ketulusan dari sepasang mata itu. Sepasang mata milik Rhesa.
Selembar surat tanpa nama tergeletak di teras rumah Pelangi. Tanpa perlu Pelangi membukanya, ia sudah tahu surat itu pasti dari Rhesa. Pelangi ingin membuang surat itu, tapi ada dorongan dalam hatinya yang memaksanya untuk membaca surat itu.
Ku tak ingin lagi melihat air matamu
Air mata yang mengalir dari mata indahmu
Air mata yang mengalir karnaku
Karna semua kebodohanku
Andai ku bisa hapus sgala lukamu
Andai ku bisa buatmu kembali tersenyum
Ku kan lakukan sgalanya untukmu
Ku kan pergi
Jika itu yang kau ingini
Ku kan pergi
Dan tak kan pernah kembali
Tapi kau harus mengerti
Kau kan slalu di hati
Dan takkan pernah terganti
Ps: Pelangi aku mohon temui aku di Taman Pelangi. Aku janji ini pertemuan terakhir kita. Aku akan selalu menunggu.
Love
Rhesa Aldo Alana
Sebuah tangan menyentuh pundak Pelangi dan membuyarkan semua lamunannya akan Rhesa.
" Pelangi… maafin aku, aku tau kamu nggak salah. Kamu nggak usah terlalu menyalahkan diri kamu. Kamu nggak tau kan kalau Kak Rhesa lagi sakit."
" Kamu bener Ra. Seandainya dulu aku dengerin semua alasan Rhesa, aku bisa dampingin Rhesa di saat-saat terakhirnya. Dan bukannya seperti saat ini, aku baru tau Rhesa udah meninggal bertahun-tahun setelah kematianya. Apalagi pertemuan terakhirku dengan Rhesa adalah sebuah pertengkaran."
" Sudahlah Pelangi. Ayo kita pulang."
"Makasih Ra, tapi aku masih pengen disini dulu.."
Setetes air mata mulai membasahi pipi Pelangi. Pelangi meremas surat terakhir Rhesa yang sampai sekarang masih disimpannya. Andaikan saja dulu Pelangi mau menemui Rhesa. Andaikan saja dulu ia tidak pergi. Pelangi sadar penyesalan selalu datang terlambat. Waktu takkan bisa diputar untuk kembali ke masa yang tlah lalu. Masa saat dirinya dan cinta pertamanya bertemu.. andai waktu dapat ku putar kembali.

Who are my love ?

Awalnya hati ini hanya untuk Bagas seorang, hanya dialah yang menghiasi malam indahku dengan semua khayalan indah bersamanya. Tapi semenjak Hendra datang, semuanya berubah. Hendra juga menghiasi malam-malam indahku bersama Bagas. Ya kini selalu ada mereka berdua di hatiku.
Terserah kalian mau menganggap aku apa, tapi kenyataan itulah yang kualami. Padahal Bagas dan Hendra sangat jauh berbeda. Bagas adalah lelaki yang ehm…. lumayan tampan, dan Hendra lelaki yang ( maaf ) dengan wajah yang jauh berbeda dengan Bagas. Untuk sifat Hendra lebih baik daripada Bagas.
Tapi cara mereka memperlakukan aku sama. Pertama, mereka menunjukkan jika mereka menyukaiku. Setelah aku mulai menunjukan jika aku juga suka pada mereka, apa yang mereka lakukan mereka malah dengan cueknya pergi seakan-akan mereka tak pernah mengenalku.
Dua-duanya sama-sama pernah membuat hidupku hancur. Entah sudah berapa liter air mata ini menetes untuk mereka. Entah sudah berapa kali nilai ulanganku jatuh karna mereka. Entah sudah berapa kali aku kepergok melamunkan mereka oleh teman-temanku. Entah sudah berapa banyak kertas yang terbuang sia-sia untuk menuliskan nama mereka.
Ya mereka berdua tak ada yang mendominasi, semuanya rata. Aku betul-betul bingung.
Untungnya sekarang Hendra tak menjauhiku lagi. Itu yang membuatku yakin jika dia tak memiliki perasaan yang sama denganku. Walaupun begitu, entah mengapa ada sesuatu yang aneh dari cara dia memperlakukan aku sangat berbeda dengan cara dia memperlakukan orang lain. Rasanya seperti ada jarak antara aku dan dia.
Dan Bagas… entah kata apa yang pantas untuk melukiskan sikapnya padaku. Entah dia kini menganggapku sebagai apa kawan atau lawan. Dia sepertinya begitu tak ingin melihatku. Aku itu bagaikan virus yang mematikan yang membuat dia mati jika sampai melihatku. Padahal kami dulu adalah sahabat. Dia berubah semenjak dia tahu jikaku mempunyai rasa padanya.
Bagas maupun Hendra, keduanya sama-sama special di hatiku. Aku tak bisa memilih salah satu dari mereka. Jika aku di beri kesempatan untuk memilih oleh dewa cinta siapa orang yang sebenarnya berhak aku cintai. Sungguh aku lebih memilih Satria daripada mereka. Karna Satria mencintaiku dengan tulus. Namun dewa cinta tak sedikitpun memberi kesempatan pada Satria. Dia malah memberiku rasa cinta pada dua orang yang jelas-jelas tak mempunyai rasa padaku.
Aku tak tahu kenapa…. rasa sayangku pada Bagas tak bisa lenyap sedikitpun. Padahal aku dan dia jarang sekali bertemu, tidak seperti aku dan Hendra yang setiap hari bertemu dan ngobrol, karena tempat dudukku dengan Hendra berdekatan. Mereka berdua sungguh-sungguh membuatku bingung.
Pagi ini aku begitu bersemangat berangkat. Di sekolah Rita dan Dina langsung menuju ke arahku.
“ Tya…. Happy birthday. Wah, Din kita dapat traktiran nih,” cuap Rita dengan suara manjanya yang khas.
“ Selamat ulang tahun ya. Ini buat kamu dari kita berdua,” kata Dina.
“ Thanks ya. Aku aja lupa kalau sekarang ulang tahunku.”
“ Buka dong.” kata Rita dan Dina serempak.
Aku merasa aneh, bagaimana bisa aku melupakan hari pentingku ini. Untung kedua sahabatku ini mengingatnya. Dengan semangat ku buka kado pemberian mereka. Astaga.. ini kan boneka Hello Kitty yang selama ini aku inginkan. Mereka memang sahabat terbaikku.
Aku bergegas menaruh jaketku di dalam laci mejaku. Ada sesuatu di laci mejaku. Ternyata ada dua buah surat yang berwarna pink dengan aroma jasmine. Dan siapa pengirimnya….. yup Bagas dan Hendra. Aku tak tahu apa mereka janjian atau apa, isi surat mereka sama. Intinya mereka mengucapkan selamat ulang tahun dan… oh Tuhan aku tak percaya mereka menyatakan cintanya padaku. Jika salah satu dari mereka yang mengatakan itu aku mungkin bisa menjawab dan menghilangkan perasaanku pada yang lainnya. Tapi ini keduanya, aku sama sekali tak bisa memilih satu diantara mereka.
Di kelas aku tak seperti biasanya, aku lebih diam dan menghindari bertatap muka dengan Hendra. Aku ingin menghindari agar kami tak bertemu pandang, karna akan semakin menyulitkanku tuk memilih.
Saat pulang aku ingin cepat-cepat sampai di tempat biasa aku menunggu angkot, tapi aku kalah cepat. Hendra dan Bagas keburu menghalangi jalanku tuk meminta jawaban. Jujur… aku sangat bingunng. Aku ingin segera menaiki angkot yang sudah tersedia untuk menghindari mereka, tapi aku sadar mereka akan terus mengejarku. Aku memutar otak untuk memilih kata-kata yang tepat yang agar bisa terlepas dari mereka berdua.
“ Ehm… Bagas.. Hendra.. Please, aku jawab besok aja ya. Jujur aku bingung aku harus milih siapa. Kalian sama-sama special.. Please, kasih aku waktu.”
“ Okey… besok kita berdua tunggu jawabanmu,” kata Bagas dan Hendra serempak.
Fiuh.. akhirnya mereka mengizinkanku untuk naik angkot itu. Tapi ada yang janggal dari mereka berdua. Mengapa mereka begitu kompak dan tak ada sedikitpun aura persaingan antara mereka. Padahal mereka sama menyatakan cinta kepadaku. Aneh… benar-benar aneh…
Perlahan semuanya menjadi kabur lalu menjadi gelap. Kemudian cahaya muncul perlahan diiringi sayup-sayup suara yang ku kenal. Lho inikan di kamarku, dan suara itu adalah suara alarm di hpku. Ku ambil hpku. Pukul lima, sudah saatnya ke sekolah. Untung itu semua hanya mimpi, jika semua itu kenyataan aku sungguh tak tau aku harus bagaimana.
Sesampainya di sekolah, kedua sahabatku langsung menghamipiriku. Ada yang aneh dengan tingkah mereka.
“ Tya…. Happy birthday. Wah, Din kita dapat traktiran nih,” cuap Rita dengan suara manjanya yang khas.
“ Selamat ulang tahun ya. Ini buat kamu dari kita berdua,” kata Dina.
Astaga ini hari ulang tahunku. Mengapa sepertinya ucapan mereka sepertinya pernah terjadi. Aku langsung membuka kado dari mereka. Oh tidak.. Boneka Hello Kitty. Jangan-jangan…
“ Tya.. Tya.. kamu mau ke mana?” tanya Rita heran.
“ Aku ke kelas dulu ya..”
Tujuan pertamaku adalah laci mejaku. Apakah dugaanku benar. Dengan segera aku meraba laci mejaku. Oh tidak.. apa ini. Dua buah surat berwarna pink beraroma jasmine. Perlahan semua menjadi kabur lalu menjadi gelap.

Air

Matahari bersinar begitu semangatnya, sehingga membuat hari ini sangat panas. Tapi tak mempengaruhi Doni dan Dino untuk berhenti bermain. Dua bocah kembar itu memang suka bermain sepeda mengelilingi kampung dan mencari kubangan lumpur untuk mengotori sepeda mereka lalu mereka akan mencuci sepeda sembari bermain-main air.
" Dino… kena kau," kata Doni sambil menyemprot selang ke arah Dino. Dinopun membalasnya. Dan mereka saling semprot-menyemprot.
" Lho… kok mati airnya? " tanya Dino heran. Dino menuju ke arah kran dan berkata," Ada yang mati`in kak? Siapa ya? " tanya Dino. " Ih…. Kak Santi jail, kok di mati`in sich?". Lalu dia menyalakan kran dan menyemprotku.
" Dino… apa`an sich… jangan gini dong. Kalian itu dari tadi main air terus. Kalau sudah nyuci sepeda ya sudah jangan di teruskan kan mubadzir airnya," kataku menasehati kedua adik kembarku. " Kalian itu inget dong sama sodara-sodara kita yang kekurangan air bersih, kalian harus bersyukur tapi jangan boros makainya. Kalau kalian yang kekurangan air bersih gimana?"
" Biarin aja, kan asyik main air. Seru… ," kata Doni menimpali." Sodara dari mana kenal aja nggak. Lagian kita kan nggak kekurangan air."
Aku hanya bisa menggelengkan kepala jika melihat tingkah kedua anak kembar itu, susah sekali untuk mendengarkan nasehat orang lain. Tanpa mempedulikan mulutku yang berbusa, mereka malah asyik melanjutkan permainan mereka. Bagaimana caranya agar mereka mengerti akan pentingnya berhemat air.
Malamnya, saat makan bersama ibu menasehati Dino dan Doni agar tidak mencuci sepeda sambil bermain air. Aku bingung dari mana ibu tahu jika Dino dan Doni sering bermain air, padahal aku tidak melaporkannya pada ibu. Pasti Dino dan Doni menuduhku yang melapor.
Betul saja dugaanku Dino dan Doni menuduhku melaporkan mereka, dan mereka marah padaku. Mereka berkata mereka tidak akan berbicara lagi denganku. Dasar anak kecil sifat gondoknya keluar. Paling-paling besok sudah balik lagi.
Esoknya Sang Surya kembali bersinar terik, bahkan lebih terik dari biasanya. Ternyata acara marah-marahan adik kembarku tidak cepat usai buktinya pagi ini saat aku membangunkan mereka, mereka masih marah padaku.
" Kak Santi…. Kak…." Panggil Doni dan Dino. Tuh kan benar dugaanku mereka tak akan betah marah padaku.
" Kenapa sich pake teriak-teriak segala… pelan-pelan kan kakak juga udah denger," kataku sambil tersenyum. " Kalo ngomong sama kakak harus teriak. Kak… Kakak ya yang mati`in airnya, ayo nyala`in kita mau sekolah nih," kata Dino.
" Kurang kerja`an banget kakak mati`in air pagi-pagi gini." kataku. " Jadi bukan kakak yang mati`in trus siapa," tanya Doni dan Dino bersamaan.
Ternyata penyebab matinya air di rumah kami adalah bocornya pipa PDAM dan sekarang masih dalam perbaikan. Untung saja kami masih tinggal di wilayah pedesaan jadi kami masih mempunyai sumur untuk persediaan air bersih. Tapi berhubung saat ini musim kemarau, sumur itu sangat dalam.
Ayah dan ibu menyuruh Doni dan Dino menimba air sepulang sekolah. Lucu juga melihat mereka berjalan gontai membawa timba berisi air yang berat. Dua bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu tak lagi bermain-main sepeda, tapi rutinitas mereka sekarang adalah menimba air.
Sekarang dua bocah itu lebih cerewet dari aku masalah penghematan air. Contohnya siang tadi saat aku mencuci piring. Mereka mengatakan jangan terlalu banyak menggunakan air nanti keperluan yang lain tidak terpenuhi. Aku hampir tertawa mendengar nasehat itu. Aku tak percaya kata-kata itu muncul dari mulut mungil kedua adikku.
Untung saja matinya air tidak berlangsung lama. Karena sore ini air sudah keluar lagi. Jadi aku dan kedua adik kembarku tak perlu bersusah payah menimba air lagi untuk keperluan sehari-hari.
" Kak.. ternyata kalau nggak ada air kita jadi susah ya," kata Doni. " Iya nggak ada air sehari aja rasanya nggak enak banget, " Dino menimpali.
" Tuh kan bener apa kata kakak, kalian harus hemat air. Kalian boleh main-main air tapi jangan terlalu sering. Gimana kalau minggu ini kita berenang supaya kalian bisa puas main airnya? " tawarku.
" Beneran kak??? Kita mau banget. Mulai sekarang kita janji nggak akan boros air lagi," kata si kembar kompak dan langsung memelukku.
Terima kasih Tuhan Kau telah mengabulkan doaku. Kau telah menyadarkan kedua adikku dan Kau buat kedua adikku menjadi lebih dewasa. Sekali lagi terima kasih Tuhan.

Adilkah ini ?

" Anak-anak karena sebentar lagi ujian akan datang. Ada bab-bab yang kalian belum mengerti ?" tanya Pak Andri, guru matematikaku.
" Saya masih belum mengerti masalah Persamaan Garis Lurus,pak?"
" Ya, begini saya jelaskan lagi…."
Semua murid kelas 9F mendengarkan penjelasan dari Pak Andri. Tapi, pagi ini aku kembali melihat Doni, saudara kembarku tidur dengan santainya, tanpa menyimak pelajaran yang diberikan Pak Andri Aku heran melihat dia padahal ujian kurang seminggu lagi. Aku tak yakin dia bisa mengerjakan soal-soal latihan yang akan diberikan oleh Pak Andri.
" Don, Doni bangun dong. Nanti ketauan Pak Andri lho!"
" Apa`an sich, kalo kamu nggak nglapor ya nggak bakalan ketauan."
" Tapi kamu `kan nggak nyimak pelajaran nanti kalo waktu ujian nggak bisa gimana ?"
" Alah… aku kan bisa nyontek kamu waktu ujian."
Dasar Doni, sebenarnya aku kasihan juga pada dia. Bagaimana jika ujian nanti dia tidak lulus gara-gara nilai matematikanya jelek. Tapi dia sendiri malah acuh tak acuh. Aku tak habis pikir bagaimana bisa dia menghadapi ujian minggu depan tanpa persiapan. Padahal aku yang mendapat juara dua pada Olimpiade matematika saja belajar. Daripada aku bingung memikirkan Doni, lebih baik aku belajar untuk persiapan ujian.
" Dona, kamu belum tidur sayang ?"
" Eh Mama, iya ma Dona masih belajar. Takut ujian nanti nggak bisa."
" Ya ampun kamu sama Doni itu beda sekali ya. Sudah sana kamu tidur dulu, setiap hari `kan kamu belajar pasti bisa. Sudah tidur nanti kamu kelelahan."
" Baik ma."
Saat yang mendebarkan pun tiba, ujian dimulai untung saja aku berhasil mengerjakan soal-soal dengan mudah. Berbeda dengan Doni dia berulang kali bertanya padaku tentang soal-soal yang tidak bisa dijawabnya. Dan aku yakin aku pasti lulus. Tapi aku harus menunggu satu bulan lagi untuk mengetahui hasil ujian itu.
Hari-hari kulalui dengan penuh keyakinan bahwa pasti lulus ujian nasional. Karena selama ini aku belajar dengan tekun dan pelajaran yang awalnya aku tidak bisa pada waktu ujian kemarin dengan mudahnya aku berhasil lulus.Pada saat tour untuk perpisahan teman-temanku juga mengatakan bahwa aku pasti lulus.
Hari ini adalah hari yang kutunggu-tunggu karena hari ini adalah pengumuman kelulusan. Hatiku berdebar-debar kira-kira aku lulus atau tidak. Rasanya waktu ingin segera kuputar agar aku bisa segera mengetahui hasil ujian itu. Saking tergesa-gesanya aku hampir lupa sarapan dan berpamitan pada orang tuaku.
" Dona, sarapan dulu. Lagi pula Doni masih sarapan kamu kan berangkat dengan Doni," kata Mama.
" Iya kamu kan juga belum pamit sama Papa dan Mama," ingat Papa.
" Tau nich, kenapa sih buru-buru. Yakin banget kalo lulus, kalo nggak?"ceplos Doni.
" Doni, apa`an sich kamu. Kayaknya kamu doa`in kalo aku nggak lulus?" bentakku.
" Aku nggak doa`in `kan siapa tahu?" jawab Doni.
" Sudah-sudah kalian berdua sekarang sarapan terus berangkat!" nasehat Mama
" Baik ma."
Tiba-tiba aku merasa menjadi tidak tenang karena memikirkan kata-kata Doni. Benar juga jika aku tidak lulus bagaimana. Berbagai pertanyaan muncul di benakku. Sampai-sampai aku tidak sadar jika mobilku sudah berada di depan gerbang sekolah.
" Don, ayo turun nglamun aja dari tadi," tegur Doni.
Ternyata teman-temanku sudah berkumpul di depan aula melihat pengumuman kelulusan. Kata Linda di sekolahku hanya ada satu orang yang tidak lulus. Untung saja cuma satu jadi aku bisa menepis dugaan-dugaan yang merusak pikiranku. Aku segera menerobos kerumunan itu untuk melihat nilai ujianku. Dona Amalia : Bahasa Inggris: 9.8, Bahasa Indonesia: 10, IPA: 9.5, dan Matematika……. Ini tak mungkin, ini benar-benar sangat tidak mungkin. Nilai matematikaku…. 3.00 itu berarti aku adalah satu-satunya siswa yang tidak lulus di sekolahku. Dan yang lebih membuatku tak percaya aku tidak lulus karena nilai matematikaku di bawah standart.
Seorang yang mendapat juara dua pada olimpiade matematika tingkat Jawa Timur tidak lulus karena nilai matematika di bawah standart. Bisa-bisa ini menjadi headline koran besok. Ya Allah adilkah ini. Aku yang belajar mati-matian selama setahun ini tidak lulus sedangkan Doni yang begitu santainya menghadapi ujian lulus dengan nilai yang lumayan baik. Apa gunanya aku bekerja keras selama ini, begadang setiap malam, itu semua sangat membuang-buang waktu dan tenaga karena tanpa ada hasil yang memuaskan.
Tanpa terasa aku sudah berada di tengah jalan dan aku tak melihat jika ada sebuah mobil yang sedang melaju. Dan….. tiba-tiba semua terasa gelap, aku tak sadarkan diri. Saat aku membuka kedua mataku aku melihat ada Mama, Papa, dan……. Doni.
" Doni, ini semua gara-gara kamu. Kamu nyontek aku terus waktu ujian matematika jadinya aku nggak konsen. Kamu harus tanggung jawab Don."
Aku melihat ada raut muka bersalah dari wajah Doni. Tapi aku tak peduli aku sudah sangat kesal padanya.
" Dona, sudahlah. Kamu tidak usah menyalahkan Doni terus. Ini semua adalah jalan yang sudah Allah gariskan padamu."
" Tapi ini nggak adil, Ma. Dona udah belajar mati-matian, tapi hasilnya apa? Sedangkan Doni, tinggal nyontek aja bisa lulus. Kalo gitu caranya medingan dulu waktu mau ujian Dona nggak akan belajar tapi main terus."
" Maafin aku, Don. Aku tahu ini semua nggak adil buat kamu, tapi aku yakin ini adalah jalan yang terbaik buat kamu."
" Ya, iyalah kamu bisa ngomong gitu orang kamu nggak ngalamin itu. Kamu nggak belajar mati-matian dan kamu lulus. Udah dech aku sekarang lagi pengen sendiri."
Saat ini, hatiku sangat hancur. Sempat terfikir untuk bunuh diri, tapi tidak kulakukan karena aku sekarang sudah dianggap bodoh dan aku tak mau gelar baru menempel padaku yaitu pecundang. Aku tak mau disebut sudah bodoh, jadi pecundang lagi. Tapi aku bingung apa yang harus kulakukan esok nanti. Masa depan yang kurancang hancur berantakan semua. Aku tak mungkin bisa masuk SMA negri yang kuinginkan. Dan apakah aku bisa mencapai cita-citaku untuk menjadi Dokter.
Tiba-tiba terlintas sebuah ide cemerlang dalam benakku dan harus kulakukan sekarang. Segera saja aku mengambil air Wudlu dan melasanakan Shalat. Selesai Shalat semua perasaan yang berkecamuk di benakku hilang sudah. Walaupun rasa kecewa masih tersisa, tapi aku mulai sadar jika Allah itu Maha Adil. Dan aku yakin pasti ada rencanaNya yang lebih baik dari lulus Ujian yang dibuatNya untukku. Aku yakin itu.