Sang Malam bertemankan bintang dan bulan. Sang Siang bertemankan mentari. Burung-burung bernyanyi dengan riangnya. Tapi mengapa saat ini aku di sini sendiri tanpa menikmati indahnya semua itu. Ini semua karena dia, lelaki yang selama ini menghiasi setiap malam di tidurku.
Pertama kali waktuku melihatnya semua tampak biasa saja. Tapi dia selalu memperhatikan tingkah lakuku. Dia adalah Yuda, seorang lelaki yang cuek, tapi memiliki daya tarik tersendiri. Segala tingkah lakunya membuatku penasaran.
Semua berawal dari perlombaan di bulan Agustus. Aku menjadi salah satu panitia perlombaan dan diapun begitu. Peribahasa ` witing trisno jalaran kulino ` berlaku di situ. Semua panitia seakan disiapkan untuk mendapat pasangan masing-masing. Hanya tiga orang yang tidak mendapat pasangan itupun karna mereka sudah punya pasangan sendiri-sendiri.
Cinta dipasangkan dengan Indra, Nisa dengan Rizal, dan aku mendapat sisanya yaitu Yuda. Awalnya aku jarang sekali bertemu dengan Yuda karena pada saat dia datang rapat aku tak datang begitu pula sebaliknya. Tapi saat panitia memutuskan untuk menampilkan paduan suara untuk mengisi acara tasyakuran, frekwensi bertemu kami semakin sering. Sampai bulan Agustuspun tiba. Kami semakin sibuk mengurusi berbagai macam lomba.
Ada kejadian lucu pada waktu lomba futsal. Indra satu tim dengan Cinta. Nisa satu tim dengan Rizal. Ini semua aku yang mengatur. Dan untung saja saat itu Yuda tidak ikut, jadi aku tidak satu tim dengannya. Nah, pada saat Indra berhasil memberikan satu gol untuk timnya, tiba - tiba tanpa segaja Indra dan Cinta melakukan toast. Dan toast itu yang membuat Cinta senang sekali.
Kami semua memang berniat membuat Cinta dan Indra menjadi sepasang kekasih. Karena kami tahu mereka berdua saling mencintai. Tapi ada hal yang membuat Cinta bersedih. Tiba-tiba tanpa sebab musabab yang pasti Nisa mendekati Indra, mengiriminya berbagai macam puisi yang indah. Katanya sih dia ingin mencomblangkan Cinta dan Indra, tapi Cinta takut Indra malah mencintai Nisa.
Bagi Cinta hari-hari latihan penuh dengan kecemburuan, tapi entah mengapa Nisa tak pernah sadar akan hal itu. Sedangkan bagiku, hari-hari latihan penuh dengan tanda tanya, dan kebingungan. Karena aku memikirkan dua orang sekaligus Bagas, teman sekolahku dan Yuda. Pada awalnya yang ada di hatiku hanyalah Bagas. Tapi setelah teman-temanku mencomblang aku dengan Yuda dan Yuda mempunyai banyak kesamaan dengan Bagas ,aku mulai mempunyai rasa pada Yuda.
Pada suatu latihan, aku melakukan hal yang sangat amat bodoh. Pada saat itu Yuda sedang tidak bisa bernyanyi karena suaranya sedang serak.
“ Cin, kok Bag.. ups, Cin, kok Yuda nggak nyanyi,” bisikku.
“ Apa??? Bagas ???” ledek Cinta.
“ Bukan…. tapi Yuda,” jawabku.
“ Oh… Yuda, kan suaranya lagi serak non,” kata Cinta.
Betapa malunya kau saat itu, mulai hari itu teman-temanku semakin gencar meledekku dengan Yuda. Mereka mengira aku memanggil Yuda dengan sebutan Bagas agar tak ada yang tahu. Padahal di sebuah tempat memang benar ada orang yang bernama Bagas yang telah mengisi hatiku bersama Yuda. Namun akhirnya pilihanku pun jatuh pada Yuda.
Malam tasyakuranpun akhirnya tiba. Aku dan Yuda sering mencuri-curi pandang, pada saat doa, sambutan, dan pada saat pembagian hadiah. Tak terasa sudah waktunya kami untuk tampil. Aku begitu kaget, ketika Yuda tiba-tiba berdiri disampingku, dan dia memengangi mikenya untuk kami berdua. Oh Tuhan…. hati ini senang… sekali. Tapi aku tak ingin terlalu percaya diri. Aku berusaha menganggap semua itu biasa saja, namun tetap saja tak bisa.
Ternyata kebahagiaan itu tak hanya milikku seorang. Indra menyatakan cintanya pada Cinta. Dan pada saat hari kemerdekaan mereka resmi menjadi pasangan kekasih. Kebahagiaan ternyata masih berpihak padaku. Pada saat Yuda dan bandnya tampil pada suatu acara, Yuda bernyanyi sambil mencuri pandang padaku. Dan ada hal yang membuatku semakin tak bisa melupakannya. Saat di tengah-tengah lagu tiba-tiba dia menoleh padaku, akupun tersenyum padanya dan dia membalas senyuman itu dengan senyumannya yang amat manis. Senyuman itu membuatku semakin yakin jika Yuda menyukaiku. Entah mengapa aku meyakini semua itu, walaupun disisi lain aku tak ingin terlalu percaya diri.
Teman-temanku semakin gencar mencomblangkan aku dengan Yuda, terutama Aya. Aku tak tahu mengapa dia begitu bersemangat mencomblangkan aku dengan Yuda sampai-sampai dia mengorek-ngorek informasi tentang Yuda. Perkataan teman-temanku tentang tingkah laku Yuda terhadapku semakin membuatku GR. Mereka mengatakan jika Yuda sepertinya menyukaiku. Aku sangat senang karena akupun menyukainya.
Hingga suatu saat ada perkataan Yuda yang membuat hidupku hancur. Waktu itu Aya dan aku sedang mengobrol tiba-tiba Yuda lewat dan Aya memanggilnya.
“ Yuda sini. Ayo sini,” panggil Aya.
“ Kenapa ?” tanya Yuda.
“ Aku mau tanya, siapa anak sini yang kamu sukai ?” tanya Aya.
“ Ha ??? Aku sudah punya pacar,” jawab Yuda enteng.
Kata-kata Yuda yang terakhir bagai petir di siang bolong. Petir itu menyambarku dan mengangkut separuh dari nyawaku. Karena kata-kata itu hidupku hancur. Apa yang kukerjakan selalu saja salah. Aku bagaikan seorang mayat hidup, yang melakukan pekerjaan tanpa tahu maksud dan tujuannya. Tapi aku berusaha untuk bangkit, dan mengambil segi positif dari semua itu.
Bulan Ramadhan telah datang, aku mengirimkan ucapan selamat berpuasa pada semua teman-temanku. Banyak yang membalas dan ada beberapa orang yang tidak membalas smsku termasuk Yuda. Aku berpikir mungkin dia tak tahu nomor handphoneku. Tapi saat Cinta sms dia dan dia juga tak tahu nomor handphone Cinta, dia bertanya ini nomor siapa.
Aku merasa dia menjauhiku, dia seperti tak menganggapku ada. Ada apa ini???? Apa maksudnya???? Buat apa selama ini dia menunjukkan tanda-tanda jika dia suka padaku????
Kini aku sadar semua kisah yang kualami hanyalah sebuah kisah cinta di bulan Agustus. Dengan berakhirnya bulan Agustus, berakhir pula kisah cinta ini. Dan kini aku benar-benar sendiri, tanpa seorangpun yang mau menemaniku.
aku suka banget nulis, makanya aku bikin blog ini supaya kalian semua bisa baca karya-karyaku
Minggu, 09 November 2008
HANYALAH SEBUAH ANGAN
Hujan yang kemarin malam mengguyur kota Surabaya menyisakan kesunyian di mana-mana. Sang Surya masih bersembunyi dibalik kelamnya Sang Mega. Embun pagi menetes dari dedaunan pohon cemara. Burung - burung kecil bersenandung dengan riangnya. Awal pagi yang begitu indah tapi ini tak menjamin masa selanjutnya seperti perawalannya.
“ Indah…. Indah….. bangun Nak. Ayo shalat Subuh dulu,” kata Ibu.
“ Hoah…. Baik, Bu,” jawabku.
Tanpa menunggu perintah kedua dari Ibu aku segera bergegas menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu dan segera shalat Subuh. Setelah sarapan teman-temanku menyusulku
untuk segera pergi bekerja. Memang semenjak Ayah meninggal aku berhenti dari sekolah dan
menjadi tulang punggung keluarga karena Ibu sakit-sakitan.
“ Ndah, jangan lupa ya. Kalau sudah selesai mengantarkan koran, kamu antre minyak tanah di pangkalan minyaknya bang Rois. Tadi katanya stok minyak udah dikirim. Oh ya ini uangnya,” kata Ibu.
“ Iya Bu. Indah berangkat dulu ya. Assalamualaikum.”
“ Waalaikumsalam.”
Segara kukayuh sepedaku menuju ke kios milik Pak Andi. Sudah dua tahunan aku bekerja sebagai loper koran di kios Pak Andi. Pak Andi adalah salah satu orang kaya yang tak pernah merendahkan saudara-saudaranya yang berada di bawah. Sambil menunggu Pak Andi aku membaca headline koran hari ini. Di sana tertulis besar-besar “Harga Kebutuhan Pokok Naik Lagi”. Ya Allah harga kebutuhan pokok naik lagi akibat rencana kenaikan BBM. Harga BBM belum naik saja harga kebutuhan pokok sudah naik, bagaimana jika harga BBM naik. Berapa kali lipat lagi harga kebutuhan pokok harus naik.
Apa sih yang dipikirkan oleh Petinggi negara ini? Jelas-jelas ini tak adil bagi kami, para Petinggi negara hidup berkelimpangan harta. Sedangkan kami rakyat kecil hidup bertemankan kemiskinan.
Tiba-tiba Pak Andi datang dengan membawa setumpuk koran yang harus aku antar ke para Pelanggan.
“ Indah, ini koran-korannya hati-hati di jalan ya. Oh ya hari senin ini kamu bisa ambil gaji kamu pada saya.”
“ Terima kasih, Pak.”
“ Sama-sama ya sudah kamu berangkat sana nanti orang - orang nungguin kamu.”
“ Assalamuailaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Di jalan A.Yani lagi-lagi aku melihat kesenjangan sosial yang begitu nampak antara Si Kaya dan Si Miskin, tapi aku tak bisa merubah semua ketidakadilan ini. Yang kaya selalu dianak emaskan sedangkan yang miskin selalu dianak tirikan. Kapankah ketidakadilan ini akan berakhir?
Saat ini aku memasuki kawasan perumahan menengah keatas. Semua pelangganku di sini sangat baik padaku. Mereka tak pernah merendahkanku walaupun aku hanya seorang loper koran. Bahkan pada waktu lebaran kemarin ada beberapa pelangganku yang memberiku baju lebaran.
Tak terasa semua koran yang aku bawa sudah sampai ke rumah pelanggan. Segera saja kukayuh sepedaku menuju pangkalan minyak milik bang Rois, karena aku tak ingin antrean semakin panjang. Dugaanku tepat 100 persen, antrean minyaknya sudah sangat panjang. Dengan enggan aku mengantre hanya demi beberapa liter minyak, sangat tak sebanding dengan perjuangan untuk mendapatkannya. Tapi sekali lagi aku tak bisa berbuat apa-apa untuk merubah semua ketidakadilan ini. Kalau aku tak mengantre makan apa keluargaku hari ini. Menyedihkan ya, memang hidup ini sangat menyedihkan.
Aku tahu pasti semua kebutuhan para Petinggi negara telah tersedia. Tidak seperti aku saat ini yang kepanasan untuk mendapatkan minyak tanah. Pasti kalian berfikir mengapa aku tak menggunakan LPG dari bantuan pemerintah saja. Asal kalian tahu seluruh kampungku belum mendapatkan bantuan tersebut. Padahal kata Ibuku, Ibuku sudah menyerahkan surat-surat yang diperlukan untuk mendapatkan LPG beserta kompornya.
Sejujurnya aku iri pada orang yang sudah mendapatkan kompor itu, tapi malah ada yang beralih ke minyak tanah lagi. Dikasih yang enak kok malah milih yang susah. Tak terasa aku sudah berada di barisan paling depan. Jurigenku sudah diisi penuh oleh bang Rois dan akupun membayarnya.
Setelah meletakkan jurigen ke rumah aku langsung menuju ke Perpustakaan kecil yang dimiliki oleh Sheila. Dari sanalah aku belajar tentang banyak hal. Karena memang Ibuku tak mampu membiayai sekolahku lagi pula aku harus bekerja untuk mencari uang.
Terkadang aku memaki dalam hati anak-anak yang bolos sekolah. Bodoh sekali mereka, mereka sudah diberi kesempatan tapi malah disia-siakan. Ingin rasanya aku bertukar tempat dengan mereka agar mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan pada mereka. Tapi aku tahu itu semua adalah khayalan tingkat tinggi.
Setelah puas membaca, aku menuju ke sebuah toko untuk bekerja sebagai Pramuniaga. Mengapa hidupku hanya dipenuhi dengan bekerja dan bekerja. Ya mungkin ini semua sudah jalan takdir yang harus kujalani.
Hujan malam ini begitu deras seakan membawa kenikmatan bagi setiap anak manusia merasakannya. Malam ini aku, Ibu dan adikku, Ali sedang makan malam bersama.
“ Mbak, sebentar lagi Ali ada ulangan terus semua materi ulangannya ada di buku pendamping tapi Ali belum punya, tolong belikan ya Mbak,” kata Ali.
“ Iya, tapi mbak Indah cari uang dulu ya,” jawabku.
Sang Surya masih malu-malu untuk menampakkan dirinya di pagi hari yang indah ini. Dia masih senang bersembunyi di balik Sang Mega. Anak-anak burung bernyanyi dengan riang gembira. Awal hari yang indah dan aku yakin jika masa selanjutya akan seindah awal hari ini. Jika ku tak yakin, ku tak pernah dapatkan hari-hari yang indah.
Seperti biasa aku harus mengantarkan koran ke pelanggan-pelanggan. Aku bosan melihat keadaan yang sangat membedakan antara Si Kaya dan Si Miskin ini. Terkadang aku berpikir mengapa aku terlahir seperti ini. Rasanya aku ingin sekali terlahir kembali menjadi anak orang kaya. Yang bisa sekolah tinggi untuk bisa memajukan bangsa ini. Merubah kekacauan yang terjadi.
Andaikan saja aku adalah seorang Petinggi negara ini. Takkan pernah kuumbar janji tanpa sebuah bukti. Aku kan mengapdi pada negara ini tanpa rasa pamrih. Takkan pernah aku menikmati kekayaanku jika ku lihat banyak rakyatku yang menderita. Kan kurubah kesenjangan sosial yang nampak. Takkan pernah aku merugikan rakyat kecil dengan dalih apapun karna ku tahu itu semua bukan jalan yang terbaik. Tapi ini semua hanyalah sebuah angan yang bisa saja terjadi bisa saja tidak. Tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk memajukan bangsa ini.
Sudahlah lebih baik aku bekerja agar adikku bisa membeli buku yang ia perlukan. Lagi pula semua itu takkan pernah terjadi. Biarlah itu semua menjadi anganku saja tanpa seseorangpun yang mengetahuinya.
Sang Surya kembali bersembunyi di balik kelamnya Sang Mega. Pertanda hujan akan turun membasahi bumi. Segera kukayuh sepedaku karena ku tak ingin koran-koran yang ku bawa basah terkena hujan. Semoga suatu saat nanti ada seseorang yang kan merubah negri tercintaku menjadi negri yang lebih baik dari sekarang. Amien.
PERSAHABTAN KITA
“ Hei, lagi pada ngapain nih kok sukanya ngumpul kayak lagi konferensi aja,” tanyaku waktu masuk ke kelas.
“ Sssstt gangguin orang aja. Eh, Vi PR mat punyamu udah apa belum ?” Tanya Ardi.
“ Udahlah Via gitu. Siapa yang mau pinjem ? “ seruku.
“ Aku…. Aku… “ kata Arya sambil ngerebut buku yang ada ditanganku.
Aku selalu ketawa ngeliat kelakuan sahabat - sahabatku. Tapi aku seneng sih soalnya aku ngerasa dibutuhin sama mereka he..he..he… Ya sahabat - sahabatku aku, Arya, Ardi dan satu lagi Gita udah sahabatan kira - kira mulai setahun lalu. Mereka itu bener - bener temen sejati soalnya mereka nggak cuma mau temenan waktu seneng aja tapi waktu susah juga.
Ke mana - mana kita selalu berempat kadang - kadang ketambahan anak - anak lain sih, tapi yang pastinya lebih seru jalan berempat. Biasanya aku sama Ardi kompakan ngerjain Gita tapi Arya selalu dipihak Gita. Yang namanya persahabatan pasti ada berantemnya, hal itu juga kejadian di persahabatan kita berempat tapi itu cuma sekali dan berantemnya juga bentar gak ada sehari.
Kita berempat itu aneh banget kadang aku sama Ardi yang kayak anak kecil trus Gita sama Arya jadi dewasa banget ngurusin kita berdua. Kalo aku sama Ardi udah sembuh dari virus kenak-kanakan justru Gita sama Arya yang terinfeksi virus itu. Untungnya kalo lagi dibutuhin dewasanya keluar semua. Tapi semua itu yang buat kita berempat deket banget.
Ada pepatah jawa yang bilang “ witing tresno jalaran saka kulino “ yang artinya “ cinta tumbuh karena dari kebiasaan “. Pepatah itu ternyata berlaku di persahabatan kita. Ya sekitar 3 bulan lalu Ardi udah jadian sama Gita. Kalo aku sebenernya ada feel sama Arya tapi aku nggak tahu Arya ada feel apa nggak sama aku.
Sebenernya dulu aku udah punya cowok yang baik banget tapi aku putusin gara - gara harapanku buat dapetin Arya. Tapi kenyataannya sampe sekarang kayaknya Arya nggak ada tanda - tanda suka deh sama aku. Tapi aku sama sekali nggak nyesel udah mutusin cowokku itu.
Sampe sekarang walaupun Arya masih tetep nggak nunjukin tanda - tanda suka sama aku, aku tetep masih sayang banget sama Arya. Sebenernya Gita sama Ardi selalu dukung aku sampe - sampe Ardi mau ngomong ke Arya kalo aku tuh ada feel sama dia. Tapi aku masih ngelarang Ardi buat bilang ke Arya soal ini. Soalnya aku takut kalo Arya tahu soal perasaanku sama dia ,dia bakal jauhin aku dan aku nggak mau itu.
Akhir akhir ini aku ngerasa ada yang beda sama Arya dia jadi lebih deket sama sahabatku dulu yang namanya Sammy. Sammy itu orangnya suka cari masalah sama orang lain. Tiap dia ngeliat orang lain seneng, pasti dia berusaha buat ngancurin semuanya. Contohnya dulu waktu aku masih pacaran sama mantanku, dia selalu memprovokasi mantanku buat mutusin aku. Sekarang waktu aku udah seneng sama sahabat - sahabatku,
lagi - lagi dia ngancurin semuanya. Nggak cuma aku, hubungan Gita dan Ardi juga hampir berantakan gara - gara dia. Untung aja mereka sadar kalo selama ini mereka udah dipengaruhin sama Sammy.
Pokoknya, Sammy tuh kayak bakteri yang membawa virus mematikan buat orang - orang di sekitarnya. Soalnya dulu aku sama Gita pernah terjangkit virus yang dibawa oleh Sammy.
Sekarang balik lagi ke masalah Arya. Kayaknya Sammy udah ngomporin Arya buat jauhin aku, Gita dan Ardi. Ardi yang paling ngerasain semua ini karena dia yang paling deket sama Arya. Sampe - sampe dia sering sakit gara - gara masalah ini. Sebenernya aku juga ngerasain sih tapi nggak separah Ardi. Aku kangen aja sama kenangan - kenanganku bareng sahabat - sahabatku. Ke mana - mana kita selalu berempat, ketawa bareng, sedih juga bareng. Tapi sayang, kayaknya semua itu cuma tinggal kenangan aja.
Sekarang Arya lebih seneng jalan sama Sammy dan temen - temennya. Padahal dulu, dia sering banget maen ke rumahku bareng Gita dan Ardi. Seakan - akan dia tuh udah nggak peduli sama persahabatan kita. Apa - apa selalu Sammy yang nomer satu. Diajak maen ke rumah, ada janji sama Sammy. Diajak nonton, malah mau pergi sama Sammy.
Oh God…apa yang terjadi sama persahabatanku???Arya yang sekarang nggak kayak Arya yang dulu. Sekarang Arya selalu jadi lebih sensi sama Ardi. Kayak tadi pagi, waktu mau upacara, Arya marah - marah ke aku sama Gita. Gara - garanya aku sama Gita bilang Ardi nggak bisa jadi petugas upacara karena sakit.
“ Anak itu gimana sih, udah tau dia dipasrahin buat jadi petugas upacara, eh dia malah nggak serius,” kata Arya.
“ Sapa sih, Ar?” tanyaku.
“ Ya anak itu.”
“ Maksud kamu Ardi?” sela Gita.
“ Ya sapa lagi, Cuma dia kan yang nggak serius!!!”
“ Tapi Ardi kan lagi sakit, kamu yang perhatian dikit dong, dia tuh sahabat kamu!!!”bela Gita.
“ Jangan karena dia cowok kamu, kamu jadi belain dia!!!!”
“ Arya, Gita udah dong jangan bertengkar terus, malu tau diliatin orang!!!!”
Dengan cueknya Arya langsung pergi ninggalin aku sama Gita. Ya ampun…ada apa sih sama Arya???Sampe - sampe nyebutin nama Ardi aja dia nggak mau. Kayak nama Ardi tuh sesuatu yang menjijikkan. Apa yang harus aku lakuin buat nyatuin mereka berdua dan balikkin persahabatanku kayak dulu lagi.
Aku dan Gita mutusin buat ngerundingin cara - cara supaya persahabatan kita jadi kayak dulu lagi. Setelah tiga jam berlalu, akhirnya kita nemuin cara buat ngingetin mereka tentang persahabatan kita. Caranya, aku sama Gita nulis cerpen ini buat nyadarin mereka.
Ternyata mereka sama sekali nggak peduli. Walaupun Ardi terkadang masih menyapa, tapi sikapnya tak seperti dulu lagi. Apalagi Arya, dia sepertinya tak pernah mengenalku. Biarlah, tapi aku berharap mereka berdua segera sadar dan mengembalikan canda tawa persahabatan ini seperti dulu lagi.
“ Sssstt gangguin orang aja. Eh, Vi PR mat punyamu udah apa belum ?” Tanya Ardi.
“ Udahlah Via gitu. Siapa yang mau pinjem ? “ seruku.
“ Aku…. Aku… “ kata Arya sambil ngerebut buku yang ada ditanganku.
Aku selalu ketawa ngeliat kelakuan sahabat - sahabatku. Tapi aku seneng sih soalnya aku ngerasa dibutuhin sama mereka he..he..he… Ya sahabat - sahabatku aku, Arya, Ardi dan satu lagi Gita udah sahabatan kira - kira mulai setahun lalu. Mereka itu bener - bener temen sejati soalnya mereka nggak cuma mau temenan waktu seneng aja tapi waktu susah juga.
Ke mana - mana kita selalu berempat kadang - kadang ketambahan anak - anak lain sih, tapi yang pastinya lebih seru jalan berempat. Biasanya aku sama Ardi kompakan ngerjain Gita tapi Arya selalu dipihak Gita. Yang namanya persahabatan pasti ada berantemnya, hal itu juga kejadian di persahabatan kita berempat tapi itu cuma sekali dan berantemnya juga bentar gak ada sehari.
Kita berempat itu aneh banget kadang aku sama Ardi yang kayak anak kecil trus Gita sama Arya jadi dewasa banget ngurusin kita berdua. Kalo aku sama Ardi udah sembuh dari virus kenak-kanakan justru Gita sama Arya yang terinfeksi virus itu. Untungnya kalo lagi dibutuhin dewasanya keluar semua. Tapi semua itu yang buat kita berempat deket banget.
Ada pepatah jawa yang bilang “ witing tresno jalaran saka kulino “ yang artinya “ cinta tumbuh karena dari kebiasaan “. Pepatah itu ternyata berlaku di persahabatan kita. Ya sekitar 3 bulan lalu Ardi udah jadian sama Gita. Kalo aku sebenernya ada feel sama Arya tapi aku nggak tahu Arya ada feel apa nggak sama aku.
Sebenernya dulu aku udah punya cowok yang baik banget tapi aku putusin gara - gara harapanku buat dapetin Arya. Tapi kenyataannya sampe sekarang kayaknya Arya nggak ada tanda - tanda suka deh sama aku. Tapi aku sama sekali nggak nyesel udah mutusin cowokku itu.
Sampe sekarang walaupun Arya masih tetep nggak nunjukin tanda - tanda suka sama aku, aku tetep masih sayang banget sama Arya. Sebenernya Gita sama Ardi selalu dukung aku sampe - sampe Ardi mau ngomong ke Arya kalo aku tuh ada feel sama dia. Tapi aku masih ngelarang Ardi buat bilang ke Arya soal ini. Soalnya aku takut kalo Arya tahu soal perasaanku sama dia ,dia bakal jauhin aku dan aku nggak mau itu.
Akhir akhir ini aku ngerasa ada yang beda sama Arya dia jadi lebih deket sama sahabatku dulu yang namanya Sammy. Sammy itu orangnya suka cari masalah sama orang lain. Tiap dia ngeliat orang lain seneng, pasti dia berusaha buat ngancurin semuanya. Contohnya dulu waktu aku masih pacaran sama mantanku, dia selalu memprovokasi mantanku buat mutusin aku. Sekarang waktu aku udah seneng sama sahabat - sahabatku,
lagi - lagi dia ngancurin semuanya. Nggak cuma aku, hubungan Gita dan Ardi juga hampir berantakan gara - gara dia. Untung aja mereka sadar kalo selama ini mereka udah dipengaruhin sama Sammy.
Pokoknya, Sammy tuh kayak bakteri yang membawa virus mematikan buat orang - orang di sekitarnya. Soalnya dulu aku sama Gita pernah terjangkit virus yang dibawa oleh Sammy.
Sekarang balik lagi ke masalah Arya. Kayaknya Sammy udah ngomporin Arya buat jauhin aku, Gita dan Ardi. Ardi yang paling ngerasain semua ini karena dia yang paling deket sama Arya. Sampe - sampe dia sering sakit gara - gara masalah ini. Sebenernya aku juga ngerasain sih tapi nggak separah Ardi. Aku kangen aja sama kenangan - kenanganku bareng sahabat - sahabatku. Ke mana - mana kita selalu berempat, ketawa bareng, sedih juga bareng. Tapi sayang, kayaknya semua itu cuma tinggal kenangan aja.
Sekarang Arya lebih seneng jalan sama Sammy dan temen - temennya. Padahal dulu, dia sering banget maen ke rumahku bareng Gita dan Ardi. Seakan - akan dia tuh udah nggak peduli sama persahabatan kita. Apa - apa selalu Sammy yang nomer satu. Diajak maen ke rumah, ada janji sama Sammy. Diajak nonton, malah mau pergi sama Sammy.
Oh God…apa yang terjadi sama persahabatanku???Arya yang sekarang nggak kayak Arya yang dulu. Sekarang Arya selalu jadi lebih sensi sama Ardi. Kayak tadi pagi, waktu mau upacara, Arya marah - marah ke aku sama Gita. Gara - garanya aku sama Gita bilang Ardi nggak bisa jadi petugas upacara karena sakit.
“ Anak itu gimana sih, udah tau dia dipasrahin buat jadi petugas upacara, eh dia malah nggak serius,” kata Arya.
“ Sapa sih, Ar?” tanyaku.
“ Ya anak itu.”
“ Maksud kamu Ardi?” sela Gita.
“ Ya sapa lagi, Cuma dia kan yang nggak serius!!!”
“ Tapi Ardi kan lagi sakit, kamu yang perhatian dikit dong, dia tuh sahabat kamu!!!”bela Gita.
“ Jangan karena dia cowok kamu, kamu jadi belain dia!!!!”
“ Arya, Gita udah dong jangan bertengkar terus, malu tau diliatin orang!!!!”
Dengan cueknya Arya langsung pergi ninggalin aku sama Gita. Ya ampun…ada apa sih sama Arya???Sampe - sampe nyebutin nama Ardi aja dia nggak mau. Kayak nama Ardi tuh sesuatu yang menjijikkan. Apa yang harus aku lakuin buat nyatuin mereka berdua dan balikkin persahabatanku kayak dulu lagi.
Aku dan Gita mutusin buat ngerundingin cara - cara supaya persahabatan kita jadi kayak dulu lagi. Setelah tiga jam berlalu, akhirnya kita nemuin cara buat ngingetin mereka tentang persahabatan kita. Caranya, aku sama Gita nulis cerpen ini buat nyadarin mereka.
Ternyata mereka sama sekali nggak peduli. Walaupun Ardi terkadang masih menyapa, tapi sikapnya tak seperti dulu lagi. Apalagi Arya, dia sepertinya tak pernah mengenalku. Biarlah, tapi aku berharap mereka berdua segera sadar dan mengembalikan canda tawa persahabatan ini seperti dulu lagi.
KISAH CINTA MATAHARI DAN BINTANG
Matahari muncul pada siang hari sedangkan Bintang muncul pada malam hari, jika mereka saling mencintai mungkinkah cinta mereka kan bersatu. Aku merasa kisah cintaku seperti kisah cinta Matahari dan Bintang. Cintaku dan orang yang kucintai tak mungkin bersatu.
Dari awal aku melihatnya aku langsung mencintainya. Dia bernama Fajar - Fajar berarti Matahari -, sedangkan namaku Lintang - Lintang berarti Bintang -. Aku merasa cintaku dan Fajar seperti Matahari dan Bintang yang tak mungkin dipertemukan.
Aku sudah lama memendam rasa cintaku itu. Rasanya hatiku sudah terkunci dan satu - satunya orang yang memiliki kunci itu adalah Fajar. Dulu ia datang ketikaku membutuhkan seseorang untuk melupakan lelaki yang amat aku cintai. Dan ia bisa menghapus segala kesedihan yang kurasa.
Aku begitu gembira ketika berkenalan dengannya. Dia begitu baik padaku, segala perhatiannya membuatku melayang - layang. Tapi sayang dia sudah mempunyai kekasih, kekasihnya bernama Nita. Hatiku begitu hancur ketikaku tahu jika dia sudah mempunyai kekasih. Dan sebenarnya akupun sudah mempunyai kekasih.
Tapi aku yakin Fajar juga memendam perasaan yang sama padaku. Tapi kami tak mungkin bersatu karena aku dan dia sama - sama sudah memiliki kekasih.
“ Hai, nglamun aja. Ayo nglamunin aku ya,” kata Rizky mengagetkanku.
“ Eh.. kamu Riz ngagetin aja,” kataku.
“ Kenapa sih akhir - akhir ini aku sering liat kamu nglamun, ada masalah cerita dong sama aku. Aku kan cowokmu,” kata Rizky.
Aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Seandainya kamu tahu kamu pasti membenciku seumur hidupmu. Rizky adalah kekasih yang paling perhatian yang pernah kumiliki. Kata Dinda dan Elly - sahabatku - dia adalah lelaki yang tahan banting. Walaupun aku menjauhinya, memarahinya, tapi dia tak peduli dia tetap menunjukkan sayangnya padaku.
Oh Tuhan aku tak tega melihat Rizky. Apa harus aku katakan padanya jika aku tak mencintainya. Sebenarnya aku menerima Rizky dulu karena aku ingin melupakan Fajar. Tapi ternyata aku sama sekali tak bisa melupakan Fajar. Dia selalu ada di dalam benakku.
Sampai - sampai Dinda dan Elly mengumpamakan Rizky mempunyai rumah tanpa kunci, karena kuncinya masih dimiliki Fajar. Ya kalau dipikir - pikir memang benar sih perumpamaan itu.
Akhir - akhir ini aku merasa Fajar mulai menjaga jarak denganku. Dia tak seperti biasanya. Biasanya saat aku bertemu dengannya atau saat aku melewati depan kelasnya,
dia selalu menggodaku. Hari ini dia seperti orang yang tak pernah kenal denganku.
Aku sangat kehilangan semua candaannya. Hidupku rasanya hampa tanpa senyumannya. Tanpa semua keusilannya padaku. Mengapa dia berubah jadi seperti ini. Apa dia tahu jikaku mencintainya lalu dia menghindar dariku.
Saat pulang sekolah aku,Dinda,Elly berbicara di gerbang. Kami bertiga memang bersahabat tapi kelas kami berbeda. Jadi ya saat pulang sekolah baru kami bisa mengutarakan isi hati - curhat -. Tapi hari ini karena Dinda sudah pulang aku bercerita pada Elly. Aku menceritakan tentang semua perubahan sikap Fajar.
Tapi tiba - tiba Fajar lewat di depan kami dan dia tersenyum padaku. Oh Tuhan aku tak bisa lagi berkata - kata. Bahagia sekali rasanya sampai - sampai aku tak bisa tidur. Memang aku tahu itu berlebihan tapi aku benar - benar tak bisa tidur memikirkan senyuman yang selama ini tak pernah aku lihat lagi.
Sepertinya aku memiliki semangat lagi untuk memilikinya. Aku yakin dia mencintaiku juga. Tapi bagaimana dengan Rizky, dia pasti terluka. Mengapa aku harus terjebak dalam cinta yang begitu membingungkan ini. Mengapa aku harus mencintai Fajar yang aku tak tahu apakah dia mencintaiku bukannya mencintai Rizky yang sudah jelas mencintaiku. Cinta itu memang buta.
Aku merasa aneh dengan sifat Fajar. Kadang dia baik,ramah kadang dia cuek. Sampai aku berpikir jika dia mempunyai saudara kembar ya seperti di sinetron - sinetron saudara kembar bertukar tempat. Tapi aku sadar perubahan sikapnya tergantung pada kekasihnya. Ya jika ada Nita dia menjadi seperti tidak kenal padaku sedangkan jika tak ada Nita dia kembali ke sifat semula.
Hari ini aku ada janji dengan Fajar. Katanya dia mau mengatakan sesuatu padaku. Aku berharap dia mengatakan kalau dia juga mencintaiku.
Setengah jam sudah aku menunggunya, tapi dia tak muncul juga. Apa dia mengerjaiku. Kenapa sih dia begitu tega mengerjaiku.
“ Sorry telat,” kata Fajar.
“ Kamu tau gak, aku hampir aja pergi untung aja kamu dateng.”
“ Sorry tadi aku lupa kalo ada janji sama kamu.” Ya ampun dia lupa, berarti aku nggak penting buat dia.
“ Ya udah ngomong aja katanya mau ngomong sesuatu yang penting.”
“ Sebenernya…ehm…sebenernya aku suka sama kamu. “
Oh Tuhan akhirnya dia mengatakan juga jika dia suka padaku. Aku senang sekali rasanya. Akhirnya cintaku tak bertepuk sebelah tangan.
“ Sebenernya aku juga suka sama kamu, tapi kita berduakan udah punya pacar. Aku nggak mungkin mutusin Rizky, aku nggak tega.”
“ Aku udah tahu makanya aku ngajak kamu ketemuan di sini biar kita bisa bahas masalah ini. Aku juga nggak mungkin mutusin Nita.”
Kami berdua membicarakan masalah ini cukup lama kira - kira dua setengah jam. Dan akhirnya kami menemukan titik temu. Kami tetap pada pasangan masing - masing dan berusaha untuk mencintai pasangan masing - masing.
Aku senang sekali walaupun aku dan Fajar tidak menjadi pasangan kekasih tapi aku tahu jika Fajar mencintaiku. Ya kini kisah cintaku benar - benar seperti Matahari dan Bintang. Matahari tetap setia pada Siang sedangkan Bintang tetap setia pada Malam walaupun Matahari dan Bintang saling mencintai.
Dari awal aku melihatnya aku langsung mencintainya. Dia bernama Fajar - Fajar berarti Matahari -, sedangkan namaku Lintang - Lintang berarti Bintang -. Aku merasa cintaku dan Fajar seperti Matahari dan Bintang yang tak mungkin dipertemukan.
Aku sudah lama memendam rasa cintaku itu. Rasanya hatiku sudah terkunci dan satu - satunya orang yang memiliki kunci itu adalah Fajar. Dulu ia datang ketikaku membutuhkan seseorang untuk melupakan lelaki yang amat aku cintai. Dan ia bisa menghapus segala kesedihan yang kurasa.
Aku begitu gembira ketika berkenalan dengannya. Dia begitu baik padaku, segala perhatiannya membuatku melayang - layang. Tapi sayang dia sudah mempunyai kekasih, kekasihnya bernama Nita. Hatiku begitu hancur ketikaku tahu jika dia sudah mempunyai kekasih. Dan sebenarnya akupun sudah mempunyai kekasih.
Tapi aku yakin Fajar juga memendam perasaan yang sama padaku. Tapi kami tak mungkin bersatu karena aku dan dia sama - sama sudah memiliki kekasih.
“ Hai, nglamun aja. Ayo nglamunin aku ya,” kata Rizky mengagetkanku.
“ Eh.. kamu Riz ngagetin aja,” kataku.
“ Kenapa sih akhir - akhir ini aku sering liat kamu nglamun, ada masalah cerita dong sama aku. Aku kan cowokmu,” kata Rizky.
Aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Seandainya kamu tahu kamu pasti membenciku seumur hidupmu. Rizky adalah kekasih yang paling perhatian yang pernah kumiliki. Kata Dinda dan Elly - sahabatku - dia adalah lelaki yang tahan banting. Walaupun aku menjauhinya, memarahinya, tapi dia tak peduli dia tetap menunjukkan sayangnya padaku.
Oh Tuhan aku tak tega melihat Rizky. Apa harus aku katakan padanya jika aku tak mencintainya. Sebenarnya aku menerima Rizky dulu karena aku ingin melupakan Fajar. Tapi ternyata aku sama sekali tak bisa melupakan Fajar. Dia selalu ada di dalam benakku.
Sampai - sampai Dinda dan Elly mengumpamakan Rizky mempunyai rumah tanpa kunci, karena kuncinya masih dimiliki Fajar. Ya kalau dipikir - pikir memang benar sih perumpamaan itu.
Akhir - akhir ini aku merasa Fajar mulai menjaga jarak denganku. Dia tak seperti biasanya. Biasanya saat aku bertemu dengannya atau saat aku melewati depan kelasnya,
dia selalu menggodaku. Hari ini dia seperti orang yang tak pernah kenal denganku.
Aku sangat kehilangan semua candaannya. Hidupku rasanya hampa tanpa senyumannya. Tanpa semua keusilannya padaku. Mengapa dia berubah jadi seperti ini. Apa dia tahu jikaku mencintainya lalu dia menghindar dariku.
Saat pulang sekolah aku,Dinda,Elly berbicara di gerbang. Kami bertiga memang bersahabat tapi kelas kami berbeda. Jadi ya saat pulang sekolah baru kami bisa mengutarakan isi hati - curhat -. Tapi hari ini karena Dinda sudah pulang aku bercerita pada Elly. Aku menceritakan tentang semua perubahan sikap Fajar.
Tapi tiba - tiba Fajar lewat di depan kami dan dia tersenyum padaku. Oh Tuhan aku tak bisa lagi berkata - kata. Bahagia sekali rasanya sampai - sampai aku tak bisa tidur. Memang aku tahu itu berlebihan tapi aku benar - benar tak bisa tidur memikirkan senyuman yang selama ini tak pernah aku lihat lagi.
Sepertinya aku memiliki semangat lagi untuk memilikinya. Aku yakin dia mencintaiku juga. Tapi bagaimana dengan Rizky, dia pasti terluka. Mengapa aku harus terjebak dalam cinta yang begitu membingungkan ini. Mengapa aku harus mencintai Fajar yang aku tak tahu apakah dia mencintaiku bukannya mencintai Rizky yang sudah jelas mencintaiku. Cinta itu memang buta.
Aku merasa aneh dengan sifat Fajar. Kadang dia baik,ramah kadang dia cuek. Sampai aku berpikir jika dia mempunyai saudara kembar ya seperti di sinetron - sinetron saudara kembar bertukar tempat. Tapi aku sadar perubahan sikapnya tergantung pada kekasihnya. Ya jika ada Nita dia menjadi seperti tidak kenal padaku sedangkan jika tak ada Nita dia kembali ke sifat semula.
Hari ini aku ada janji dengan Fajar. Katanya dia mau mengatakan sesuatu padaku. Aku berharap dia mengatakan kalau dia juga mencintaiku.
Setengah jam sudah aku menunggunya, tapi dia tak muncul juga. Apa dia mengerjaiku. Kenapa sih dia begitu tega mengerjaiku.
“ Sorry telat,” kata Fajar.
“ Kamu tau gak, aku hampir aja pergi untung aja kamu dateng.”
“ Sorry tadi aku lupa kalo ada janji sama kamu.” Ya ampun dia lupa, berarti aku nggak penting buat dia.
“ Ya udah ngomong aja katanya mau ngomong sesuatu yang penting.”
“ Sebenernya…ehm…sebenernya aku suka sama kamu. “
Oh Tuhan akhirnya dia mengatakan juga jika dia suka padaku. Aku senang sekali rasanya. Akhirnya cintaku tak bertepuk sebelah tangan.
“ Sebenernya aku juga suka sama kamu, tapi kita berduakan udah punya pacar. Aku nggak mungkin mutusin Rizky, aku nggak tega.”
“ Aku udah tahu makanya aku ngajak kamu ketemuan di sini biar kita bisa bahas masalah ini. Aku juga nggak mungkin mutusin Nita.”
Kami berdua membicarakan masalah ini cukup lama kira - kira dua setengah jam. Dan akhirnya kami menemukan titik temu. Kami tetap pada pasangan masing - masing dan berusaha untuk mencintai pasangan masing - masing.
Aku senang sekali walaupun aku dan Fajar tidak menjadi pasangan kekasih tapi aku tahu jika Fajar mencintaiku. Ya kini kisah cintaku benar - benar seperti Matahari dan Bintang. Matahari tetap setia pada Siang sedangkan Bintang tetap setia pada Malam walaupun Matahari dan Bintang saling mencintai.
SADARLAH KAK REZA
“ Apa`an sich kak, Vira masih ngantuk nich ,” jawabku.
“ Vira, kak Reza udah telat tau ayo bangun. Ato kamu mau kakak siram pake air ,” kata kak Reza.
“ Iya dech kak, Vira bangun nich ,” jawabku.
Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah, setelah libur kenaikkan kelas. Males banget rasanya aku bangun, tapi aku paksa buat pergi ke kamar mandi. Setelah siap aku langsung pergi ke garasi. Bel klakson mobil terus saja dibunyi`in sama kak Reza yang nggak sabar buat nunggu aku.
“ Iya,iya bentar kenapa ,” kataku.
“ Vira?!?!?!?!?! Kakak dah telat nich ,” kata kak Reza.
Akupun langsung cepet - cepet naik mobil. Aku heran banget deh sama kak Reza nggak biasanya dia buru - buru kayak gini. Aku bingung, bener nggak sih kalo aku udah terlambat. Akupun liat jam tanganku baru jam 06.00 padahal aku sama kak Reza baru masuk jam 07.00.
“ Kak Reza apa - apa`an sich inikan baru jam enam kitakan masuknya jam tujuh ? “ tanyaku kesel.
“ Sorry dech Vir kakak belum bilang ya kalo kita berdua mau nyusul Kak Irene dulu jadi mulai hari ini kita berangkatnya jam enam ya ,” kata kak Reza.
“ Kak Irene ?!?!? Siapa tuch ?“ tanyaku.
“ Kak Irene tuch pacar kakak yang baru ,” kata kak Reza.
“ Nggak biasanya kakak mau jadi supir pacar kakak biasanya kakak paling males kalo disuruh jadi supir pacar kakak,” kataku.
“ Udah dech nggak usah cerewet,Vir ntar kalo kita udah nyampe deket rumahnya Irene kamu pindah belakang ya ?” kata kak Reza.
“ What?!?!?!?! “
Kak Reza cuma senyum - senyum. Nyebelin banget sih kak Reza, aku di suruh cepet - cepet bangun buat jemput ceweknya yang baru. Aku jadi penasaran gimana sih rupa kak Irene sampe - sampe kak Reza rela jadi supir. Cantik nggak ya, paling - paling juga cantikkan aku. Eits kalian jangan ngecap aku kepedean ya, yang aku omongin tadi tuh emang bener. Aku tuh cewek paling cantik di sekolahku. Semua orang juga bilang gitu. Nggak percaya dateng aja ke sekolahku. Di mana sekolahku nggak penting kalian tau itu. Udah ah selesai bicara`in soal aku. Sekarang kita bahas topik awal tentang gimana rupa kak Irene.
“ Vir, jangan ngelamun terus. Ayo pindah belakang kita dah nyampe di rumahnya Irene.”
“ Hai, sayang. Sorry ya buat kamu nunggu lama,” kata kak Reza.
“ Nggak papa kok sayang nyantai aja lagi,” kata kak Irene
Ya situ nyantai sini buru - buru tau, pikirku
Aku cuma senyum aja. Sok cute banget sich, padahal gak ada cute - cutenya sama sekali. Kak Reza nyebelin banget sih tadi disuruh cepet - cepet sekarang malah ngobrol nyantai - nyantai kayak gitu. Kalo tau gitu mending aku tidur aja di rumah trus nyuruh pak Udin buat nganterin aku.
“ Tadi katanya udah telat kok sekarang malah ngobrol,” kataku ketus.
“ Vira… kamu apa - apa`an sich. Kamu nggak liat kakak lagi ngobrol sama Irene,” bentak kak Reza.
“ Kakak yang apa - apa`an. Tadi kakak bilang kalo kakak udah telat, sampe mau nyiram Vira pake air lagi, trus sekarang bentak - bentak Vira. Ini gara - gara sapa, gara - gara cewek satu itu,” kataku sambil nunjuk kak Irene.
“ Vira…” kata kak Reza mau nampar aku.
“ Tampar aja, kak Reza sekarang berubah nggak kayak kak reza yang Vira kenal dulu. Vira benci kak Reza,” kataku sambil berlalu.
Aku liat kak Reza mau nahan aku tapi kak Irene ngalangin trus kak Reza nggak jadi nahan aku. Nyebelin banget sih gara - gara cewek yang gak ada cute - cutenya sama sekali kak Reza berani bentak aku trus mau nampar lagi. Kalo dulu kak Reza nggak pernah bentak aku apalagi mau nampar. Aku kangen banget sama kak Reza yang dulu yang sayang sama aku, yang bisa jadi tempat curhatku.Aku tau kak Reza udah waktunya buat punya pacar. Tapi nggak perlu dong sikapnya berubah kayak gitu. Aku tau kak Reza nggak mau kalo perginya sama aku terus. Tapi nggak perlu dong ngurangi rasa sayangnya ke aku.
Aku ngeliat jamku baru jam 06.30 setengah jam lagi aku masuk. Apa aku harus ke sekolah. Ntar di sekolah ketemu kak Reza, sekarang aku lagi nggak mau ketemu sama dia. Tapi… kalo nggak sekolah ntar ada pelajaran B. Indonesia, waktunya apresiasi lagi itukan favoritku. Ya udah deh aku putusin aku ke sekolah aja lagian sekolahku udah deket daripada balik ke rumah.
Di sekolah kak Reza nyari`in aku. Aku tau semua tu dari temen - temenku yang bilang ` Vir, kamu dicari`in kak Reza tuh` nggak tau udah berapa orang yang ngomong kayak gitu. Basi banget sih semuanya nggak ada yang kreatif. Sahabat - sahabatku juga nanyain, tumben aku nggak bareng kak Reza padahal biasanya ke mana - mana berdua. Setiap orang yang ketemu aku selalu nanya`in kak Reza. Nggak temen, guru, sampe tukang kebun juga nanya kayak gitu. Nggak tau semua ya kalo aku sekarang lagi sebel sama kak Reza. Nggak bisa ya sekali aja nggak nanya`in kak Reza.
“ Vir..”
Aku liat kak Reza manggil aku. Aku langsung aja pergi. Akukan lagi sebel sama kak Reza.
“ Vira… “ kata kak Reza sambil nahan aku.
“ Apa`an sich kak,”
Kak Reza dan aku bertengkar cukup lama, sampe aku hamper nangis gara - gara diomelin kak Reza. Akhirnya aku sama kak Reza mutusin kalo kita ngurusin urusan masing - masing dan jalanin hidup sendiri - sendiri.
Kak Reza langsung aja pergi ninggalin aku. Aku nggak nyangka kak Reza bakalan nglakuin semua itu sama aku. Aku kehilangan kakak yang selama ini menjadi tempatku berteduh yang sayang sama aku. Ini semua gara - gara Irene. Nggak kerasa air mataku jatuh aku nggak kuat musuhan sama kak Reza soalnya ke mana - mana kita selalu berdua.
Detik berganti menit, menit beganti jam, jam berganti hari, udah seminggu aku sama kak Reza musuhan. Aku bener - bener nggak kuat ngejalani ini semua aku ngerasa kak Reza tetep enjoy walau udah seminggu nggak ngomong sama aku. Aku bener bener kehilangan kak Reza.
Daripada aku suntuk terus mendingan aku jalan - jalan ke mall sama April. Di mall aku tetep aja inget sama kak Reza soalnya semua mall di kota ini udah sering aku datengin sama kak Reza.
“ Kenapa sih Vir kamu nggak bisa nerima pacarnya kak Reza. Yang kamu liat kan Cuma sekilas aja. Kamu sama kak Irene kan baru sekali ketemu, kenapa kamu menjugde dia dengan tuduhan yang macem - macem,” nasehat April panjang lebar.
Aku berpkir bener juga kata April mungkin aja sifatnya kak Irene itu manja kalo sama kak Reza dan dia nggak ada maksud buat jauhin aku sama kak Reza. Ehm.. aku harus mau minta maaf sama kak Irene. Ntar aja dech abis pulang dari mall aku minta anter kak Reza ke rumahnya kak Irene buat minta maaf pasti kak Reza mau.
Tiba - tiba aja aku ngeliat sesuatu yang bikin jantungku mau copot. Kak Irene gandengan mesra banget sama kak Ruben. Eits.. aku nggak boleh curiga dulu mungkin aja Cuma salah paham. Aku trus ngajak April buat buntutin mereka. Aku nguping pembicaraan mereka.
Dan………. Ada lagi hal yang bikin tulang - tulangku pada remuk. Mereka lagi ngomongin kebodohan kak Reza yang mau diperalat sama kak Irene dan Cuma mau diambil uangnya. Dan ternyata kak Irene sama kak Ruben itu pacaran. Dan ternyata lagi mereka berdua memang berencana buat misahin aku sama kak Reza soalnya mereka pengen ngancurin hidupku.
Tuhan apa salahku pada mereka sehingga mereka ingin menghancurkan hidupku apa mungkin karena dulu aku pernah ngalahin kak Irene waktu lomba cerdas cermat atau karena dulu aku pernah nolak kak Ruben atau malah karena kedua alasan itu.
Aku langsung ngajak April pulang, buat ngasih tau ke kak Reza apa yang dilakuin ceweknya di belakangnya. Di perjalanan aku terus memaki kak Irene. Di saat aku mulai mau menerimanya dia malah ngancurin kepercayaanku. Untung aja aku belum minta maaf sama dia .
Sesampainya di rumah aku langsung nyari kak Reza.
“ Kak tungguin aku mau ngomong penting sama kakak,” kataku.
“ Ngapain kamu katanya nggak mau ngomong lagi sama aku,” kata kak Reza ketus.
“ Please kak ini penting banget.”
Akhirnya kak Reza mau dengerin aku dan aku langsung ngomong kalo tadi aku ngeliat kak Irene lagi berdua`an sama kak Ruben. Tapi kak Reza malah marah - marah dan nuduh aku mau ngancurin hubungannya sama kak Irene.
Aku nggak ngerti harus gimana lagi, aku bener - bener nggak pengen kak Reza sedih. Aku nggak pengen kak Reza sakit hati. Dasar kak Irene brengsek, pengen rasanya aku nglabrak kak Irene tapi nanti malah dia ngadu yang nggak - nggak sama kak Reza.
Tiba - tiba kak Reza datang dengan raut wajah sedih.
“ Kenapa kak?”
“ Kamu bener Vir, ternyata Irene nggak sebaik yang aku kira. Tadi aku mergokin dia lagi ciuman sama Ruben dan sekarang aku udah mutusin Irene. Sorry ya Vir aku kemarin nggak percaya sama kamu.”
“ Ya udah yang penting sekarang kakak udah sadar.”
Kak Reza lalu memelukku. Tuhan terima kasih karena engkau mengembalikan kakakku yang dulu. Terima kasih Tuhan.
“ Vira, kak Reza udah telat tau ayo bangun. Ato kamu mau kakak siram pake air ,” kata kak Reza.
“ Iya dech kak, Vira bangun nich ,” jawabku.
Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah, setelah libur kenaikkan kelas. Males banget rasanya aku bangun, tapi aku paksa buat pergi ke kamar mandi. Setelah siap aku langsung pergi ke garasi. Bel klakson mobil terus saja dibunyi`in sama kak Reza yang nggak sabar buat nunggu aku.
“ Iya,iya bentar kenapa ,” kataku.
“ Vira?!?!?!?!?! Kakak dah telat nich ,” kata kak Reza.
Akupun langsung cepet - cepet naik mobil. Aku heran banget deh sama kak Reza nggak biasanya dia buru - buru kayak gini. Aku bingung, bener nggak sih kalo aku udah terlambat. Akupun liat jam tanganku baru jam 06.00 padahal aku sama kak Reza baru masuk jam 07.00.
“ Kak Reza apa - apa`an sich inikan baru jam enam kitakan masuknya jam tujuh ? “ tanyaku kesel.
“ Sorry dech Vir kakak belum bilang ya kalo kita berdua mau nyusul Kak Irene dulu jadi mulai hari ini kita berangkatnya jam enam ya ,” kata kak Reza.
“ Kak Irene ?!?!? Siapa tuch ?“ tanyaku.
“ Kak Irene tuch pacar kakak yang baru ,” kata kak Reza.
“ Nggak biasanya kakak mau jadi supir pacar kakak biasanya kakak paling males kalo disuruh jadi supir pacar kakak,” kataku.
“ Udah dech nggak usah cerewet,Vir ntar kalo kita udah nyampe deket rumahnya Irene kamu pindah belakang ya ?” kata kak Reza.
“ What?!?!?!?! “
Kak Reza cuma senyum - senyum. Nyebelin banget sih kak Reza, aku di suruh cepet - cepet bangun buat jemput ceweknya yang baru. Aku jadi penasaran gimana sih rupa kak Irene sampe - sampe kak Reza rela jadi supir. Cantik nggak ya, paling - paling juga cantikkan aku. Eits kalian jangan ngecap aku kepedean ya, yang aku omongin tadi tuh emang bener. Aku tuh cewek paling cantik di sekolahku. Semua orang juga bilang gitu. Nggak percaya dateng aja ke sekolahku. Di mana sekolahku nggak penting kalian tau itu. Udah ah selesai bicara`in soal aku. Sekarang kita bahas topik awal tentang gimana rupa kak Irene.
“ Vir, jangan ngelamun terus. Ayo pindah belakang kita dah nyampe di rumahnya Irene.”
“ Hai, sayang. Sorry ya buat kamu nunggu lama,” kata kak Reza.
“ Nggak papa kok sayang nyantai aja lagi,” kata kak Irene
Ya situ nyantai sini buru - buru tau, pikirku
Aku cuma senyum aja. Sok cute banget sich, padahal gak ada cute - cutenya sama sekali. Kak Reza nyebelin banget sih tadi disuruh cepet - cepet sekarang malah ngobrol nyantai - nyantai kayak gitu. Kalo tau gitu mending aku tidur aja di rumah trus nyuruh pak Udin buat nganterin aku.
“ Tadi katanya udah telat kok sekarang malah ngobrol,” kataku ketus.
“ Vira… kamu apa - apa`an sich. Kamu nggak liat kakak lagi ngobrol sama Irene,” bentak kak Reza.
“ Kakak yang apa - apa`an. Tadi kakak bilang kalo kakak udah telat, sampe mau nyiram Vira pake air lagi, trus sekarang bentak - bentak Vira. Ini gara - gara sapa, gara - gara cewek satu itu,” kataku sambil nunjuk kak Irene.
“ Vira…” kata kak Reza mau nampar aku.
“ Tampar aja, kak Reza sekarang berubah nggak kayak kak reza yang Vira kenal dulu. Vira benci kak Reza,” kataku sambil berlalu.
Aku liat kak Reza mau nahan aku tapi kak Irene ngalangin trus kak Reza nggak jadi nahan aku. Nyebelin banget sih gara - gara cewek yang gak ada cute - cutenya sama sekali kak Reza berani bentak aku trus mau nampar lagi. Kalo dulu kak Reza nggak pernah bentak aku apalagi mau nampar. Aku kangen banget sama kak Reza yang dulu yang sayang sama aku, yang bisa jadi tempat curhatku.Aku tau kak Reza udah waktunya buat punya pacar. Tapi nggak perlu dong sikapnya berubah kayak gitu. Aku tau kak Reza nggak mau kalo perginya sama aku terus. Tapi nggak perlu dong ngurangi rasa sayangnya ke aku.
Aku ngeliat jamku baru jam 06.30 setengah jam lagi aku masuk. Apa aku harus ke sekolah. Ntar di sekolah ketemu kak Reza, sekarang aku lagi nggak mau ketemu sama dia. Tapi… kalo nggak sekolah ntar ada pelajaran B. Indonesia, waktunya apresiasi lagi itukan favoritku. Ya udah deh aku putusin aku ke sekolah aja lagian sekolahku udah deket daripada balik ke rumah.
Di sekolah kak Reza nyari`in aku. Aku tau semua tu dari temen - temenku yang bilang ` Vir, kamu dicari`in kak Reza tuh` nggak tau udah berapa orang yang ngomong kayak gitu. Basi banget sih semuanya nggak ada yang kreatif. Sahabat - sahabatku juga nanyain, tumben aku nggak bareng kak Reza padahal biasanya ke mana - mana berdua. Setiap orang yang ketemu aku selalu nanya`in kak Reza. Nggak temen, guru, sampe tukang kebun juga nanya kayak gitu. Nggak tau semua ya kalo aku sekarang lagi sebel sama kak Reza. Nggak bisa ya sekali aja nggak nanya`in kak Reza.
“ Vir..”
Aku liat kak Reza manggil aku. Aku langsung aja pergi. Akukan lagi sebel sama kak Reza.
“ Vira… “ kata kak Reza sambil nahan aku.
“ Apa`an sich kak,”
Kak Reza dan aku bertengkar cukup lama, sampe aku hamper nangis gara - gara diomelin kak Reza. Akhirnya aku sama kak Reza mutusin kalo kita ngurusin urusan masing - masing dan jalanin hidup sendiri - sendiri.
Kak Reza langsung aja pergi ninggalin aku. Aku nggak nyangka kak Reza bakalan nglakuin semua itu sama aku. Aku kehilangan kakak yang selama ini menjadi tempatku berteduh yang sayang sama aku. Ini semua gara - gara Irene. Nggak kerasa air mataku jatuh aku nggak kuat musuhan sama kak Reza soalnya ke mana - mana kita selalu berdua.
Detik berganti menit, menit beganti jam, jam berganti hari, udah seminggu aku sama kak Reza musuhan. Aku bener - bener nggak kuat ngejalani ini semua aku ngerasa kak Reza tetep enjoy walau udah seminggu nggak ngomong sama aku. Aku bener bener kehilangan kak Reza.
Daripada aku suntuk terus mendingan aku jalan - jalan ke mall sama April. Di mall aku tetep aja inget sama kak Reza soalnya semua mall di kota ini udah sering aku datengin sama kak Reza.
“ Kenapa sih Vir kamu nggak bisa nerima pacarnya kak Reza. Yang kamu liat kan Cuma sekilas aja. Kamu sama kak Irene kan baru sekali ketemu, kenapa kamu menjugde dia dengan tuduhan yang macem - macem,” nasehat April panjang lebar.
Aku berpkir bener juga kata April mungkin aja sifatnya kak Irene itu manja kalo sama kak Reza dan dia nggak ada maksud buat jauhin aku sama kak Reza. Ehm.. aku harus mau minta maaf sama kak Irene. Ntar aja dech abis pulang dari mall aku minta anter kak Reza ke rumahnya kak Irene buat minta maaf pasti kak Reza mau.
Tiba - tiba aja aku ngeliat sesuatu yang bikin jantungku mau copot. Kak Irene gandengan mesra banget sama kak Ruben. Eits.. aku nggak boleh curiga dulu mungkin aja Cuma salah paham. Aku trus ngajak April buat buntutin mereka. Aku nguping pembicaraan mereka.
Dan………. Ada lagi hal yang bikin tulang - tulangku pada remuk. Mereka lagi ngomongin kebodohan kak Reza yang mau diperalat sama kak Irene dan Cuma mau diambil uangnya. Dan ternyata kak Irene sama kak Ruben itu pacaran. Dan ternyata lagi mereka berdua memang berencana buat misahin aku sama kak Reza soalnya mereka pengen ngancurin hidupku.
Tuhan apa salahku pada mereka sehingga mereka ingin menghancurkan hidupku apa mungkin karena dulu aku pernah ngalahin kak Irene waktu lomba cerdas cermat atau karena dulu aku pernah nolak kak Ruben atau malah karena kedua alasan itu.
Aku langsung ngajak April pulang, buat ngasih tau ke kak Reza apa yang dilakuin ceweknya di belakangnya. Di perjalanan aku terus memaki kak Irene. Di saat aku mulai mau menerimanya dia malah ngancurin kepercayaanku. Untung aja aku belum minta maaf sama dia .
Sesampainya di rumah aku langsung nyari kak Reza.
“ Kak tungguin aku mau ngomong penting sama kakak,” kataku.
“ Ngapain kamu katanya nggak mau ngomong lagi sama aku,” kata kak Reza ketus.
“ Please kak ini penting banget.”
Akhirnya kak Reza mau dengerin aku dan aku langsung ngomong kalo tadi aku ngeliat kak Irene lagi berdua`an sama kak Ruben. Tapi kak Reza malah marah - marah dan nuduh aku mau ngancurin hubungannya sama kak Irene.
Aku nggak ngerti harus gimana lagi, aku bener - bener nggak pengen kak Reza sedih. Aku nggak pengen kak Reza sakit hati. Dasar kak Irene brengsek, pengen rasanya aku nglabrak kak Irene tapi nanti malah dia ngadu yang nggak - nggak sama kak Reza.
Tiba - tiba kak Reza datang dengan raut wajah sedih.
“ Kenapa kak?”
“ Kamu bener Vir, ternyata Irene nggak sebaik yang aku kira. Tadi aku mergokin dia lagi ciuman sama Ruben dan sekarang aku udah mutusin Irene. Sorry ya Vir aku kemarin nggak percaya sama kamu.”
“ Ya udah yang penting sekarang kakak udah sadar.”
Kak Reza lalu memelukku. Tuhan terima kasih karena engkau mengembalikan kakakku yang dulu. Terima kasih Tuhan.
MAAFKAN AKU BAPAK
“ Assalamualaikum,” sapa Bapak.
“ Waalaikumsalam. Bapak mana pesanan Dini tadi pagi, pak ?,” jawabku tanpa menunggu Bapak melepas lelah barang sejenak.
“ Din… kasian Bapak baru pulang istirahat dulu baru nanti kamu tanya,” kata Ibu.
“ Sudahlah Bu biarkan saja, ini Din pesanannya,” kata Bapak.
Tanpa berterima kasih pada Bapak aku langsung membuka kantung plastik yang di bawa Bapak. Bapak dan Ibu cuma bisa menggelengkan kepala melihat tingkahku. Tapi begitu aku melihat isi yang ada dalam kantung itu aku langsung kecewa.
“ Bapak ini bagaimana sich? Tadi pagi kan Dini pesan boneka beruang seperti punya teman - teman Dini. Tapi kok Bapak bawa boneka beruang yang tidak ada tangannya.”
“ Apalagi sih Din Bapakmu kan sudah bawa yang kamu pesan.”
“ Tapi bu kalo bonekanya seperti ini Dini bisa malu bu kalo di tunjukkan ke teman - teman Dini, mereka pasti menertawakan Dini. Pokoknya besok Dini nggak mau sekolah”
“ Dini teman - temanmu kan anaknya orang kaya, sedangkan kamu cuma anak seorang pemulung. Masih untung kamu bisa makan, sekolah saja kamu mendapatkan beasiswakan. Kalau besok kamu tidak masuk bisa - bisa beasiswamu di cabut.”
“ Kenapa sih Dini dilahirkan di keluarga miskin, kenapa Dini kok nggak terlahir dari keluarga pejabat seperti keluarga Nita.”
Plak!!! Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku langsung pergi meninggalkan kedua orang tuaku dengan emosi yang memuncak. Aku merasa Allah tak adil padaku. Mengapa Dia memberiku sebuah keluarga yang miskin. Bapak seorang pemulung sedangkan Ibu seorang buruh cuci. Mengapa aku tak terlahir di keluarga Nita yang Ayahnya seorang anggota DPR sedangkan Ibunya adalah pemilik sebuah Mall yang terkenal di kotaku.
Andaikan saja aku bertukar tempat dengan Nita. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya menjadi anak seorang pemulung yang selalu dihina. Aku juga ingin merasakan menjadi seorang Nita, yang selebritis, anak seorang pejabat. Tapi sayang semua itu hanya impian semu belaka.
Sekarang aku tak tahu aku harus tidur di mana. Aku tak mungkin pulang karena kedua orang tuaku pasti masih marah padaku. Apa aku harus tidur di emperan toko. Aku sudah lelah berjalan, apa aku pulang saja. Ah biarlahlah aku tidur di sini saja. Angin berhembus sangat lembut seakan dia tahu bahwa aku sedang kedinginan. Dan akhirnya aku tidur beralaskan tanah dan berselimutkan dinginnya malam.
Sang Surya membangukanku dengan sinarnya yang menerpa tubuhku. Betapa nyenyaknya tidurku malam ini. Tapi kok alasku untuk tidur berubah menjadi empuk. Dan suasana ini bukan suasana emperan toko yang kemarin menjadi tempatku untuk tidur. Ini adalah suasana sebuah kamar.
“ Pagi non, Tuan dan Nyonya sudah menunggu di bawah untuk sarapan.”
Ya Allah ini bukan mimpikan. Harapanku terkabul aku bertukar tempat dengan Nita seperti film yang pernah ku tonton dulu.
Aku langsung bergegas untuk menuju ke ruang makan. Aku begitu kaget melihat kedua orang yang sedang sarapan di ruang makan. Mereka adalah Bapak dan Ibuku.
“ Bapak, Ibu…”
“ Pagi sayang Dini kamu sudah lupa ya mulai Papimu ini menjadi anggota DPR kamu harus memanggil kami Papi dan Mami jangan Bapak dan Ibu. Oh ya Mami berangkat dulu ya ada janji mau lihat koleksi berlian yang di miliki Ibu - Ibu sekalian memamerkan Berlian milik Mami.”
Ketika aku hendak memberi salam pada Ibu, Ibu malah berlalu. Aneh tidak seperti biasanya.
“ Sayang Papi berangkat dulu.”
Seperti Ibu, Bapak juga banyak berubah. Sepertinya mereka terburu - buru. Ah biarlah yang penting sekarang impianku telah terkabul. Aku jadi anak seorang pejabat. Aku begitu senang tak sabar rasanya aku melenggang ke sekolahku melihat ekspresi teman - temanku.
Di sekolah aku menjadi pusat perhatian bahkan Rendra lelaki yang selama ini aku sukai mau mendekatiku. Dulu menoleh padaku saja tidak, sekarang malah dia yang selalu menyapaku. Ini baru yang namanya hidup bahagia. Aku tak pernah merasakan sebahagia ini dulu.
Nanti pulang sekolah aku akan mengajak teman - temanku pergi menonton di bioskop milikku yang baru saja diresmikan oleh Bapakku oh ya aku lupa maksudku Papiku.
Aku melihat Nita sekarang berubah, ya berbalik seratus delapan puluh derajat denganku. Aku sangat menikmati hidupku saat ini. Teman - temanku tak ada lagi yang memanggilku dengan sebutan ` anak pemulung `. Predikat itu kini disandang oleh Nita.
Di rumah aku tak perlu lagi mengerjakan pekerjaan rumah yang melelahkan karena para pelayanku yang mengerjakan semuanya. Yang aku kerjakan hanya tidur, menonton tv, mendengarkan musik ya pokoknya santai terus.
Semua kenikmatan ini membuatku lupa diri. Aku tak pernah lagi berkumpul dengan teman - temanku yang dulu. Yang menyayangiku apa adanya. Tapi sekarang aku tak lagi membutuhkan mereka, karena di sini aku memiliki banyak teman yang sederajat denganku.
Hari ini aku ada janji dengan Rendra untuk pergi ke acara ulang tahun Chintya di sebuah Hotel ternama di kotaku. Sebuah mobil BMW mulus menjemputku. Dengan menggunakan gaun terindahku aku melenggang tanpa memperdulikan semua pasang mata yang tertuju padaku dan Rendra.
Di pesta itu aku seperti seorang putri yang selalu menjadi pusat perhatian. Tapi aku melihat Nita datang juga ke pesta itu bersama teman - teman gembelnya. Ih… mengapa mereka datang ke sini merusak pemandangan saja. Aku langsung menghampiri mereka.
“ Dini… kamu Dinikan. Masya Allah Dini kamu cantik banget. Impian kamu sekarang terkabul ya,” kata Ira.
“ Udah deh gak usah norak gitu kenapa biasa aja lagi. Eh kalian ngapain ke sini? Oh… aku tahu, pasti kalian mau ngambilin botol - botol bekas ya, kaliankan pemulung. Asal kalian tahu ya kalian tuh nggak pantes ada di sini ngerusak pe..man..da..ngan.. tahu?!?!”
“ Astaugfirullah Dini kamu kok berubah gini sih Din kamu bukan kayak Dini yang dulu. Kami tahu kami cuma anak seorang pemulung dan kami nggak pantes ada di sini, tapi kami ke sini karena Chintya ngundang kami.”
“ Ya… ya….ya… udah selesai ceramahnya. Emang aku bukan Dini yang dulu, Dini yang dulu tuh anak seorang pemulung kalo Dini yang sekarang tuh anaknya pejabat ngerti. Udah deh mendingan kalian pergi aja.”
Semua anak - anak gembel itupun segera pergi. Aku nggak habis pikir. Kok bisa ya Chintya mengundang gembel - gembel itu. Merusak pemandangan saja.
Sampai di rumah aku tak menemukan kedua orang tuaku. Mereka pasti belum pulang. Sudah lama aku tak merasakan kasih sayang orang tuaku. Melihatnya saja jarang karena keduanya selalu saja berangkat pagi, pulang malam. Aku rindu masa - masa dulu, walaupun dulu Bapak hanya seorang pemulung kami selalu berkumpul untuk sekedar bercanda saja.
Tapi biarlah yang penting saat ini hidupku sekarang telah berubah seperti yang kuimpi - impikan. Sekarang saatnya aku tidur di atas kasurku yang empuk.
Sang Surya pagi ini tertutup awan tebal. Untung saja hari ini hari minggu jadi aku bisa tidur lebih lama di kasur favoritku. Tapi tiba - tiba ada suara gaduh di lantai bawah. Dan aku mengintipnya ternyata ada beberapa orang petugas yang hendak menangkap Papi. Ada apa ini? Papipun di bawa ke kantor polisi. Akupun menanyakannya pada Mami. Kata Mami, Papi melakukan korupsi dana pendidikan.
Ya Allah mengapa keluargaku menjadi hancur seperti ini. Mengapa Bapak melakukan semua itu. Aku benci pada Bapak yang sekarang. Tapi aku kan masih punya teman - temanku. Aku harus menceritakan semuanya pada mereka agar mereka mau memberikan solusi padaku.
Tanpa mengulur - ulur waktu aku langsung menceritakan semua masalahku pada Rendra. Tapi apa yang terjadi bukannya memberi solusi atau setidaknya menghiburku Rendra malah menjauhiku. Katanya dia tak mau berteman dengan orang miskin.
Ya Allah kini aku sadar teman - temanku bukanlah teman sejati yang mau menerimaku dikala senang maupun sedih, tapi mereka hanya mau berteman denganku ketika aku sedang diatas. Kini aku benar - benar rindu ketika aku masih menjadi anak pemulung seandainya aku tak pernah berharap untuk menjadi anak pejabat.
Air mata penyesalan terus mengalir membasahi pipiku. Andaikan aku tak pernah menuntut Bapak untuk menjadi orang kaya. Hari ini adalah hari terakhirku untuk tidur di kasur favoritku karena besok aku dan Ibu harus pergi dari rumah ini.
Tiba - tiba suara gaduh membangunkanku, ternyata itu adalah suara para pemilik toko yang mengusirku dari tempatku tidur. Ya Allah ini semua hanya mimpi. Berarti aku masih jadi anak pemulung yang Bapaknya bukan seorang koruptor. Alhamdulillah permintaanku terkabul.
Aku langsung pergi kembali ke rumah. Aku tak peduli walaupun Bapak dan Ibu marah padaku karena semalam aku tak pulang. Mereka marahkan karena memang aku salah. Aku rindu menatap wajah Bapak yang begitu berwibawa dan wajah Ibu yang begitu menentramkan hatiku.
“ Dini… kamu ke mana saja ,nak. Bapak dan Ibu khawatir padamu.”
“ Maafkan Dini ,Pak,Bu. Dini tahu Dini salah.”
“ Sudahlah ,nak yang penting sekarang kau sudah pulang. Bapak janji nanti Bapak akan membelikan boneka beruang seperti milik teman - temanmu, tapi hari ini kamu ekolah ya.”
“ Nggak usah ,Pak. Dini sudah nggak perlu lagi boneka itu. Dini lebih senang jadi diri sendiri nggak memaksakan kehendak Dini. Uang itukan bisa buat kita sekeluarga makan ya kan ,Bu. Sekarang Dini mau mandi dulu takut terlambat ke sekolah.”
Bapak dan Ibu tersenyum melihat tingkahku. Aku begitu senang memamandang wajah mereka sekarang walaupun wajah Bapak dan Ibu dalam mimpiku terlihat lebih rapi tapi aku lebih senang memandangi mereka sekarang.
Aku segera menyusul teman - temanku untuk berangkat sekolah.
“ Din… gimana kamu udah dapet bonekanya ?” tanya Ira.
“ Belum,” jawabku.
“ Kamu gimana sih Din katanya kamu nggak mau disebut “anak pemulung” sama Nita syaratnya kan cuma kamu bawa boneka kayak punya dia.”
“ Lho memangnya kenapa kalo aku disebut `anak pemulung` akukan memang anak pemulung. Ngapain harus malu, inikan pekerjaan halal daripada Bapakku jadi pejabat terus korupsi. Aku baru malu kalo disebut `anak koruptor` benerkan?”
“ Kamu berubah Din. Aku lebih suka Dini yang sekarang daripada Dini yang dulu. Kenapa harus malu kalo Bapak kita pemulung yakan.”
Aku dan kawan - kawanku melenggang dengan riang menuju ke sekolah.
“ Hai `anak pemulung` gimana udah dapet boneka yang kita pesen.” tanya Cindy.
“ Eh inget lho kita nggak mau dibawain boneka yang nggak utuh ato boneka dari tempat sampah,” kata Nita.
“ Ya nggak mungkin lah ,Nit Si `anak pemulung` ini bisa dapet boneka baru,” kata Cindy.
“ Ya emang aku nggak dapet bonekanya….”
“ Tuh kan , jadi kamu harus siap dong di panggil `anak pemulung`.”
“ Ya terserah kalian mau panggil aku `anak pemulung`, daripada dipanggil `ANAK KORUPTOR`.” Setelah puas berkata aku dan kawan - kawanku meninggalkan Nita dan Cindy yang masih melongo.
Aku sadar buat apa malu dengan keadaan orang tuaku. Toh walaupun aku malu itu takkan merubah keadan orang tuaku kan. Sekarang aku tak lagi ingin menjadi anak seorang pejabat ataupun sebangsnya. Aku lebih senang menjadi anak eorang pemulung yang hidup berbahagia
“ Waalaikumsalam. Bapak mana pesanan Dini tadi pagi, pak ?,” jawabku tanpa menunggu Bapak melepas lelah barang sejenak.
“ Din… kasian Bapak baru pulang istirahat dulu baru nanti kamu tanya,” kata Ibu.
“ Sudahlah Bu biarkan saja, ini Din pesanannya,” kata Bapak.
Tanpa berterima kasih pada Bapak aku langsung membuka kantung plastik yang di bawa Bapak. Bapak dan Ibu cuma bisa menggelengkan kepala melihat tingkahku. Tapi begitu aku melihat isi yang ada dalam kantung itu aku langsung kecewa.
“ Bapak ini bagaimana sich? Tadi pagi kan Dini pesan boneka beruang seperti punya teman - teman Dini. Tapi kok Bapak bawa boneka beruang yang tidak ada tangannya.”
“ Apalagi sih Din Bapakmu kan sudah bawa yang kamu pesan.”
“ Tapi bu kalo bonekanya seperti ini Dini bisa malu bu kalo di tunjukkan ke teman - teman Dini, mereka pasti menertawakan Dini. Pokoknya besok Dini nggak mau sekolah”
“ Dini teman - temanmu kan anaknya orang kaya, sedangkan kamu cuma anak seorang pemulung. Masih untung kamu bisa makan, sekolah saja kamu mendapatkan beasiswakan. Kalau besok kamu tidak masuk bisa - bisa beasiswamu di cabut.”
“ Kenapa sih Dini dilahirkan di keluarga miskin, kenapa Dini kok nggak terlahir dari keluarga pejabat seperti keluarga Nita.”
Plak!!! Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku langsung pergi meninggalkan kedua orang tuaku dengan emosi yang memuncak. Aku merasa Allah tak adil padaku. Mengapa Dia memberiku sebuah keluarga yang miskin. Bapak seorang pemulung sedangkan Ibu seorang buruh cuci. Mengapa aku tak terlahir di keluarga Nita yang Ayahnya seorang anggota DPR sedangkan Ibunya adalah pemilik sebuah Mall yang terkenal di kotaku.
Andaikan saja aku bertukar tempat dengan Nita. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya menjadi anak seorang pemulung yang selalu dihina. Aku juga ingin merasakan menjadi seorang Nita, yang selebritis, anak seorang pejabat. Tapi sayang semua itu hanya impian semu belaka.
Sekarang aku tak tahu aku harus tidur di mana. Aku tak mungkin pulang karena kedua orang tuaku pasti masih marah padaku. Apa aku harus tidur di emperan toko. Aku sudah lelah berjalan, apa aku pulang saja. Ah biarlahlah aku tidur di sini saja. Angin berhembus sangat lembut seakan dia tahu bahwa aku sedang kedinginan. Dan akhirnya aku tidur beralaskan tanah dan berselimutkan dinginnya malam.
Sang Surya membangukanku dengan sinarnya yang menerpa tubuhku. Betapa nyenyaknya tidurku malam ini. Tapi kok alasku untuk tidur berubah menjadi empuk. Dan suasana ini bukan suasana emperan toko yang kemarin menjadi tempatku untuk tidur. Ini adalah suasana sebuah kamar.
“ Pagi non, Tuan dan Nyonya sudah menunggu di bawah untuk sarapan.”
Ya Allah ini bukan mimpikan. Harapanku terkabul aku bertukar tempat dengan Nita seperti film yang pernah ku tonton dulu.
Aku langsung bergegas untuk menuju ke ruang makan. Aku begitu kaget melihat kedua orang yang sedang sarapan di ruang makan. Mereka adalah Bapak dan Ibuku.
“ Bapak, Ibu…”
“ Pagi sayang Dini kamu sudah lupa ya mulai Papimu ini menjadi anggota DPR kamu harus memanggil kami Papi dan Mami jangan Bapak dan Ibu. Oh ya Mami berangkat dulu ya ada janji mau lihat koleksi berlian yang di miliki Ibu - Ibu sekalian memamerkan Berlian milik Mami.”
Ketika aku hendak memberi salam pada Ibu, Ibu malah berlalu. Aneh tidak seperti biasanya.
“ Sayang Papi berangkat dulu.”
Seperti Ibu, Bapak juga banyak berubah. Sepertinya mereka terburu - buru. Ah biarlah yang penting sekarang impianku telah terkabul. Aku jadi anak seorang pejabat. Aku begitu senang tak sabar rasanya aku melenggang ke sekolahku melihat ekspresi teman - temanku.
Di sekolah aku menjadi pusat perhatian bahkan Rendra lelaki yang selama ini aku sukai mau mendekatiku. Dulu menoleh padaku saja tidak, sekarang malah dia yang selalu menyapaku. Ini baru yang namanya hidup bahagia. Aku tak pernah merasakan sebahagia ini dulu.
Nanti pulang sekolah aku akan mengajak teman - temanku pergi menonton di bioskop milikku yang baru saja diresmikan oleh Bapakku oh ya aku lupa maksudku Papiku.
Aku melihat Nita sekarang berubah, ya berbalik seratus delapan puluh derajat denganku. Aku sangat menikmati hidupku saat ini. Teman - temanku tak ada lagi yang memanggilku dengan sebutan ` anak pemulung `. Predikat itu kini disandang oleh Nita.
Di rumah aku tak perlu lagi mengerjakan pekerjaan rumah yang melelahkan karena para pelayanku yang mengerjakan semuanya. Yang aku kerjakan hanya tidur, menonton tv, mendengarkan musik ya pokoknya santai terus.
Semua kenikmatan ini membuatku lupa diri. Aku tak pernah lagi berkumpul dengan teman - temanku yang dulu. Yang menyayangiku apa adanya. Tapi sekarang aku tak lagi membutuhkan mereka, karena di sini aku memiliki banyak teman yang sederajat denganku.
Hari ini aku ada janji dengan Rendra untuk pergi ke acara ulang tahun Chintya di sebuah Hotel ternama di kotaku. Sebuah mobil BMW mulus menjemputku. Dengan menggunakan gaun terindahku aku melenggang tanpa memperdulikan semua pasang mata yang tertuju padaku dan Rendra.
Di pesta itu aku seperti seorang putri yang selalu menjadi pusat perhatian. Tapi aku melihat Nita datang juga ke pesta itu bersama teman - teman gembelnya. Ih… mengapa mereka datang ke sini merusak pemandangan saja. Aku langsung menghampiri mereka.
“ Dini… kamu Dinikan. Masya Allah Dini kamu cantik banget. Impian kamu sekarang terkabul ya,” kata Ira.
“ Udah deh gak usah norak gitu kenapa biasa aja lagi. Eh kalian ngapain ke sini? Oh… aku tahu, pasti kalian mau ngambilin botol - botol bekas ya, kaliankan pemulung. Asal kalian tahu ya kalian tuh nggak pantes ada di sini ngerusak pe..man..da..ngan.. tahu?!?!”
“ Astaugfirullah Dini kamu kok berubah gini sih Din kamu bukan kayak Dini yang dulu. Kami tahu kami cuma anak seorang pemulung dan kami nggak pantes ada di sini, tapi kami ke sini karena Chintya ngundang kami.”
“ Ya… ya….ya… udah selesai ceramahnya. Emang aku bukan Dini yang dulu, Dini yang dulu tuh anak seorang pemulung kalo Dini yang sekarang tuh anaknya pejabat ngerti. Udah deh mendingan kalian pergi aja.”
Semua anak - anak gembel itupun segera pergi. Aku nggak habis pikir. Kok bisa ya Chintya mengundang gembel - gembel itu. Merusak pemandangan saja.
Sampai di rumah aku tak menemukan kedua orang tuaku. Mereka pasti belum pulang. Sudah lama aku tak merasakan kasih sayang orang tuaku. Melihatnya saja jarang karena keduanya selalu saja berangkat pagi, pulang malam. Aku rindu masa - masa dulu, walaupun dulu Bapak hanya seorang pemulung kami selalu berkumpul untuk sekedar bercanda saja.
Tapi biarlah yang penting saat ini hidupku sekarang telah berubah seperti yang kuimpi - impikan. Sekarang saatnya aku tidur di atas kasurku yang empuk.
Sang Surya pagi ini tertutup awan tebal. Untung saja hari ini hari minggu jadi aku bisa tidur lebih lama di kasur favoritku. Tapi tiba - tiba ada suara gaduh di lantai bawah. Dan aku mengintipnya ternyata ada beberapa orang petugas yang hendak menangkap Papi. Ada apa ini? Papipun di bawa ke kantor polisi. Akupun menanyakannya pada Mami. Kata Mami, Papi melakukan korupsi dana pendidikan.
Ya Allah mengapa keluargaku menjadi hancur seperti ini. Mengapa Bapak melakukan semua itu. Aku benci pada Bapak yang sekarang. Tapi aku kan masih punya teman - temanku. Aku harus menceritakan semuanya pada mereka agar mereka mau memberikan solusi padaku.
Tanpa mengulur - ulur waktu aku langsung menceritakan semua masalahku pada Rendra. Tapi apa yang terjadi bukannya memberi solusi atau setidaknya menghiburku Rendra malah menjauhiku. Katanya dia tak mau berteman dengan orang miskin.
Ya Allah kini aku sadar teman - temanku bukanlah teman sejati yang mau menerimaku dikala senang maupun sedih, tapi mereka hanya mau berteman denganku ketika aku sedang diatas. Kini aku benar - benar rindu ketika aku masih menjadi anak pemulung seandainya aku tak pernah berharap untuk menjadi anak pejabat.
Air mata penyesalan terus mengalir membasahi pipiku. Andaikan aku tak pernah menuntut Bapak untuk menjadi orang kaya. Hari ini adalah hari terakhirku untuk tidur di kasur favoritku karena besok aku dan Ibu harus pergi dari rumah ini.
Tiba - tiba suara gaduh membangunkanku, ternyata itu adalah suara para pemilik toko yang mengusirku dari tempatku tidur. Ya Allah ini semua hanya mimpi. Berarti aku masih jadi anak pemulung yang Bapaknya bukan seorang koruptor. Alhamdulillah permintaanku terkabul.
Aku langsung pergi kembali ke rumah. Aku tak peduli walaupun Bapak dan Ibu marah padaku karena semalam aku tak pulang. Mereka marahkan karena memang aku salah. Aku rindu menatap wajah Bapak yang begitu berwibawa dan wajah Ibu yang begitu menentramkan hatiku.
“ Dini… kamu ke mana saja ,nak. Bapak dan Ibu khawatir padamu.”
“ Maafkan Dini ,Pak,Bu. Dini tahu Dini salah.”
“ Sudahlah ,nak yang penting sekarang kau sudah pulang. Bapak janji nanti Bapak akan membelikan boneka beruang seperti milik teman - temanmu, tapi hari ini kamu ekolah ya.”
“ Nggak usah ,Pak. Dini sudah nggak perlu lagi boneka itu. Dini lebih senang jadi diri sendiri nggak memaksakan kehendak Dini. Uang itukan bisa buat kita sekeluarga makan ya kan ,Bu. Sekarang Dini mau mandi dulu takut terlambat ke sekolah.”
Bapak dan Ibu tersenyum melihat tingkahku. Aku begitu senang memamandang wajah mereka sekarang walaupun wajah Bapak dan Ibu dalam mimpiku terlihat lebih rapi tapi aku lebih senang memandangi mereka sekarang.
Aku segera menyusul teman - temanku untuk berangkat sekolah.
“ Din… gimana kamu udah dapet bonekanya ?” tanya Ira.
“ Belum,” jawabku.
“ Kamu gimana sih Din katanya kamu nggak mau disebut “anak pemulung” sama Nita syaratnya kan cuma kamu bawa boneka kayak punya dia.”
“ Lho memangnya kenapa kalo aku disebut `anak pemulung` akukan memang anak pemulung. Ngapain harus malu, inikan pekerjaan halal daripada Bapakku jadi pejabat terus korupsi. Aku baru malu kalo disebut `anak koruptor` benerkan?”
“ Kamu berubah Din. Aku lebih suka Dini yang sekarang daripada Dini yang dulu. Kenapa harus malu kalo Bapak kita pemulung yakan.”
Aku dan kawan - kawanku melenggang dengan riang menuju ke sekolah.
“ Hai `anak pemulung` gimana udah dapet boneka yang kita pesen.” tanya Cindy.
“ Eh inget lho kita nggak mau dibawain boneka yang nggak utuh ato boneka dari tempat sampah,” kata Nita.
“ Ya nggak mungkin lah ,Nit Si `anak pemulung` ini bisa dapet boneka baru,” kata Cindy.
“ Ya emang aku nggak dapet bonekanya….”
“ Tuh kan , jadi kamu harus siap dong di panggil `anak pemulung`.”
“ Ya terserah kalian mau panggil aku `anak pemulung`, daripada dipanggil `ANAK KORUPTOR`.” Setelah puas berkata aku dan kawan - kawanku meninggalkan Nita dan Cindy yang masih melongo.
Aku sadar buat apa malu dengan keadaan orang tuaku. Toh walaupun aku malu itu takkan merubah keadan orang tuaku kan. Sekarang aku tak lagi ingin menjadi anak seorang pejabat ataupun sebangsnya. Aku lebih senang menjadi anak eorang pemulung yang hidup berbahagia
PERSAHABTAN KITA
Besok adalah ulang tahun Febri, sahabatku. Jadi hari ini aku dan teman - teman mempersiapakan rencana untuk mengerjainya besok. Aku tentu juga akan mempersiapkan kado untuknya. Karena itu aku dan teman teman pergi ke mall untuk membeli kado untuknya.
Sebuah kotak yang berisikan sebuah novel berhiaskan pita merah jambu telah ku siapkan untuknya. Rencananya besok aku akan berakting. Besok aku akan pura - pura memusuhinya karena Rizky, cowok yang menjadi incaranku ternyata menyukai Febri tapi ini semua adalah pura - pura. Aku mengecek pelajaran untuk besok kado untuk Febripun telah aku siapkan. Semoga semua rencanaku besok berhasil.
Hari ini sang Surya bersembunyi di balik awan yang hitam dengan rintik - rintik hujan yang diiringi bunyi petir yang menggelegar. Walaupun begitu aku harus tetap pergi ke sekolah. Di dalam tasku telah kusiapkan obat tetes mata untuk memperlancar aktingku. Aku tidak sabar bagaimana ya kira - kira ekspresi Febri ketika dia sedang kumarahi. Di jalan tak henti - hentinya aku tersenyum karena mebayangkan ekspresi Febri.
Tak lama kemudian aku sudah sampai di kelasku, ternyata Febri belum datang dan aku membicarakan dengan teman - temanku tentang semua itu. Saat Febri datang, akting dimulai. Febri menyapaku lalu duduk di sebelahku, tapi aku tak membalasnya aku malah menyuruh Nita untuk bertukar tempat duduk. Mataku memandang Febri dengan tatapan penuh benci. Febri tak berani menanyakannya padaku. Matanya hanya menatap bingung padaku.
Saat pelajaran tiba biasanya ada saja yang kami bicarakan tapi hari ini tidak ada pembicaraan diantara kami. Bangku kami serasa sepi. Teman - teman sekelompokku menanyakan pada Febri mengapa kami berdua tidak duduk bersebelahan dan tidak berbicara atau bernyanyi. Febri mengangkat kedua bahunya yang menandakan dia juga tidak tahu.
Sebenarnya tidak enak juga sih tidak berbicara dengan Febri, tapi aku harus menepati janjiku dengan teman - temanku. Ingin rasanya aku membunyikan bel istirahat agar sandiwara ini segera berakhir, tapi bel istirahat baru berbunyi satu jam lagi. Huh… aku tak tahan tak berbicara dengan Febri. Mulutku seakan ingin mengucapan sesuatu untuk memulai pembicaraan dengan Febri. Tidak… aku harus tahan agar sandiwara ini sukses.
Akhirnya bel istirahat berbunyi, saat Febri ingin pergi ke kantin aku menahannya. Sebelumnya aku telah meneteskan obat tetes mata.
“ Feb, aku mau ngomong sama kamu,” kataku.
“ Ngomongin apa Cin?” kata Febri.
Lalu tak menunggu kesempatan lagi aku langsung saja memarahi Febri. Aku mengatakan padanya bahwa dia adalah orang yang menyebalkan, kecententilan, teman makan teman, jahat, kejam dan lain sebagainya. Lalu Febri menanyakan sebab aku berkata demikian dan aku menceritakan cerita palsu bahwa kemarin aku meyatakan cintaku pada Rizky, tapi Rizky menolakku karena dia menyukai Febri. Aku menyangka jika Febri akan menangis dan mengatakan jika itu semua tidak benar. Tapi….
“ Sorry Cin, bukan maksudku buat kamu sedih, aku ngerti kalo kamu sayang banget sama Rizky. Tapi aku sama Rizky saling sayang jadi aku nggak nolak waktu Rizky nembak aku.”
“ Apa?!?!?!?! Kamu sama Rizky jadian beneran???”
“ Lho kamu nggak tahu kalo aku udah jadian sama Rizky, terus kenapa kamu marahin aku aku kira kamu marah karena kamu udah tahu kalo aku udah jadian sama Rizky.”
Aku langsung mengambil kado untuk Febri.
“ Happy birthday my best friend, kamu udah bikin kado sendiri buat ulang tahunmu kali ini. Ini buat kamu,” kataku sambil melempar kado untuk Febri ke muka Febri.
Saat ini air mataku metetes, tapi bukan lagi air mata palsu ini adalah air mata yang keluar karna kekecewaanku pada sahabatku. Aku sama sekali tak menyangka jika Febri bisa melakukan itu padaku. Dulu waktu Ryo,cowok yang dicintai Febri menyatakan cintanya padaku aku menolaknya padahal aku sangat mencintai Ryo saat itu ,demi persahabatanku dengan Febri. Ketika aku mulai mau belajar mencintai cowok lain selain Ryo yaitu Rizky, Febri malah berpacaran dengan Rizky. Itu yang dinamakan sahabat.
Febri mendekatiku untuk meminta maaf, tapi hatiku terlalu sakit untuk menerimanya dan aku memintanya untuk membiarkanku sendiri untuk beberapa waktu. Kulihat wajahnya begitu merasa bersalah. Tapi aku tak peduli yang kupikirkan bagaimana bisa ia berbuat seperti itu padaku.
Malam harinya, aku bermimpi tentang semua kenanganku bersama Febri. Aku mengingat betapa sakitnya ketikaku harus menolak Ryo karna aku takut Febri sakit hati. Saat ini Febri mencintai Rizky dan Rizky juga mencintai Febri. Jika aku tetap memaksakan kehendakku sendiri agar Risky mencintaiku, sia - sia semua rasa sakit yang kuterima ketikaku menolak Ryo agar Febri tak sakit hati.
Hari ini Mentari bersinar cerah lebih cerah dari biasanya seakan hari ini adalah hari terindah untukku. Aku melihat Febri menunggu seseorang di depan gerbang sekolah. Saat aku akan masuk Febri mencegahku. Aku melihat Febri menatapku dengan perasaan penuh penyesalan. Tanpa menunggu Febri meminta maaf padaku aku langsung memeluknya.
“ Cin… Sorry ya aku tahu kamu sayang banget sama Rizky, kalo kamu mau aku mau kok mutusin Rizky sekarang di depanmu.”
“ Nggak perlu Feb, kalo kamu mutusin Rizky sia - sia dong dulu aku nolak Ryo padahal aku sayang banget sama dia supaya kamu nggak sakit hati. Yang penting kamu harus janji nggak akan nyakitin Rizky.”
“ Aku janji nggak akan nyakitin Rizky. Cinta berarti aku jahat banget dong kamu udah berkorban tapi aku nggak mau berkorban Cin…”
“ Ssst … aku sadar persahabatan kita adalah segala - galanya dan aku nggak mau ngrusak semua itu gara - gara namaku.”
“ Namamu?”
“ Ya namaku kan Cinta dan aku nggak mau persahabatan kita rusak gara - gara cinta.”
“ Ah… kamu sempet - sempetnya bercanda, masuk kelas yuk.”
Aku hanya tersenyum. Kini aku sadar persahabatan adalah segala - galanya. Dan aku tidak mau merusak persahaban yang telah aku jalin bersama Febri gara - gara sebuah kata yaitu Cinta. Aku juga sadar cinta tak harus memiliki. Toh selama janur kuning belum melengkung aku masih bisa berjuang untuk mendapatkan cinta Rizky kan. He…he…he…
Sebuah kotak yang berisikan sebuah novel berhiaskan pita merah jambu telah ku siapkan untuknya. Rencananya besok aku akan berakting. Besok aku akan pura - pura memusuhinya karena Rizky, cowok yang menjadi incaranku ternyata menyukai Febri tapi ini semua adalah pura - pura. Aku mengecek pelajaran untuk besok kado untuk Febripun telah aku siapkan. Semoga semua rencanaku besok berhasil.
Hari ini sang Surya bersembunyi di balik awan yang hitam dengan rintik - rintik hujan yang diiringi bunyi petir yang menggelegar. Walaupun begitu aku harus tetap pergi ke sekolah. Di dalam tasku telah kusiapkan obat tetes mata untuk memperlancar aktingku. Aku tidak sabar bagaimana ya kira - kira ekspresi Febri ketika dia sedang kumarahi. Di jalan tak henti - hentinya aku tersenyum karena mebayangkan ekspresi Febri.
Tak lama kemudian aku sudah sampai di kelasku, ternyata Febri belum datang dan aku membicarakan dengan teman - temanku tentang semua itu. Saat Febri datang, akting dimulai. Febri menyapaku lalu duduk di sebelahku, tapi aku tak membalasnya aku malah menyuruh Nita untuk bertukar tempat duduk. Mataku memandang Febri dengan tatapan penuh benci. Febri tak berani menanyakannya padaku. Matanya hanya menatap bingung padaku.
Saat pelajaran tiba biasanya ada saja yang kami bicarakan tapi hari ini tidak ada pembicaraan diantara kami. Bangku kami serasa sepi. Teman - teman sekelompokku menanyakan pada Febri mengapa kami berdua tidak duduk bersebelahan dan tidak berbicara atau bernyanyi. Febri mengangkat kedua bahunya yang menandakan dia juga tidak tahu.
Sebenarnya tidak enak juga sih tidak berbicara dengan Febri, tapi aku harus menepati janjiku dengan teman - temanku. Ingin rasanya aku membunyikan bel istirahat agar sandiwara ini segera berakhir, tapi bel istirahat baru berbunyi satu jam lagi. Huh… aku tak tahan tak berbicara dengan Febri. Mulutku seakan ingin mengucapan sesuatu untuk memulai pembicaraan dengan Febri. Tidak… aku harus tahan agar sandiwara ini sukses.
Akhirnya bel istirahat berbunyi, saat Febri ingin pergi ke kantin aku menahannya. Sebelumnya aku telah meneteskan obat tetes mata.
“ Feb, aku mau ngomong sama kamu,” kataku.
“ Ngomongin apa Cin?” kata Febri.
Lalu tak menunggu kesempatan lagi aku langsung saja memarahi Febri. Aku mengatakan padanya bahwa dia adalah orang yang menyebalkan, kecententilan, teman makan teman, jahat, kejam dan lain sebagainya. Lalu Febri menanyakan sebab aku berkata demikian dan aku menceritakan cerita palsu bahwa kemarin aku meyatakan cintaku pada Rizky, tapi Rizky menolakku karena dia menyukai Febri. Aku menyangka jika Febri akan menangis dan mengatakan jika itu semua tidak benar. Tapi….
“ Sorry Cin, bukan maksudku buat kamu sedih, aku ngerti kalo kamu sayang banget sama Rizky. Tapi aku sama Rizky saling sayang jadi aku nggak nolak waktu Rizky nembak aku.”
“ Apa?!?!?!?! Kamu sama Rizky jadian beneran???”
“ Lho kamu nggak tahu kalo aku udah jadian sama Rizky, terus kenapa kamu marahin aku aku kira kamu marah karena kamu udah tahu kalo aku udah jadian sama Rizky.”
Aku langsung mengambil kado untuk Febri.
“ Happy birthday my best friend, kamu udah bikin kado sendiri buat ulang tahunmu kali ini. Ini buat kamu,” kataku sambil melempar kado untuk Febri ke muka Febri.
Saat ini air mataku metetes, tapi bukan lagi air mata palsu ini adalah air mata yang keluar karna kekecewaanku pada sahabatku. Aku sama sekali tak menyangka jika Febri bisa melakukan itu padaku. Dulu waktu Ryo,cowok yang dicintai Febri menyatakan cintanya padaku aku menolaknya padahal aku sangat mencintai Ryo saat itu ,demi persahabatanku dengan Febri. Ketika aku mulai mau belajar mencintai cowok lain selain Ryo yaitu Rizky, Febri malah berpacaran dengan Rizky. Itu yang dinamakan sahabat.
Febri mendekatiku untuk meminta maaf, tapi hatiku terlalu sakit untuk menerimanya dan aku memintanya untuk membiarkanku sendiri untuk beberapa waktu. Kulihat wajahnya begitu merasa bersalah. Tapi aku tak peduli yang kupikirkan bagaimana bisa ia berbuat seperti itu padaku.
Malam harinya, aku bermimpi tentang semua kenanganku bersama Febri. Aku mengingat betapa sakitnya ketikaku harus menolak Ryo karna aku takut Febri sakit hati. Saat ini Febri mencintai Rizky dan Rizky juga mencintai Febri. Jika aku tetap memaksakan kehendakku sendiri agar Risky mencintaiku, sia - sia semua rasa sakit yang kuterima ketikaku menolak Ryo agar Febri tak sakit hati.
Hari ini Mentari bersinar cerah lebih cerah dari biasanya seakan hari ini adalah hari terindah untukku. Aku melihat Febri menunggu seseorang di depan gerbang sekolah. Saat aku akan masuk Febri mencegahku. Aku melihat Febri menatapku dengan perasaan penuh penyesalan. Tanpa menunggu Febri meminta maaf padaku aku langsung memeluknya.
“ Cin… Sorry ya aku tahu kamu sayang banget sama Rizky, kalo kamu mau aku mau kok mutusin Rizky sekarang di depanmu.”
“ Nggak perlu Feb, kalo kamu mutusin Rizky sia - sia dong dulu aku nolak Ryo padahal aku sayang banget sama dia supaya kamu nggak sakit hati. Yang penting kamu harus janji nggak akan nyakitin Rizky.”
“ Aku janji nggak akan nyakitin Rizky. Cinta berarti aku jahat banget dong kamu udah berkorban tapi aku nggak mau berkorban Cin…”
“ Ssst … aku sadar persahabatan kita adalah segala - galanya dan aku nggak mau ngrusak semua itu gara - gara namaku.”
“ Namamu?”
“ Ya namaku kan Cinta dan aku nggak mau persahabatan kita rusak gara - gara cinta.”
“ Ah… kamu sempet - sempetnya bercanda, masuk kelas yuk.”
Aku hanya tersenyum. Kini aku sadar persahabatan adalah segala - galanya. Dan aku tidak mau merusak persahaban yang telah aku jalin bersama Febri gara - gara sebuah kata yaitu Cinta. Aku juga sadar cinta tak harus memiliki. Toh selama janur kuning belum melengkung aku masih bisa berjuang untuk mendapatkan cinta Rizky kan. He…he…he…
DION SI BUAYA DARAT
Lagi - lagi aku ngeliat Dion sama Ririn, pacar Dion yang baru . Dion itu cowok paling keren di sekolah, tapi dia itu BUAYA . Nggak tau kenapa aku bisa sayang sama dia padahal jelas - jelas dia tuch udah ngebuat cewek - cewek yang jadi mantannya tersiksa . Aku bingung sama perasaanku kenapa aku harus sayang sama cowok buaya darat kayak Dion . Padahal ada cowok yang jelas - jelas sayang sama aku , namanya Haris .
“ Hayo , lagi ngeliatin sang pujaan hati ya ? “ kata Iva mengagetkanku .
“ Apa`an sich , gak lucu tau , “ jawabku .
“ Udah dech , ngaku aja kalo kamu tuch jealous ngeliat Dion ma Ririn , “ kata Iva .
“ Jealous?!?!?! Denger ya dalam kamus hidup Dinda Trivia Putri gak ada tuch kata
jealous , “ jawabku .
“ Iya dech non , gak ada kata jealous tapi adanya CEMBURU , “ kata Iva .
“ Kalo cemburu sich mungkin ada dikit , “ jawabku kayak orang bego .
“ Dasar oon cemburu ma jealous tuch sama tau ,” kata Iva kesel .
“ Bercanda kale . Iva ke kantin yuk ” kataku .
“ Come on let`s go to the canteen ,” kata Iva bersemangat .
Di kantin Dion sama Ririn pamer kemesraan . Aku muak banget ngeliat mereka . Emangnya penting ya pamer kemesraan kayak gitu . Menurutku gak penting banget . Emangnya semua orang harus tau kalo mereka udah jadian , nggak kan . Aku sama Iva nyari tempat duduk yang jauh dari Dion dan Ririn . Tiba - tiba aja Dion dateng ke mejaku .
“ Hai , pasti kamu Dinda ya . Kenalin aku Dion ,” kata Dion .
“ Aku udah tau kok . Semua anak sini juga pada tahu kamu .”
“ Oh ya, berarti aku termasuk orang terkenal dong di sekolah kita ,”
“ Narsis ,” ucapku lirih .
“ Kamu ngomong apa Din ? “
“ Ehm , enggak kok aku nggak ngomong apa - apa . Dion kita ke kelas dulu ya , bye ,”
“ Okey , bye ,”
Itu pertama kalinya aku bisa ngomong sama Dion . Selama ini aku hanya bisa ngeliat dia dari jauh . Aku seneng banget Dion mau kenalan sama aku . Mulai saat itu , Dion jadi perhatian sama aku . Kadang dia curi - curi pandang gitu ke aku waktu lagi ngomong sama
Ririn . Seneng banget rasanya serasa terbang ke langit ke tujuh .
Hari ini ada good news yang dateng dari Dion , Dion putus sama Ririn . Senangnya hatiku berarti ada kesempatan dong buat jadi ceweknya Dion . Emang sich si Dion tuch buaya darat tapi aku yakin dia pasti berubah kalo jadian sama aku .
Hal yang aku tunggu dateng juga . Akhirnya Dion nembak aku . Aku nggak langsung nerima , soalnya biar nggak keliatan gampangan gitu . Tapi akhirnya aku nerima dia juga .
Hari - hariku bareng Dion nyenengin banget . Dia tuch orangnya perhatian banget . Pokoknya dia tuch cowok paling perfect yang pernah jadi cowokku . Aku bangga banget bisa jalan ma dia . Rasanya aku pengen teriak di tengah jalan kalo aku akhirnya jadian sama cowok idamanku . Emang sich agak keterlaluan, abisnya aku udah cinta mati sama Dion .
“ Din , aku peringatin ya ati - ati ma Dion . Kamu ingetkan waktu dia jadian ma Ririn itu berapa lama cuma satu mingggu Din ,“ kata Haris .
“ Bilang aja kalo kamu tuch jealous ngeliat aku ma Dion ? “ kataku ketus .
“ Aku nggak pernah jealous . Kemaren aku liat dia berduaan ma Iva ,” kata Haris lagi .
“ Iva ?!?!?! Eh kalo bikin gosip tuch yang bener dong . Nggak mungkin Iva jalan ma Dion . Dia tuch sahabat aku yang bener aja kamu ,” jawabku ketus .
Aku langsung ningggalin Haris sendiri dan pergi ke kelasku . Hari ini ada pelajaran yang paling nyenengin yaitu bahasa Indonesia . Hari itu aku dan teman - teman di suruh baca puisi karangan sendiri . Akhirnya giliranku tiba dan aku bacain puisi yang kemaren baru aja aku buat . Ini puisi yang aku bacain .
PENGKHIANATAN CINTA
Dulu ku hanya menjadi pemuja rahasiamu
Dulu ku tak bisa menggegam tanganmu
Apalagi memeluk dirimu
Kini ku tlah jadi pemilik hatimu
Dan kini ku ingin kau genggam erat tanganku
Dan takkan pernah kau lepaskan
Ku pikir kau kan jadi milikku selamanya
Tapi apa yang terjadi kau pergi dariku
Dan bercumbu dengan sahabatku
Tuhan betapa kejamnya mereka
Mengapa dia harus pergi bersama sahabatku
Sahabat yang menjadi tempatku mencurahkan segalanya
Untuk apa aku tetap berada di dunia ini
Jika pujaan hatiku pergi bersama sahabatku
Selamat tinggal dunia
Kini ku tlah mendapatkan kebahagianku di atas sana
Hari itu aku seneng banget soalnya aku jadi yang terbaik . Tapi waktu aku pulang aku ngeliat Dion ma Iva pegangan tangan di depan teras rumahku , tapi aku nyoba buat nggak curiga sama mereka .
“ Hai , Din aku ke sini mau bilang kalo aku udah jadian ……”
“ Dasar buaya kalo gitu kita pu ….”
“ Eits kamu mau bilang kita putus kan , sebelum kamu bilang gitu aku udah tau kok jadi kamu nggak usah buang - buang suara buat ngomong gitu biar aku aja yang ngomong . Mulai detik ini kita PUTUS ,”
Setelah puas ngomong sama aku Dion dan Iva langsung pergi gitu aja ninggalin aku yang ancur banget . Aku langsung pergi ke kamarku . Di sana aku ngeliat sebotol pembasmi serangga langsung aja aku teguk racun itu aku nggak peduli gimana rasanya .
Tiba - tiba aja aku ngeliat ada banyak orang di rumahku . Aku juga ngeliat Dion sama Iva yang menangisi kepergianku .
“ Dinda … kenapa kamu harus pergi . Sorry ya Din kamu pergi pasti gara - gara aku ,”
Aku nggak tega ngeliat orang - orang yang aku cintai nangis kayak gitu . Tapi semua udah terlambat . Aku sekarang udah nemuin kebahagiaanku yang lain diatas sana kayak bait terakhir pada puisi terakhirku .
“ Hayo , lagi ngeliatin sang pujaan hati ya ? “ kata Iva mengagetkanku .
“ Apa`an sich , gak lucu tau , “ jawabku .
“ Udah dech , ngaku aja kalo kamu tuch jealous ngeliat Dion ma Ririn , “ kata Iva .
“ Jealous?!?!?! Denger ya dalam kamus hidup Dinda Trivia Putri gak ada tuch kata
jealous , “ jawabku .
“ Iya dech non , gak ada kata jealous tapi adanya CEMBURU , “ kata Iva .
“ Kalo cemburu sich mungkin ada dikit , “ jawabku kayak orang bego .
“ Dasar oon cemburu ma jealous tuch sama tau ,” kata Iva kesel .
“ Bercanda kale . Iva ke kantin yuk ” kataku .
“ Come on let`s go to the canteen ,” kata Iva bersemangat .
Di kantin Dion sama Ririn pamer kemesraan . Aku muak banget ngeliat mereka . Emangnya penting ya pamer kemesraan kayak gitu . Menurutku gak penting banget . Emangnya semua orang harus tau kalo mereka udah jadian , nggak kan . Aku sama Iva nyari tempat duduk yang jauh dari Dion dan Ririn . Tiba - tiba aja Dion dateng ke mejaku .
“ Hai , pasti kamu Dinda ya . Kenalin aku Dion ,” kata Dion .
“ Aku udah tau kok . Semua anak sini juga pada tahu kamu .”
“ Oh ya, berarti aku termasuk orang terkenal dong di sekolah kita ,”
“ Narsis ,” ucapku lirih .
“ Kamu ngomong apa Din ? “
“ Ehm , enggak kok aku nggak ngomong apa - apa . Dion kita ke kelas dulu ya , bye ,”
“ Okey , bye ,”
Itu pertama kalinya aku bisa ngomong sama Dion . Selama ini aku hanya bisa ngeliat dia dari jauh . Aku seneng banget Dion mau kenalan sama aku . Mulai saat itu , Dion jadi perhatian sama aku . Kadang dia curi - curi pandang gitu ke aku waktu lagi ngomong sama
Ririn . Seneng banget rasanya serasa terbang ke langit ke tujuh .
Hari ini ada good news yang dateng dari Dion , Dion putus sama Ririn . Senangnya hatiku berarti ada kesempatan dong buat jadi ceweknya Dion . Emang sich si Dion tuch buaya darat tapi aku yakin dia pasti berubah kalo jadian sama aku .
Hal yang aku tunggu dateng juga . Akhirnya Dion nembak aku . Aku nggak langsung nerima , soalnya biar nggak keliatan gampangan gitu . Tapi akhirnya aku nerima dia juga .
Hari - hariku bareng Dion nyenengin banget . Dia tuch orangnya perhatian banget . Pokoknya dia tuch cowok paling perfect yang pernah jadi cowokku . Aku bangga banget bisa jalan ma dia . Rasanya aku pengen teriak di tengah jalan kalo aku akhirnya jadian sama cowok idamanku . Emang sich agak keterlaluan, abisnya aku udah cinta mati sama Dion .
“ Din , aku peringatin ya ati - ati ma Dion . Kamu ingetkan waktu dia jadian ma Ririn itu berapa lama cuma satu mingggu Din ,“ kata Haris .
“ Bilang aja kalo kamu tuch jealous ngeliat aku ma Dion ? “ kataku ketus .
“ Aku nggak pernah jealous . Kemaren aku liat dia berduaan ma Iva ,” kata Haris lagi .
“ Iva ?!?!?! Eh kalo bikin gosip tuch yang bener dong . Nggak mungkin Iva jalan ma Dion . Dia tuch sahabat aku yang bener aja kamu ,” jawabku ketus .
Aku langsung ningggalin Haris sendiri dan pergi ke kelasku . Hari ini ada pelajaran yang paling nyenengin yaitu bahasa Indonesia . Hari itu aku dan teman - teman di suruh baca puisi karangan sendiri . Akhirnya giliranku tiba dan aku bacain puisi yang kemaren baru aja aku buat . Ini puisi yang aku bacain .
PENGKHIANATAN CINTA
Dulu ku hanya menjadi pemuja rahasiamu
Dulu ku tak bisa menggegam tanganmu
Apalagi memeluk dirimu
Kini ku tlah jadi pemilik hatimu
Dan kini ku ingin kau genggam erat tanganku
Dan takkan pernah kau lepaskan
Ku pikir kau kan jadi milikku selamanya
Tapi apa yang terjadi kau pergi dariku
Dan bercumbu dengan sahabatku
Tuhan betapa kejamnya mereka
Mengapa dia harus pergi bersama sahabatku
Sahabat yang menjadi tempatku mencurahkan segalanya
Untuk apa aku tetap berada di dunia ini
Jika pujaan hatiku pergi bersama sahabatku
Selamat tinggal dunia
Kini ku tlah mendapatkan kebahagianku di atas sana
Hari itu aku seneng banget soalnya aku jadi yang terbaik . Tapi waktu aku pulang aku ngeliat Dion ma Iva pegangan tangan di depan teras rumahku , tapi aku nyoba buat nggak curiga sama mereka .
“ Hai , Din aku ke sini mau bilang kalo aku udah jadian ……”
“ Dasar buaya kalo gitu kita pu ….”
“ Eits kamu mau bilang kita putus kan , sebelum kamu bilang gitu aku udah tau kok jadi kamu nggak usah buang - buang suara buat ngomong gitu biar aku aja yang ngomong . Mulai detik ini kita PUTUS ,”
Setelah puas ngomong sama aku Dion dan Iva langsung pergi gitu aja ninggalin aku yang ancur banget . Aku langsung pergi ke kamarku . Di sana aku ngeliat sebotol pembasmi serangga langsung aja aku teguk racun itu aku nggak peduli gimana rasanya .
Tiba - tiba aja aku ngeliat ada banyak orang di rumahku . Aku juga ngeliat Dion sama Iva yang menangisi kepergianku .
“ Dinda … kenapa kamu harus pergi . Sorry ya Din kamu pergi pasti gara - gara aku ,”
Aku nggak tega ngeliat orang - orang yang aku cintai nangis kayak gitu . Tapi semua udah terlambat . Aku sekarang udah nemuin kebahagiaanku yang lain diatas sana kayak bait terakhir pada puisi terakhirku .
PENGEMAR RAHASIAKU
` Hai cantik , aku suka dengan penampilanmu yang baru , kau tampak lebih cantik dari biasanya ` Ini adalah surat yang kesekian kalinya yang tanpa ada identitas pengirimnya . Sebenarnya siapa sih yang mengirimkan surat itu . Mengapa selalu tak tertulis siapa pengirimnya . Dia selalu meletakkan surat itu di mejaku dengan sebatang coklat atau setangkai bunga , sungguh romantis kan tapi mengapa ia tak mau aku tau siapa dia . Kata Lila dia adalah penggemar rahasiaku . Tapi mengapa dia harus menyembunyikan identitasnya . Mengapa dia tak seperti Roni yang terang - terangan mengatakan bahwa ia mencintaiku . ` Mungkin saja dia malu ` begitu kata Lila . Tapi mengapa dia harus malu .
Oh ya aku sampai lupa kenalkan namaku Inez . Sekarang aku bersekolah di sebuah SMP di kota Surabaya . Jujur aku sunguh tak mengerti apa itu cinta karna aku tak pernah jatuh cinta . Lucu ya biasanya anak seusiaku sudah mulai mengerti apa itu cinta . Tapi aku, yang kucintai hanyalah Pangeran kucing kesayanganku . Memang sih masih terlalu dini untuk bericara soal cinta bagi anak seusiaku , tapi semua temanku tlah mengalami yang dinamakan jatuh cinta .
Sudah cukup kalian tahu tentang siapa aku , sekarang kita kembali pada surat yang dikirim oleh penggemar rahasiaku . Aku tak habis pikir apa aku secantik itu sampai aku mempunyai seorang penggemar rahasia . Menurutku lebih cantik Lila daripada aku , tapi Lila sama sekali tak punya penggemar yang rahasia sepertiku maupun yang terang - terangan . Aku sangat penasaran siapa sebenarnya yang menulis semua itu apa ada seseorang yang mengerjaiku . Semoga dia mengajakku bertemu agar aku tak penasaran lagi bagaimana rupa orang yang menjadi penggemar rahasiaku .
Hari ini harapanku terkabul dia mengirimkan surat yang isinya mengajakku bertemu di sebuah taman .
Karena terdorong rasa penasaranku aku datang tepat waktu . Tapi ia tak datang yang ada hanya sepucuk surat yang berbunyi ` Maafkan aku ya Nez , aku masih belum siap untuk memperlihatkan siapa aku kepadamu ` Akupun pergi dengan menahan rasa kesalku padanya karna ia tak jadi menemuiku .
Aku langsung menuju ke rumah Lila untuk mencurahkan semua isi hatiku . Saat aku sedang berbicara dengan Lila datanglah kak Zacky, kakak Lila menemui kami .
“ Aduh, aduh bicaranya serius amat , bicara soal apa sich ? “ tanya kak Zacky .
“ Ini lho kak ada orang yang suka naruh surat di meja aku terus dia kan janji mau ketemu sama aku tapi dia nggak dateng ngeselin banget kan ? “ cuapku walau kak Zacky adalah kakak Lila tapi dia sudah kuanggap seperti sahabat .
“ O , critanya si monyet ini punya penggemar rahasia , “ kata kak Zacky .
“ Ih , kakak aku kan dah bilang berulang kali jangan pernah manggil aku monyet lagi , “ kataku sambil mencubit pipi kak Zacky .
Kak Zacky berusaha untuk mencubit pipiku tapi aku langsung menghindar dan kamipun akhirnya berkejar - kejaran Lila juga ikut mengejar aku . Kami memang sangat akrab karena kami sudah kenal sejak kecil . Ketika melihat mama Lila lewat akupun langsung meminta perlindungan .
“ Tante , Lila dan Kak Zacky mau mencubit pipiku ,” kataku .
“ Udah udah . Lila , Zacky berhenti mainnnya . Inez mama kamu jemput tuh katanya kamu seharian pergi ya , “ kata mama Lila .
“ Bye , aku pergi dulu ya, ingat kak 1-0 untukku ,“ candaku .
Kak Zacky hanya tersenyum .
Esoknya ada sepucuk surat lagi di mejaku yang bunyinya ` Aku tahu kau kesal karena aku tak berani menemuimu . Sekali lagi aku minta maaf ya Nez `
“ Kenapa Nez surat dari penggemarmu lagi ? “ tanya Aji .
“ Ya gitu deh Ji dia minta maaf gak bisa dateng kemaren ,” jawabku .
Aji tersenyum .
Dan akhirnya dia kembali mengajakku bertemu . Aku sangat kaget melihat sosok penggemar rahasiaku itu . Menurut kalian siapa penggemar rahasiaku itu ? Ya benar dia adalah kak Zacky . Aku sama sekali tak menyangka jika kak Zacky selama ini menyimpan perasaan padaku .
“ Kenapa Nez kau kecewa ya jika ternyata selama ini yang menjadi penggemar rahasiamu itu aku ? “ tanya kak Zacky .
“ Bukannya begitu kak , aku tak mungkin mencintai kakak karna kakak hanya kuanggap sebagai kakakku , “ jawabku .
“ Aku tahu itu aku takkan memaksamu mencintaiku , aku cuma ingin kau tau bahwa sebenarnya aku mencintaimu ,” kata kak Zacky .
Aku sama sekali tak ingin menodai persahabatan kami dengan kata yang disebut cinta yang sebenarnya ku tak tahu apa artinya . Bukannya bila menjadi sepasang kekasih hubungan itu mungkin saja berakhir , tapi jika menjadi sahabat takkan pernah berakhir .
Semua rasa penasaranku tlah hilang . Aku berjanji aku tak akan melupakan kak Zacky walau suatu saat nanti kita terpisahkan oleh jarak dan waktu . Maafkan aku kak Zacky
Oh ya aku sampai lupa kenalkan namaku Inez . Sekarang aku bersekolah di sebuah SMP di kota Surabaya . Jujur aku sunguh tak mengerti apa itu cinta karna aku tak pernah jatuh cinta . Lucu ya biasanya anak seusiaku sudah mulai mengerti apa itu cinta . Tapi aku, yang kucintai hanyalah Pangeran kucing kesayanganku . Memang sih masih terlalu dini untuk bericara soal cinta bagi anak seusiaku , tapi semua temanku tlah mengalami yang dinamakan jatuh cinta .
Sudah cukup kalian tahu tentang siapa aku , sekarang kita kembali pada surat yang dikirim oleh penggemar rahasiaku . Aku tak habis pikir apa aku secantik itu sampai aku mempunyai seorang penggemar rahasia . Menurutku lebih cantik Lila daripada aku , tapi Lila sama sekali tak punya penggemar yang rahasia sepertiku maupun yang terang - terangan . Aku sangat penasaran siapa sebenarnya yang menulis semua itu apa ada seseorang yang mengerjaiku . Semoga dia mengajakku bertemu agar aku tak penasaran lagi bagaimana rupa orang yang menjadi penggemar rahasiaku .
Hari ini harapanku terkabul dia mengirimkan surat yang isinya mengajakku bertemu di sebuah taman .
Karena terdorong rasa penasaranku aku datang tepat waktu . Tapi ia tak datang yang ada hanya sepucuk surat yang berbunyi ` Maafkan aku ya Nez , aku masih belum siap untuk memperlihatkan siapa aku kepadamu ` Akupun pergi dengan menahan rasa kesalku padanya karna ia tak jadi menemuiku .
Aku langsung menuju ke rumah Lila untuk mencurahkan semua isi hatiku . Saat aku sedang berbicara dengan Lila datanglah kak Zacky, kakak Lila menemui kami .
“ Aduh, aduh bicaranya serius amat , bicara soal apa sich ? “ tanya kak Zacky .
“ Ini lho kak ada orang yang suka naruh surat di meja aku terus dia kan janji mau ketemu sama aku tapi dia nggak dateng ngeselin banget kan ? “ cuapku walau kak Zacky adalah kakak Lila tapi dia sudah kuanggap seperti sahabat .
“ O , critanya si monyet ini punya penggemar rahasia , “ kata kak Zacky .
“ Ih , kakak aku kan dah bilang berulang kali jangan pernah manggil aku monyet lagi , “ kataku sambil mencubit pipi kak Zacky .
Kak Zacky berusaha untuk mencubit pipiku tapi aku langsung menghindar dan kamipun akhirnya berkejar - kejaran Lila juga ikut mengejar aku . Kami memang sangat akrab karena kami sudah kenal sejak kecil . Ketika melihat mama Lila lewat akupun langsung meminta perlindungan .
“ Tante , Lila dan Kak Zacky mau mencubit pipiku ,” kataku .
“ Udah udah . Lila , Zacky berhenti mainnnya . Inez mama kamu jemput tuh katanya kamu seharian pergi ya , “ kata mama Lila .
“ Bye , aku pergi dulu ya, ingat kak 1-0 untukku ,“ candaku .
Kak Zacky hanya tersenyum .
Esoknya ada sepucuk surat lagi di mejaku yang bunyinya ` Aku tahu kau kesal karena aku tak berani menemuimu . Sekali lagi aku minta maaf ya Nez `
“ Kenapa Nez surat dari penggemarmu lagi ? “ tanya Aji .
“ Ya gitu deh Ji dia minta maaf gak bisa dateng kemaren ,” jawabku .
Aji tersenyum .
Dan akhirnya dia kembali mengajakku bertemu . Aku sangat kaget melihat sosok penggemar rahasiaku itu . Menurut kalian siapa penggemar rahasiaku itu ? Ya benar dia adalah kak Zacky . Aku sama sekali tak menyangka jika kak Zacky selama ini menyimpan perasaan padaku .
“ Kenapa Nez kau kecewa ya jika ternyata selama ini yang menjadi penggemar rahasiamu itu aku ? “ tanya kak Zacky .
“ Bukannya begitu kak , aku tak mungkin mencintai kakak karna kakak hanya kuanggap sebagai kakakku , “ jawabku .
“ Aku tahu itu aku takkan memaksamu mencintaiku , aku cuma ingin kau tau bahwa sebenarnya aku mencintaimu ,” kata kak Zacky .
Aku sama sekali tak ingin menodai persahabatan kami dengan kata yang disebut cinta yang sebenarnya ku tak tahu apa artinya . Bukannya bila menjadi sepasang kekasih hubungan itu mungkin saja berakhir , tapi jika menjadi sahabat takkan pernah berakhir .
Semua rasa penasaranku tlah hilang . Aku berjanji aku tak akan melupakan kak Zacky walau suatu saat nanti kita terpisahkan oleh jarak dan waktu . Maafkan aku kak Zacky
MAAFKAN AKU MAMA
Hari ini mama kembali melanggar janjinya . Kemarin mama bilang mama bisa menonton pertandinganku , tapi apa yang terjadi mama lagi - lagi tidak datang menyebalkan bukan . Kalau saja aku tidak sendiri di rumah aku pasti takkan kesepian . Sebenarnya aku punya seorang kakak dia bernama kak Rudy , tapi sejak papa pergi dan tak kembali dia juga ikut pergi meninggalkan aku . Andai saja kejadian tiga tahun lalu tidak terjadi . Papa pergi tugas ke luar pulau tiga tahun yang lalu semenjak itu papa tidak pernah menghubungi kami lagi .
Aku selalu iri melihat teman - temanku yang mempunyai anggota keluarga lengkap ada papa,mama,dan kakak atau adik . Aku sangat merindukan masa - masa dulu di saat keluargaku masih lengkap , dulu kami sangat bahagia . Tapi kini masa - masa itu hanya tinggal kenangan . Aku di dunia ini seperti sebatang kara , walau aku punya mama tapi mama tak pernah peduli denganku yang ia perdulikan hanyalah urusan kantornya .
“ Sayang , kok pergi lagi inikan udah malam ?” tanya mama saat melihat aku akan keluar .
“ Apa urusan mama , apa mama peduli sama aku ? “ tanyaku .
“ Mama peduli sama kamu , sayang ,” jawab mama .
“ Peduli ?!?! Mama lupa kalau mama sudah berjanji padaku mama akan menonton pertandinganku tadi , apa itu yang disebut peduli ??? “ tanyaku .
“ Maafkan mama sayang tadi mama ada rapat mendadak . ” kilah mama .
“ Basi tau , cari alasan jangan itu - itu aja bosen nggak kreatif ,” kataku sambil membanting pintu .
Mama hanya bisa mengelus dada melihat kelakuanku . Sebenarnya mama tau sikapku yang selalu begitu pada mama bukan sepenuhnya salahku mama juga yang salah karena mama tidak pernah menepati janjinya padaku .
Aku selalu melampiaskan kekesalanku pada mama dengan cara pergi dengan teman - temanku yang senasib tanpa arah tujuan . Walaupun aku sering pergi keluar malam hari , tapi aku tak pernah mencoba sekalipun barang - barang haram yang tak asing dengan pergaulanku .
“ Hei , Lin gimana kabar mama kamu ? “ tanya Isa .
“ Udah dech sa gak usah dibahas lagi , aku pusing mikirnya ,” jawabku .
“ Kita senasib ya Lin ,”
Sebenarnya aku muak dengan hidupku aku ingin mati saja , tapi entah mengapa aku nggak pernah berani untuk ngelakuin perbuatan itu . Mungkin karna aku masih sadar akan dosa . Hidupku kini tanpa tujuan seperti mati segan hiduppun tak mau , itulah hidupku saat ini .
Mentaripun kembali bersinar itu tanda akan di mulainya hari yang baru . Semoga hari yang barupun terjadi pada hidupku .
Hari ini sebenarnya aku tak ingin masuk sekolah , tapi entah mengapa selalu ada dorongan agar aku selalu berangkat sekolah . Setelah sampai di sekolah aku langsung menemui Isa .
“ Hai , Lin gimana masih musuhan ma mamamu ? “ tanya Isa .
“ Udah dech aku males ngebahas itu ,” jawabku .
Saat pelajaran Bahasa Indonesia aku tak konsentrasi , padahal hari ini adalah pengambilan nilai membaca puisi hal yang paling kusuka dari pelajaran Bahasa . Hatiku serasa tak tenang . Tiba - tiba aku teringat pada mama . Oh , Tuhan apa yang terjadi pada mama . Pertanyaan - pertanyaan itu yang kini ada di benakku .
“ Linda , ada apa biasanya kamu paling semangat jika ada apresiasi seni ? “ tanya bu Indah yang membuyarkan semua lamunanku .
“ Tidak ada apa - apa cuma saya sedang grogi karena akan maju ke depan membaca puisi , bu , “ jawabku .
Bu Indah memandangku dari sinar matanya seolah bu Indah tak percaya , tapi berusaha mempercayaiku .
Handphoneku tiba - tiba berdering tertulis bahwa itu telepon dari mama . Aku segera meminta izin untuk mengangkat telepon itu siapa tahu penting . Dan seseorang yang menelponku mengatakan bahwa mama mengalami kecelakaan dan dirawat di sebuah rumah sakit . Tanpa berpikir panjang lagi aku segera meminta izin pada bu Indah untuk melihat mama ke rumah sakit .
Sesampainya di rumah sakit aku langsung mencari kamar mama . Setelah menemukan kamar mama aku segera masuk . Dan aku melihat ada dua orang lelaki yang sangat amat kukenal mereka adalah papa dan kak Rudy . Langsung saja aku memeluk mereka karena aku sudah rindu pada mereka . Ternyata yang menabrak mama adalah kak Rudy , dia tak sengja karena dia sedang berbincang - bincang dengan papa .
Sebenarnya alasan kak Rudy pergi karena ia ingin mencari papa dan saat papa kembali ke Surabaya merekapun bertemu . Dan mereka berdua terus mencari aku dan mama , memang sich kami berdua telah pindah rumah karena rumah kami terbakar .
Akhirnya kami berkumpul kembali dan semoga kami tak terpisahkan kembali SELAMANYA .
Aku selalu iri melihat teman - temanku yang mempunyai anggota keluarga lengkap ada papa,mama,dan kakak atau adik . Aku sangat merindukan masa - masa dulu di saat keluargaku masih lengkap , dulu kami sangat bahagia . Tapi kini masa - masa itu hanya tinggal kenangan . Aku di dunia ini seperti sebatang kara , walau aku punya mama tapi mama tak pernah peduli denganku yang ia perdulikan hanyalah urusan kantornya .
“ Sayang , kok pergi lagi inikan udah malam ?” tanya mama saat melihat aku akan keluar .
“ Apa urusan mama , apa mama peduli sama aku ? “ tanyaku .
“ Mama peduli sama kamu , sayang ,” jawab mama .
“ Peduli ?!?! Mama lupa kalau mama sudah berjanji padaku mama akan menonton pertandinganku tadi , apa itu yang disebut peduli ??? “ tanyaku .
“ Maafkan mama sayang tadi mama ada rapat mendadak . ” kilah mama .
“ Basi tau , cari alasan jangan itu - itu aja bosen nggak kreatif ,” kataku sambil membanting pintu .
Mama hanya bisa mengelus dada melihat kelakuanku . Sebenarnya mama tau sikapku yang selalu begitu pada mama bukan sepenuhnya salahku mama juga yang salah karena mama tidak pernah menepati janjinya padaku .
Aku selalu melampiaskan kekesalanku pada mama dengan cara pergi dengan teman - temanku yang senasib tanpa arah tujuan . Walaupun aku sering pergi keluar malam hari , tapi aku tak pernah mencoba sekalipun barang - barang haram yang tak asing dengan pergaulanku .
“ Hei , Lin gimana kabar mama kamu ? “ tanya Isa .
“ Udah dech sa gak usah dibahas lagi , aku pusing mikirnya ,” jawabku .
“ Kita senasib ya Lin ,”
Sebenarnya aku muak dengan hidupku aku ingin mati saja , tapi entah mengapa aku nggak pernah berani untuk ngelakuin perbuatan itu . Mungkin karna aku masih sadar akan dosa . Hidupku kini tanpa tujuan seperti mati segan hiduppun tak mau , itulah hidupku saat ini .
Mentaripun kembali bersinar itu tanda akan di mulainya hari yang baru . Semoga hari yang barupun terjadi pada hidupku .
Hari ini sebenarnya aku tak ingin masuk sekolah , tapi entah mengapa selalu ada dorongan agar aku selalu berangkat sekolah . Setelah sampai di sekolah aku langsung menemui Isa .
“ Hai , Lin gimana masih musuhan ma mamamu ? “ tanya Isa .
“ Udah dech aku males ngebahas itu ,” jawabku .
Saat pelajaran Bahasa Indonesia aku tak konsentrasi , padahal hari ini adalah pengambilan nilai membaca puisi hal yang paling kusuka dari pelajaran Bahasa . Hatiku serasa tak tenang . Tiba - tiba aku teringat pada mama . Oh , Tuhan apa yang terjadi pada mama . Pertanyaan - pertanyaan itu yang kini ada di benakku .
“ Linda , ada apa biasanya kamu paling semangat jika ada apresiasi seni ? “ tanya bu Indah yang membuyarkan semua lamunanku .
“ Tidak ada apa - apa cuma saya sedang grogi karena akan maju ke depan membaca puisi , bu , “ jawabku .
Bu Indah memandangku dari sinar matanya seolah bu Indah tak percaya , tapi berusaha mempercayaiku .
Handphoneku tiba - tiba berdering tertulis bahwa itu telepon dari mama . Aku segera meminta izin untuk mengangkat telepon itu siapa tahu penting . Dan seseorang yang menelponku mengatakan bahwa mama mengalami kecelakaan dan dirawat di sebuah rumah sakit . Tanpa berpikir panjang lagi aku segera meminta izin pada bu Indah untuk melihat mama ke rumah sakit .
Sesampainya di rumah sakit aku langsung mencari kamar mama . Setelah menemukan kamar mama aku segera masuk . Dan aku melihat ada dua orang lelaki yang sangat amat kukenal mereka adalah papa dan kak Rudy . Langsung saja aku memeluk mereka karena aku sudah rindu pada mereka . Ternyata yang menabrak mama adalah kak Rudy , dia tak sengja karena dia sedang berbincang - bincang dengan papa .
Sebenarnya alasan kak Rudy pergi karena ia ingin mencari papa dan saat papa kembali ke Surabaya merekapun bertemu . Dan mereka berdua terus mencari aku dan mama , memang sich kami berdua telah pindah rumah karena rumah kami terbakar .
Akhirnya kami berkumpul kembali dan semoga kami tak terpisahkan kembali SELAMANYA .
SAHABAT
Aku melihat Donita sahabatku tergolek lemas, karena ia terserang penyakit leukemia. Donita tak pernah bercerita pada siapapun tentang penyakitnya itu, dia juga sama sekali tidak pernah mengeluh. Ayah dan Ibu Donita baru saja bercerai, sekarang dia diasuh oleh tantenya.
Aku dan Esti, sahabatku tak bisa lagi membendung air mata kami. Melihat Donita seperti itu aku jadi ingat pada janjinya padaku dan Esti. Dia berjanji akan mengajak aku, Esti, Rendi dan Erdi jalan - jalan mengelilingi kota Malang.
Saat Donita sakit banyak sekali telepon yangmenanyakan kabarnya karena Donita adalah anak yang ramah, wajahnyapun cantik, jadi banyak sekali yang menyayanginya. Tapi aku tak tahu kabar kedua orang tuanya.Ternyata Donita telah digeroti penyakit itu selama setahun.
Esti membangunkanku, karena dia melihat Donita telah menggerakkan tangannya. Tanpa membuang waktu aku langsung mendekati Donita. Donita hanya tersenyum wajahnya yang cantik terlihat pucat. Sudah satu jam aku dan Esti mengabiskan waktu bersama Donita.Akhirnya kami berdua pulang karena besok kami berdua harus sekolah.
Esoknya saat berada di sekolah hatiku sangat bahagia karena Donita sudah sadar. Sampai dengan tak sengaja aku tersenyum - senyum sendiri seperti orang gila. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan kebahagianku apa aku harus meloncat - loncat. Rasanya aku ingin memberi tahukan pada dunia bahwa sahabat yang amat sangat aku cintai sudah sadar, memang sich itu terlalu berlebihan, tetapi aku memang terlalu bahagia.
Hari ini Donita sudah keluar dari rumah sakit dan kami berencana untuk mengajaknya jalan - jalan walaupun tidak sampai Malang tapi aku yakin Donita pasti bahagia.
“ Restika, Esti, Rendi, Edi misalnya nanti aku pergi maukah kalian menjaga persahabatan kita ?“ tanya Donita.
“ Udah dech Donita kamu kan dah nglewatin masa kritismu, pasti kamu akan sembuh !” seru Esti.
“ Donita kami nggak ingin kamu ninggalin kami ya kan,” tanyaku pada sahabat - sahabatku.
Semua sahabatku mengangguk. Donita hanya tersenyum wajahnya yang cantik terlihat pucat. Aku sama sekali tak ingin Donita pergi. Aku ingin Donita tetap di sini bersamaku. Memang aku egois aku tak peduli karena aku tak tahu apa yang harus aku lakukan tanpa Donita.
Di sekolah aku tak henti - hentinya aku mengembangkan senyum. Ini lebih parah dari kemarin, karena hari ini aku lebih bahagia. Aku yakin Donita akan sembuh karena akhir - akhir ini keadaannya sudah membaik.
“ Senyum - senyum sendiri kayak orang gila tau. Kemarin gara - gara Donita sadar kamu senyum - senyum sendiri sekarang keadaan Donita udah membaik harusnya kamu loncat - loncat kayak orang nggak waras,” kata Rendi.
“ Eh, kamu Ren kirain sapa. Abisnya aku seneng banget keadaan Donita udah membaik. Maunya sich aku ngikutin saranmu, tapi ntar aku dikira gila dong,” kataku.
“ Kamu bisa aja Res. Oh ya, gimana kalau kita berdua ntar jenguk Donita abis pulang sekolah ?“ tawar Rendi.
“ Woi, maunya cuma berduaan kita berdua gimana, emangnya mau dibuang ke sungai apa, kita berdua juga mau dong jenguk Donita,” kata Erdi.
“ Bukan gitu tadikan yang ada cuma Restika jadi, yang aku ajak cuma Restika,” elak Rendi.
“ Ngeles aja kalau udah kepergok,” kata Esti.
Ya begitulah persahabatan kami selalu terisi dengan canda tawa, walau kami saling menggoda tapi tidak ada rasa dendam diantara kami. Semua ini belum lengkap tanpa kehadiran Donita. Donita itu bagai mentari yang selalu menyinari persahabatan kami, tanpa Donita hidup kami terasa gelap tak bermentari ya itulah Donita.
Setelah bel masuk berbunyi, bu Ita mengumumkan bahwa setelah ulangan matematika kami diperbolehkan pulang karena guru - guru akan mengantarkan bu Ririn pergi haji. Dan akhirnya kamipun pulang. Setelah itu kami berangkat ke rumah Donita.
Sesampainya di rumah Donita kami langsung menuju kamar Donita. Kami sudah terbiasa masuk ke rumah Donita jadi tak ada yang menghalangi kami. Tapi ada yang aneh di sana karena di dalam banyak orang berkerumun.
“ Selamat siang …. Donita mengapa kamu pergi secepat ini,” kataku sembari memeluk jasad Donita semua orang memandangiku, tapi aku tak peduli aku ingin sekali memeluknya untuk yang terakhir kalinya.
Donita adalah sahabat yang paling dekat denganku bahkan masalah yang paling memalukan dalam hidupku kuceritakan padanya. Di sana aku melihat Ayah dan Ibu Donita. Aku merasa sedikit benci pada mereka, karena mereka tak mempedulikan Donita saat dia sakit. Tapi aku tahu aku tak boleh menghakimi mereka begitu, karena mereka sedang ada masalah.
Esoknya seusai sekolah aku, teman - teman dan guru - guru mendatangi pemakaman Donita. Air mataku tak terbendung lagi ketika melihat jasad Donita dimasukkan ke liang lahat.
“ Res, kamu yang tabah aja ya kita semua bisa menjadi Donita kedua bagimu. Ya kan teman - teman ,” kata Rendi.
Semua sahabatku mengangguk dengan pasti .
“ Makasih ya teman - teman, tapi Donita ya Donita tak ada seorangpun yang bisa menggantikan posisinya di hatiku. Tapi aku akan berusaha untuk nggak nangis lagi ,” kataku.
Selamat jalan sahabatku aku akan menjaga persahabatanku dengan Rendi,Esti dan Erdi hanya untukmu. Aku sadar walau ragamu tlah pergi tetapi jiwamu kan abadi di hatiku tuk slamanya.
Aku dan Esti, sahabatku tak bisa lagi membendung air mata kami. Melihat Donita seperti itu aku jadi ingat pada janjinya padaku dan Esti. Dia berjanji akan mengajak aku, Esti, Rendi dan Erdi jalan - jalan mengelilingi kota Malang.
Saat Donita sakit banyak sekali telepon yangmenanyakan kabarnya karena Donita adalah anak yang ramah, wajahnyapun cantik, jadi banyak sekali yang menyayanginya. Tapi aku tak tahu kabar kedua orang tuanya.Ternyata Donita telah digeroti penyakit itu selama setahun.
Esti membangunkanku, karena dia melihat Donita telah menggerakkan tangannya. Tanpa membuang waktu aku langsung mendekati Donita. Donita hanya tersenyum wajahnya yang cantik terlihat pucat. Sudah satu jam aku dan Esti mengabiskan waktu bersama Donita.Akhirnya kami berdua pulang karena besok kami berdua harus sekolah.
Esoknya saat berada di sekolah hatiku sangat bahagia karena Donita sudah sadar. Sampai dengan tak sengaja aku tersenyum - senyum sendiri seperti orang gila. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan kebahagianku apa aku harus meloncat - loncat. Rasanya aku ingin memberi tahukan pada dunia bahwa sahabat yang amat sangat aku cintai sudah sadar, memang sich itu terlalu berlebihan, tetapi aku memang terlalu bahagia.
Hari ini Donita sudah keluar dari rumah sakit dan kami berencana untuk mengajaknya jalan - jalan walaupun tidak sampai Malang tapi aku yakin Donita pasti bahagia.
“ Restika, Esti, Rendi, Edi misalnya nanti aku pergi maukah kalian menjaga persahabatan kita ?“ tanya Donita.
“ Udah dech Donita kamu kan dah nglewatin masa kritismu, pasti kamu akan sembuh !” seru Esti.
“ Donita kami nggak ingin kamu ninggalin kami ya kan,” tanyaku pada sahabat - sahabatku.
Semua sahabatku mengangguk. Donita hanya tersenyum wajahnya yang cantik terlihat pucat. Aku sama sekali tak ingin Donita pergi. Aku ingin Donita tetap di sini bersamaku. Memang aku egois aku tak peduli karena aku tak tahu apa yang harus aku lakukan tanpa Donita.
Di sekolah aku tak henti - hentinya aku mengembangkan senyum. Ini lebih parah dari kemarin, karena hari ini aku lebih bahagia. Aku yakin Donita akan sembuh karena akhir - akhir ini keadaannya sudah membaik.
“ Senyum - senyum sendiri kayak orang gila tau. Kemarin gara - gara Donita sadar kamu senyum - senyum sendiri sekarang keadaan Donita udah membaik harusnya kamu loncat - loncat kayak orang nggak waras,” kata Rendi.
“ Eh, kamu Ren kirain sapa. Abisnya aku seneng banget keadaan Donita udah membaik. Maunya sich aku ngikutin saranmu, tapi ntar aku dikira gila dong,” kataku.
“ Kamu bisa aja Res. Oh ya, gimana kalau kita berdua ntar jenguk Donita abis pulang sekolah ?“ tawar Rendi.
“ Woi, maunya cuma berduaan kita berdua gimana, emangnya mau dibuang ke sungai apa, kita berdua juga mau dong jenguk Donita,” kata Erdi.
“ Bukan gitu tadikan yang ada cuma Restika jadi, yang aku ajak cuma Restika,” elak Rendi.
“ Ngeles aja kalau udah kepergok,” kata Esti.
Ya begitulah persahabatan kami selalu terisi dengan canda tawa, walau kami saling menggoda tapi tidak ada rasa dendam diantara kami. Semua ini belum lengkap tanpa kehadiran Donita. Donita itu bagai mentari yang selalu menyinari persahabatan kami, tanpa Donita hidup kami terasa gelap tak bermentari ya itulah Donita.
Setelah bel masuk berbunyi, bu Ita mengumumkan bahwa setelah ulangan matematika kami diperbolehkan pulang karena guru - guru akan mengantarkan bu Ririn pergi haji. Dan akhirnya kamipun pulang. Setelah itu kami berangkat ke rumah Donita.
Sesampainya di rumah Donita kami langsung menuju kamar Donita. Kami sudah terbiasa masuk ke rumah Donita jadi tak ada yang menghalangi kami. Tapi ada yang aneh di sana karena di dalam banyak orang berkerumun.
“ Selamat siang …. Donita mengapa kamu pergi secepat ini,” kataku sembari memeluk jasad Donita semua orang memandangiku, tapi aku tak peduli aku ingin sekali memeluknya untuk yang terakhir kalinya.
Donita adalah sahabat yang paling dekat denganku bahkan masalah yang paling memalukan dalam hidupku kuceritakan padanya. Di sana aku melihat Ayah dan Ibu Donita. Aku merasa sedikit benci pada mereka, karena mereka tak mempedulikan Donita saat dia sakit. Tapi aku tahu aku tak boleh menghakimi mereka begitu, karena mereka sedang ada masalah.
Esoknya seusai sekolah aku, teman - teman dan guru - guru mendatangi pemakaman Donita. Air mataku tak terbendung lagi ketika melihat jasad Donita dimasukkan ke liang lahat.
“ Res, kamu yang tabah aja ya kita semua bisa menjadi Donita kedua bagimu. Ya kan teman - teman ,” kata Rendi.
Semua sahabatku mengangguk dengan pasti .
“ Makasih ya teman - teman, tapi Donita ya Donita tak ada seorangpun yang bisa menggantikan posisinya di hatiku. Tapi aku akan berusaha untuk nggak nangis lagi ,” kataku.
Selamat jalan sahabatku aku akan menjaga persahabatanku dengan Rendi,Esti dan Erdi hanya untukmu. Aku sadar walau ragamu tlah pergi tetapi jiwamu kan abadi di hatiku tuk slamanya.
KEHENINGAN DI PULAU TAK BERTUAN
Hari ini adalah hari yang dinanti - nantikan oleh Lili, karena dia dan teman - teman sekolahnya akan pergi ke Pulau Bali. Baginya ini adalah kesempatan yang langka, karena jarang sekali kedua orang tuanya memberi kesempatan dia untuk pergi jauh tanpa dampingan mereka.
Pukul tujuh tepat Lili dan teman - temannya ke airport . Seletah sampai Pak Iwan mengurus tiket mereka. Satu jam kemudian mereka berangkat. Lili tak sabar untuk mengetahui indahnya Pulau Bali. Di perjalanan semua teman - temannya tertidur lelap, tetapi Lili tak bisa tidur. Di pesawat dia melihat pemandangan yang sangat indah yang selama ini belum pernah dilihatnya .
Sampai suatu ketika pramugari pesawat itu menyuruh seluruh penumpang pesawat untuk menggunakan pelampung yang ada di bawah kursi mereka, karena pesawat yang mereka tumpangi mengalami kerusakan. Kegaduhanpun timbul semuanya saling berebut untuk keluar melalui pintu darurat. Sebelum keluar Lili mencari ketiga sahabatnya yaitu Ira, Roni dan
Irfan. Setelah menemukan mereka, mereka bersama - sama turun dari pesawat. Mereka bergandengan erat. Sampai mereka terjatuh di laut lepas.
Irfan melihat potongan kayu yang terapung, lalu dia mengajak mereka untuk berpegangan pada potongan kayu itu.
“ Aduh aku lapar, soalnya tadi aku belum makan. Ada yang yang bawa makanan nggak ?“ tanya Lili menahan lapar.
“ Yah … aku lupa di tasku ada snack, tadi karena terburu - buru aku lupa membawanya ,“ kata Roni.
Berhari - hari mereka terapung di lautan tanpa makan dan air hujan untuk minum.
“ Sampai kapan ya kita terapung di sini ?“ tanya Ira .
“ Kita semua tidak bisa menduganya ,” jawab Irfan .
Tak lama kemudian mereka melihat sebuah pulau, merekapun berenang mendekati pulau tersebut.
Setelah berada di daratan Roni dan Irfan mencari kayu bakar untuk api unggun, sedangkan Lili dan Ira mencari makanan untuk dibakar. Setelah mendapat banyak kayu Roni membakar kayu itu lalu mereka membakar ikan - ikan yang telah Lili dan Ira kumpulkan .
“ Enak sekali ya makanan ini !“
Akhirnya mataharipun tenggelam berganti bulan. Mereka semua ketakutan karna suasana begitu mencekam.
“ Fan, kita sekarang tidur di mana ?“ tanya Lili ketakutan .
“ Ya kita tidur di sini. Emangnya kamu mau tidur di mana ?Kamu mau tidur di laut lagi ?“ jelas Irfan.
“ Di sini Fan ? kamu gak salah ?“ tanya Ira tak percaya.
“ Ya, iyalah .“
“ Emangnya gak ada tempat yang lebih bersih lagi apa ?“ tanya Ira, matanya melihat seakan tak percaya dia harus tidur di tempat yang kotor dan berlumpur.
“ Sifatmu yang sok bersih itu tolong di hilangkan dalam keadaan darurat seperti ini ,“ kata Roni.
Akhirnya mereka tidur di tempat yang sama sekali berbeda dengan kamar tidur
mereka. Lili tersenyum melihat Ira yang biasanya harus tidur di kasur yang empuk tiba - tiba harus tidur di pinggir laut tanpa menggenakkan alas, padahal dulu waktu diadakan perkemahan di sekolah dia dengan sembunyi - sembunyi membawa bantal, sekarang jangankan bantal tikarpun tak ada.
“ Belum tidur ?“ tanya Irfan mengagetkan Lili.
“ Eh, kamu Fan belum nich aku nggak bisa tidur ,” jawab Lili.
“ Jangan bilang kamu nggak bisa tidur karena nggak biasa ,“ kata Irfan.
“ Bukannya gitu aku nggak bisa tidur soalnya aku mikirin teman - teman, gimana nasib mereka, apa mereka bisa selamat ? Kamu sendiri kenapa belum tidur ?“ tanya Lili.
“ Aku juga mikirin nasib teman - teman Li ,“ jawab Irfan.
Di lain tempat ayah ibu Lili mendengar bahwa pesawat yang anak - anak mereka tumpangi terjatuh dan sampai sekarang belum ditemukan.
“ Benarkan apa yang saya bilang, lebih baik Lili tidak usah diijinkan untuk pergi ke Bali. Ayah sih mengijinkan Lili pergi jadinya kan Lili hilang ,“ kata ibu Lili pada ayah Lili.
“ Sudahlah bu, Lili jugakan yang berjanji untuk menjaga diri kita harus percaya pada Lili, Lili pasti bisa memegang janjinya ,“ kata ayah Lili menenangkan istrinya.
Mentari pagi menyapa seakan menyapu kengerian yang ada di benak Lili dan kawan - kawannya.
“ Pagi semua ,“ kata Ira.
“ Udah bangun non, tidurnya pules amat katanya gak mau tidur di tempat kayak gini ,” kata Roni menggoda Ira.
“ Iya ya Ron, katanya jijik kok malah gak bisa bangun ,“ kata Lili menimpali.
“ Ih.. biarin daripada kemarin aku liat Lili sama Irfan asyik berduan di pinggir pantai ,“ ejek Ira.
“ Apaan sih kamu Ira kita berduakan cuma ngobrol , “ kata Lili.
“ Udah, udah nggak usah saling ngejek sekarangkan waktunya kita cari makan ,“ kata Irfan menengahi.
Roni dan Irfan kembali membuat api unggun agar menjadi tanda bila ada pesawat atau helikopter yang lewat. Sedangkan Lili dan Ira mencari ikan untuk makan mereka.
Berhari mereka ada di pulau tak bertuan itu, sampai sekarang mereka tak tahu apa yang ada di dalam hutan yang ada di pulau tersebut , karena mereka sama sekali tak berani untuk memasuki hutan itu. Mereka jika mencari kayu hanya di pinggiran hutan.
Semua korban kecelakaan pesawat itu telah di temukan oleh TIMSAR hanya Lili dan kawan-kawannya yang belum ditemukan. Hal ini membuat kedua orang tua mereka cemas.
Sampai suatu saat ada sebuah helikopter yang melintasi pulau tersebut, pilot helikopter tersebut melihat ada kepulan asap api unggun. Helikopter tersebut mendekat pulau itu dan mulai mendarat. Lili dan teman - temannya yang melihat ada helikopter mendarat segera berlari mendekati helikopter itu .
Akhirnya ada juga yang menyelamatkan mereka . Dan mereka tiba di Surabaya kota yang mereka cintai . Setelah keluar dari helikopter itu mereka segera diserbu oleh para kuli tinta, para kuli tinta itu menanyakan berbagai pertanyaan mengenai perjalanan mereka . Mereka menjadi seperti artis dadakan karena mereka sering didundang ke berbagai stasiun telivisi untuk memberi keterangan tentang perjalanan mereka .
Begitulah petualang Lili dan teman-temannya di pulau tak bertuan . Mereka sama sekali tak ingin mengulanginya kembali, bagi mereka cukup sekali saja mereka harus berada di pulau tak bertuan tersebut .
Pukul tujuh tepat Lili dan teman - temannya ke airport . Seletah sampai Pak Iwan mengurus tiket mereka. Satu jam kemudian mereka berangkat. Lili tak sabar untuk mengetahui indahnya Pulau Bali. Di perjalanan semua teman - temannya tertidur lelap, tetapi Lili tak bisa tidur. Di pesawat dia melihat pemandangan yang sangat indah yang selama ini belum pernah dilihatnya .
Sampai suatu ketika pramugari pesawat itu menyuruh seluruh penumpang pesawat untuk menggunakan pelampung yang ada di bawah kursi mereka, karena pesawat yang mereka tumpangi mengalami kerusakan. Kegaduhanpun timbul semuanya saling berebut untuk keluar melalui pintu darurat. Sebelum keluar Lili mencari ketiga sahabatnya yaitu Ira, Roni dan
Irfan. Setelah menemukan mereka, mereka bersama - sama turun dari pesawat. Mereka bergandengan erat. Sampai mereka terjatuh di laut lepas.
Irfan melihat potongan kayu yang terapung, lalu dia mengajak mereka untuk berpegangan pada potongan kayu itu.
“ Aduh aku lapar, soalnya tadi aku belum makan. Ada yang yang bawa makanan nggak ?“ tanya Lili menahan lapar.
“ Yah … aku lupa di tasku ada snack, tadi karena terburu - buru aku lupa membawanya ,“ kata Roni.
Berhari - hari mereka terapung di lautan tanpa makan dan air hujan untuk minum.
“ Sampai kapan ya kita terapung di sini ?“ tanya Ira .
“ Kita semua tidak bisa menduganya ,” jawab Irfan .
Tak lama kemudian mereka melihat sebuah pulau, merekapun berenang mendekati pulau tersebut.
Setelah berada di daratan Roni dan Irfan mencari kayu bakar untuk api unggun, sedangkan Lili dan Ira mencari makanan untuk dibakar. Setelah mendapat banyak kayu Roni membakar kayu itu lalu mereka membakar ikan - ikan yang telah Lili dan Ira kumpulkan .
“ Enak sekali ya makanan ini !“
Akhirnya mataharipun tenggelam berganti bulan. Mereka semua ketakutan karna suasana begitu mencekam.
“ Fan, kita sekarang tidur di mana ?“ tanya Lili ketakutan .
“ Ya kita tidur di sini. Emangnya kamu mau tidur di mana ?Kamu mau tidur di laut lagi ?“ jelas Irfan.
“ Di sini Fan ? kamu gak salah ?“ tanya Ira tak percaya.
“ Ya, iyalah .“
“ Emangnya gak ada tempat yang lebih bersih lagi apa ?“ tanya Ira, matanya melihat seakan tak percaya dia harus tidur di tempat yang kotor dan berlumpur.
“ Sifatmu yang sok bersih itu tolong di hilangkan dalam keadaan darurat seperti ini ,“ kata Roni.
Akhirnya mereka tidur di tempat yang sama sekali berbeda dengan kamar tidur
mereka. Lili tersenyum melihat Ira yang biasanya harus tidur di kasur yang empuk tiba - tiba harus tidur di pinggir laut tanpa menggenakkan alas, padahal dulu waktu diadakan perkemahan di sekolah dia dengan sembunyi - sembunyi membawa bantal, sekarang jangankan bantal tikarpun tak ada.
“ Belum tidur ?“ tanya Irfan mengagetkan Lili.
“ Eh, kamu Fan belum nich aku nggak bisa tidur ,” jawab Lili.
“ Jangan bilang kamu nggak bisa tidur karena nggak biasa ,“ kata Irfan.
“ Bukannya gitu aku nggak bisa tidur soalnya aku mikirin teman - teman, gimana nasib mereka, apa mereka bisa selamat ? Kamu sendiri kenapa belum tidur ?“ tanya Lili.
“ Aku juga mikirin nasib teman - teman Li ,“ jawab Irfan.
Di lain tempat ayah ibu Lili mendengar bahwa pesawat yang anak - anak mereka tumpangi terjatuh dan sampai sekarang belum ditemukan.
“ Benarkan apa yang saya bilang, lebih baik Lili tidak usah diijinkan untuk pergi ke Bali. Ayah sih mengijinkan Lili pergi jadinya kan Lili hilang ,“ kata ibu Lili pada ayah Lili.
“ Sudahlah bu, Lili jugakan yang berjanji untuk menjaga diri kita harus percaya pada Lili, Lili pasti bisa memegang janjinya ,“ kata ayah Lili menenangkan istrinya.
Mentari pagi menyapa seakan menyapu kengerian yang ada di benak Lili dan kawan - kawannya.
“ Pagi semua ,“ kata Ira.
“ Udah bangun non, tidurnya pules amat katanya gak mau tidur di tempat kayak gini ,” kata Roni menggoda Ira.
“ Iya ya Ron, katanya jijik kok malah gak bisa bangun ,“ kata Lili menimpali.
“ Ih.. biarin daripada kemarin aku liat Lili sama Irfan asyik berduan di pinggir pantai ,“ ejek Ira.
“ Apaan sih kamu Ira kita berduakan cuma ngobrol , “ kata Lili.
“ Udah, udah nggak usah saling ngejek sekarangkan waktunya kita cari makan ,“ kata Irfan menengahi.
Roni dan Irfan kembali membuat api unggun agar menjadi tanda bila ada pesawat atau helikopter yang lewat. Sedangkan Lili dan Ira mencari ikan untuk makan mereka.
Berhari mereka ada di pulau tak bertuan itu, sampai sekarang mereka tak tahu apa yang ada di dalam hutan yang ada di pulau tersebut , karena mereka sama sekali tak berani untuk memasuki hutan itu. Mereka jika mencari kayu hanya di pinggiran hutan.
Semua korban kecelakaan pesawat itu telah di temukan oleh TIMSAR hanya Lili dan kawan-kawannya yang belum ditemukan. Hal ini membuat kedua orang tua mereka cemas.
Sampai suatu saat ada sebuah helikopter yang melintasi pulau tersebut, pilot helikopter tersebut melihat ada kepulan asap api unggun. Helikopter tersebut mendekat pulau itu dan mulai mendarat. Lili dan teman - temannya yang melihat ada helikopter mendarat segera berlari mendekati helikopter itu .
Akhirnya ada juga yang menyelamatkan mereka . Dan mereka tiba di Surabaya kota yang mereka cintai . Setelah keluar dari helikopter itu mereka segera diserbu oleh para kuli tinta, para kuli tinta itu menanyakan berbagai pertanyaan mengenai perjalanan mereka . Mereka menjadi seperti artis dadakan karena mereka sering didundang ke berbagai stasiun telivisi untuk memberi keterangan tentang perjalanan mereka .
Begitulah petualang Lili dan teman-temannya di pulau tak bertuan . Mereka sama sekali tak ingin mengulanginya kembali, bagi mereka cukup sekali saja mereka harus berada di pulau tak bertuan tersebut .
DIAH
“ Din , ayo berangkat ! “ kata Cinta.
“ Iya , sebentar ,“ jawabku .
Hari ini kami akan pergi ke gunung Bromo dan akan menginap di vila milik Rini . Kami berada di sana selama satu minggu . Kami ingin menikmati liburan kenaikan kelas dengan pergi ke gunung Bromo .
“ Udah ngumpul semuakan ? “ tanya Rini sambil menghitung anak yang datang .
“ Udah , ayo kita berangkat ! “ kata Cinta .
Tiga jam kemudian mereka sampai di vila milik Rini . Sore harinya kami pergi ke sebuah restoran . Tiba - tiba Cinta menarik tangan seorang anak dan sepertinya Cinta mengenal anak itu . Anak itu kaget , dia bingung dengan perlakuan Cinta .
“ Maaf kamu siapa ya ? “ tanya anak itu .
“ Aku Cinta , kamu jangan bercanda Dini . Aku serius nih !“ bentak Cinta .
“ Cinta ?! Maaf aku bukan Dini namaku Diah ,“ jawab Diah .
Aku yang semula tidak peduli menjadi kaget dengan apa yang dikatakan oleh anak itu . Aku pernah mendengar nama itu , aku mulai mengingat - ingat ada apa dengan nama itu . Dan akhirnya aku ingat ibu pernah berkata jika aku mempunyai saudara kembar namanya Diah . Dia diasuh oleh teman ibuku, karena keluargaku saat aku dan Diah lahir sedang kesulitan ekonomi . Teman ibuku itu sekarang pindah di Jakarta . Dulu saat ibu cerita aku ingin sekali ke Jakarta , padahal Surabaya - Jakartakan jauh . Aku melihat Diah dengan seksama ternyata Diah sangat mirip denganku . Akupun mendekati Diah .
“ Hai , namamu Diah ya ? “ tanyaku .
“ Ya kamu tahu dari mana , kalau boleh tahu namamu siapa ? “ tanya Diah .
“ Aku dengar dari pembicaraanmu dengan Cinta , namaku Dini ,“ jawabku .
“ Oh …. jadi kamu Dini ,” kata Diah .
Aku dan Diah berbincang - bincang lama sekali , sepertinya aku dan Diah sudah kenal lama . Aku dan Diah sepertinya sehati . Aku mempunyai perasaan kalau Diah adalah saudara kembarku . Kamipun saling bertanya tentang keseharian masing - masing .
Satu minggupun terasa cepat . Aku sedih sekali berpisah dengan Diah , tetapi Diah berjanji akan berkirim surat padaku . Akhirnya dengan berat hati aku meninggalkan Diah . Pukul 12.00 siang kami sampai di rumah masing - masing .
Satu bulanpun berlalu aku menunggu surat dari Diah , tetapi surat itu tak kunjung
tiba . Aku sudah berusaha mengirim surat pada Diah , tetapi tidak pernah dibalas . Aku rasa Diah pasti sudah melupakanku . Tak lama kemudian ada telepon berdering . Aku merasa malas mengangkat telefon , tetapi aku angkat saja mungkin penting .
“ Halo , ini siapa ? “
“ Ini Diah , Dininya ada tante ? “
“ Tante ?! Ini Dini , enak saja tante !!!!!!!!!!!!!!!! “
“ Oh….. sorry Din , kupikir Ibumu . Oh ya aku ada kabar baik aku …. sekarang …. ada di belakangmu ….” kata Diah sambil tertawa .
Diah ternyata sedang libur sekolah selama satu minggu . Akupun mengantar Diah mengelilingi kota Pahlawan . Karena hari ini adalah hari minggu , jadi aku bisa bebas kemanapun aku pergi . Tetapi seperti biasanya ibu dan ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya . Sejak peristiwa perginya Diah ayah dan ibuku tak ingin mengecewakanku maka dari itu mereka bekerja keras siang malam . Padahal mereka tak tahu betapa menderitanya aku tanpa mereka . Maka dari itu aku ingin mempunyai seorang saudara .
Satu mingu bersama Diah pun berlalu . Saat ini aku sendiri lagi . Tiba - tiba ibu datang .
“ Dini , sini sayang ! “ panggil ibu .
Akupun mendekati ibu . Sepertinya ibu mau membicarakan sesuatu yang penting sekali .Aku dan ibu berbicara tentang saudaraku kembarku . Ternyata dugaanku selama ini benar Diah adalah saudara kembarku . Hari Sabtu aku , ayah , dan ibuku pergi ke Jakarta untuk mengunjungi Diah . Rencananya kalau Diah mau , dia akan tinggal di Surabaya .
Sabtu pagi kamipun berangkat dengan pesawat terbang . Setelah kami sampai di Jakarta , kami mencari rumahnya Diah . Ternyata mudah sekali mencari rumah Diah .
Setelah beristirahat sejenak .Orang tuaku dan orang tua Diahpun berunding . Orang tua Diahpun menyerahkan semua keputusan pada Diah . Akupun berharap - harap cemas . Harapanku Diah akan ikut ke Surabaya bersamaku . Akhirnya Diah angkat bicara .
“ Pa.. ma.. Dini …om…tante… semoga keputusanku adalah keputusan yang membuat kalian bahagia ,“ Diah menghela nafas sejenak .
“ Sebelumnya aku minta maaf jika keputusanku menyakiti salah satu dari kalian semua , aku memutuskan untuk pergi ke Surabaya bersama saudaraku . Sejak pertama bertemu dengannya aku tak ingin terpisah darinya , sekali lagi maafkan Diah papa.. mama.. “
Mendengar keputusan Diah aku sangat bahagia . Tapi aku melihat air mata mengalir di mata Diah sepertinya Diah tak ingin berpisah dengan kedua orang tuanya . Aku tak tega melihatnya .
“ Diah …. apa kamu yakin dengan keputusanmu kalau kamu masih ragu lebih baik jangan kamu lakukan , “ ujarku .
“ Tapi Din , aku melakukan semua ini demi kamu , “ kata Diah .
“ Walaupun demi aku , kalau kamu di Surabaya terbayang - bayang wajah orang tuamu bagaimana ? “ tanyaku .
“ Tapi Din aku tak ingin kehilangan kamu . “
“ Diah , kitakan bisa surat - menyurat , saling menelpon . Diah ini jaman modern banyak alat komunikasi yang bisa kita gunakan !” tegasku .
“ Ta..tapi….. “
“ Diah aku tau kamu sangat mencintai kedua orang tuamu , begitu juga mereka , jadi demi aku jangan tinggalkan mereka . “
Akhirnya keputusan yang diambil Diah tetap tinggal di Jakarta . Besok pagi kami sekeluarga pulang ke Surabaya , Walaupun aku sedih Diah tidak ikut kami ke Surabaya . Aku yakin itu yang terbaik untuk Diah . Sampai jumpa Diah , semoga hubungan kita tetap berjalan sampai kita tua .
“ Iya , sebentar ,“ jawabku .
Hari ini kami akan pergi ke gunung Bromo dan akan menginap di vila milik Rini . Kami berada di sana selama satu minggu . Kami ingin menikmati liburan kenaikan kelas dengan pergi ke gunung Bromo .
“ Udah ngumpul semuakan ? “ tanya Rini sambil menghitung anak yang datang .
“ Udah , ayo kita berangkat ! “ kata Cinta .
Tiga jam kemudian mereka sampai di vila milik Rini . Sore harinya kami pergi ke sebuah restoran . Tiba - tiba Cinta menarik tangan seorang anak dan sepertinya Cinta mengenal anak itu . Anak itu kaget , dia bingung dengan perlakuan Cinta .
“ Maaf kamu siapa ya ? “ tanya anak itu .
“ Aku Cinta , kamu jangan bercanda Dini . Aku serius nih !“ bentak Cinta .
“ Cinta ?! Maaf aku bukan Dini namaku Diah ,“ jawab Diah .
Aku yang semula tidak peduli menjadi kaget dengan apa yang dikatakan oleh anak itu . Aku pernah mendengar nama itu , aku mulai mengingat - ingat ada apa dengan nama itu . Dan akhirnya aku ingat ibu pernah berkata jika aku mempunyai saudara kembar namanya Diah . Dia diasuh oleh teman ibuku, karena keluargaku saat aku dan Diah lahir sedang kesulitan ekonomi . Teman ibuku itu sekarang pindah di Jakarta . Dulu saat ibu cerita aku ingin sekali ke Jakarta , padahal Surabaya - Jakartakan jauh . Aku melihat Diah dengan seksama ternyata Diah sangat mirip denganku . Akupun mendekati Diah .
“ Hai , namamu Diah ya ? “ tanyaku .
“ Ya kamu tahu dari mana , kalau boleh tahu namamu siapa ? “ tanya Diah .
“ Aku dengar dari pembicaraanmu dengan Cinta , namaku Dini ,“ jawabku .
“ Oh …. jadi kamu Dini ,” kata Diah .
Aku dan Diah berbincang - bincang lama sekali , sepertinya aku dan Diah sudah kenal lama . Aku dan Diah sepertinya sehati . Aku mempunyai perasaan kalau Diah adalah saudara kembarku . Kamipun saling bertanya tentang keseharian masing - masing .
Satu minggupun terasa cepat . Aku sedih sekali berpisah dengan Diah , tetapi Diah berjanji akan berkirim surat padaku . Akhirnya dengan berat hati aku meninggalkan Diah . Pukul 12.00 siang kami sampai di rumah masing - masing .
Satu bulanpun berlalu aku menunggu surat dari Diah , tetapi surat itu tak kunjung
tiba . Aku sudah berusaha mengirim surat pada Diah , tetapi tidak pernah dibalas . Aku rasa Diah pasti sudah melupakanku . Tak lama kemudian ada telepon berdering . Aku merasa malas mengangkat telefon , tetapi aku angkat saja mungkin penting .
“ Halo , ini siapa ? “
“ Ini Diah , Dininya ada tante ? “
“ Tante ?! Ini Dini , enak saja tante !!!!!!!!!!!!!!!! “
“ Oh….. sorry Din , kupikir Ibumu . Oh ya aku ada kabar baik aku …. sekarang …. ada di belakangmu ….” kata Diah sambil tertawa .
Diah ternyata sedang libur sekolah selama satu minggu . Akupun mengantar Diah mengelilingi kota Pahlawan . Karena hari ini adalah hari minggu , jadi aku bisa bebas kemanapun aku pergi . Tetapi seperti biasanya ibu dan ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya . Sejak peristiwa perginya Diah ayah dan ibuku tak ingin mengecewakanku maka dari itu mereka bekerja keras siang malam . Padahal mereka tak tahu betapa menderitanya aku tanpa mereka . Maka dari itu aku ingin mempunyai seorang saudara .
Satu mingu bersama Diah pun berlalu . Saat ini aku sendiri lagi . Tiba - tiba ibu datang .
“ Dini , sini sayang ! “ panggil ibu .
Akupun mendekati ibu . Sepertinya ibu mau membicarakan sesuatu yang penting sekali .Aku dan ibu berbicara tentang saudaraku kembarku . Ternyata dugaanku selama ini benar Diah adalah saudara kembarku . Hari Sabtu aku , ayah , dan ibuku pergi ke Jakarta untuk mengunjungi Diah . Rencananya kalau Diah mau , dia akan tinggal di Surabaya .
Sabtu pagi kamipun berangkat dengan pesawat terbang . Setelah kami sampai di Jakarta , kami mencari rumahnya Diah . Ternyata mudah sekali mencari rumah Diah .
Setelah beristirahat sejenak .Orang tuaku dan orang tua Diahpun berunding . Orang tua Diahpun menyerahkan semua keputusan pada Diah . Akupun berharap - harap cemas . Harapanku Diah akan ikut ke Surabaya bersamaku . Akhirnya Diah angkat bicara .
“ Pa.. ma.. Dini …om…tante… semoga keputusanku adalah keputusan yang membuat kalian bahagia ,“ Diah menghela nafas sejenak .
“ Sebelumnya aku minta maaf jika keputusanku menyakiti salah satu dari kalian semua , aku memutuskan untuk pergi ke Surabaya bersama saudaraku . Sejak pertama bertemu dengannya aku tak ingin terpisah darinya , sekali lagi maafkan Diah papa.. mama.. “
Mendengar keputusan Diah aku sangat bahagia . Tapi aku melihat air mata mengalir di mata Diah sepertinya Diah tak ingin berpisah dengan kedua orang tuanya . Aku tak tega melihatnya .
“ Diah …. apa kamu yakin dengan keputusanmu kalau kamu masih ragu lebih baik jangan kamu lakukan , “ ujarku .
“ Tapi Din , aku melakukan semua ini demi kamu , “ kata Diah .
“ Walaupun demi aku , kalau kamu di Surabaya terbayang - bayang wajah orang tuamu bagaimana ? “ tanyaku .
“ Tapi Din aku tak ingin kehilangan kamu . “
“ Diah , kitakan bisa surat - menyurat , saling menelpon . Diah ini jaman modern banyak alat komunikasi yang bisa kita gunakan !” tegasku .
“ Ta..tapi….. “
“ Diah aku tau kamu sangat mencintai kedua orang tuamu , begitu juga mereka , jadi demi aku jangan tinggalkan mereka . “
Akhirnya keputusan yang diambil Diah tetap tinggal di Jakarta . Besok pagi kami sekeluarga pulang ke Surabaya , Walaupun aku sedih Diah tidak ikut kami ke Surabaya . Aku yakin itu yang terbaik untuk Diah . Sampai jumpa Diah , semoga hubungan kita tetap berjalan sampai kita tua .
JANGAN PERGI SAHABAT
“ Woi , ngelamun aja ada apa sih ? “ tanyaku mengagetkan Diana .
“ Eh .. kamu Ika ,nggak ada apa - apa kok ,“ kata Diana sambil menghapus air mata yang menetes di pipinya .
Tak mungkin Diana itu anaknya periang tapi sekarang kok jadi murung .Aku ingin pelajaran cepat usai , aku ingin mengetahui masalah yang dihadapi Diana , memang sih mencampuri urusan orang lain itu tak baik , tapi aku sangat penasaran .Akupun berusaha mendekatinya, tetapi rasanya dia berusaha menjahuiku .
Bel pulang yang kutunggupun berbunyi . Diana yang pertama kali keluar kelas . Aku mempercepat langkahku untuk mengambil sepedaku . Untung saja Diana belum dijemput oleh ayahnya . Aku menunggu sampai seperempat jam, tapi ayah Diana tak kunjung tiba . Sepuluh menit kemudian ayah Diana datang, aku membuntutinya dari belakang . Aku terus mengikuti Diana , tapi mengapa dia tak pergi ke rumahnya melainkan ke rumah tantenya . Rumah tantenya ialah rumahku . Memang aku dan Diana mempunyai hubungan darah , tetapi Diana tak tahu itu .
“ Diana , mengapa kau ada di sini ? “ tanyaku .
“ Aku ingin berkunjung ke rumah tanteku di sini , kalau kau mengapa kau ada di sini ?”
tanya Diana .
“ Aku tinggal di sini ,“ jawabku.
“ Oh…… ini rumahmu ? “ tanya Diana .
Aku hanya mengangguk dan tersenyum .Memang sih kami berdua telah bersahabat selama lima tahun , tetapi Diana tak pernah pergi ke rumahku . Lalu terdengar suara ibuku memanggil Diana . Dianapun masuk ke rumahku, lalu aku dibelakangnya .
“ Eh , kamu sudah datang Ika , ini Diana anaknya om Bram, “ kata ibu .
“ Saya sudah tahu bu , Diana itu teman sekelas saya,“ kataku .
“ Iya tante Ika itu teman sekelas Diana ,“ kata Diana
Aku tak mengerti mengapa Diana ada di sini katanya ingin berkunjung , tak biasanya .
Dianapun menginap di rumahku .
Malamnya Diana menangis lagi . Aku menanyakan penyebabnya , tetapi Diana hanya diam saja . Aku bingung dengan sikap Diana yang berubah drastis .
Esoknya Diana tetap bersedih . Setelah selesai sarapan Diana langsung menyeretku ke kamarku .
“ Ada apa sih kok kamu menarik - narik tanganku ? “ tanyaku .
“ Aku udah nggak tahan nyembunyiin semua ini dari kamu, sebenernya ayah dan ibuku akan bercerai dan aku akan tinggal di sini ,“ kata Diana .
“ Ha….. apa katamu om Bram dan tante Rose akan bercerai ? “ tanyaku setengah kaget .
Diana hanya mengangguk . Aku benar - benar tak menyangka tante dan omku akan bercerai , kasihan Diana dia harus kehilangan kedua orang tuanya .
Esoknya aku pergi sekolah bersama Diana . Dalam perjalanan aku menghiburnya dengan cerita konyol Dianapun tertawa , tetapi sepertinya dia tertawa seperti kewajiban saja .
Sesampainya di sekolah aku bertemu dengan kedua sahabatku, yaitu Ana dan Rina . “ Diana kok wajahmu terlihat pucat ada apa sih ? “ tanya Ana .
Diana diam saja sepertinya pikirannya tidak ada di sini .
“ Diana ..” bisikku pada Diana sambil menyenggol bahunya .
“ Ha.. ada apa ? sorry ya aku tadi mikirin gimana aku jadi pembawa acara pada saat upacara nanti soalnya aku grogi banget ,” kata Diana .
Sepertinya kedua sahabatku itu tak percaya bahwa Diana grogi, karena Dianakan sudah berulang kali menjadi pembawa acara .
Tak lama kemudian upacara dimulai dan tepat tiga puluh menit kemudian upacara selesai dan kamipun masuk ke kelas masing - masing . Saat tidak ada guru aku mendekat ke bangku Diana . Diana kelihatanya tak konsentrasi dengan pelajaran buktinya beberapa soal yang mudah dia tak tahu jawabannya . Andhikapun datang menghampiri kami . Dia menanyakan mengapa Diana terlihat murung . Tapi Diana hanya diam saja . Akupun menceritakan masalah Diana pada Andhika. Tak lama kemudian Guru kamipun datang , karena tugas kami harus segera di kumpulkan .
Satu setengah jam kemudian bel istirahatpun berbunyi . Diana terlihat malas melakukan sesuatu , jadi kuputuskan untuk menemaninnya . Tak lama kemudian Andhika datang dengan membawa tiga buah ice cream .
“ Nih , buat kalian berdua ,“ kata Andhika .
“ Terima kasih ya ,“ jawabku dan Diana .
Andhika hanya tersenyum . Lalu kami bertiga memikirkan bagaimana cara menyatukan kedua orang tua Diana , tetapi kami tidak mendapatkan ide yang cemerlang sampai bel masuk berbunyi . Dua jam kemudian pelajaran selesai dan kamipun pulang .
Akhirnya kami sepakat untuk memikirkannya di rumahku . Andhikapun setuju . Aku dan Diana berjalan untuk menuju ke rumahku . Pikiran Diana sepertinya melayang entah kemana dan tiba - tiba ………….
“ Diana … awas……. “ teriakku .
Diana dibawa ke rumah sakit oleh orang yang menabraknya , akupun mengantarnya , lalu aku menelpon rumahku , Handphone om Bram dan Handphone tante Rose . Aku juga menelpon Andhika agar Andhika tidak pergi ke rumahku melainkan ke rumah sakit . Tiga puluh menit kemudian Andhika sampai di rumah sakit .
“ Gimana sich kok bisa jadi seperti ini ? “ tanya Andhika .
“ Tadi Diana melamun dia tidak tahu kalau di belakangnya ada mobil yang melaju kencang ,“ kataku menahan tangis .
Kami lalu menunggu kedatangan orang tuaku dan orang tua Diana . Kami berduapun tiada henti - hentinya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar Diana selamat . Tak lama kemudian orang tuaku dan orang tua Diana pun tiba . Kemudian dokterpun keluar . Kata dokter Diana mengalami pendarahan dikepalanya , tetapi untung saja pendarahan itu bisa diatasi . Saat ini keadaan Diana kritis . Aku terus dan terus berdoa demi keselamatan Diana .
Esoknya aku kembali lagi ke rumah sakit . Aku menunggu kabar dari dokter itu . Ternyata Tuhan mengabulkan semua doa - doaku . Terima kasih Tuhan kau telah memberiku banyak sekali kebahagiaan hari ini ,yaitu dengan kesembuhan Diana dan batalnya perceraian om dan tanteku . Sekali lagi terima kasih Tuhan .
“ Eh .. kamu Ika ,nggak ada apa - apa kok ,“ kata Diana sambil menghapus air mata yang menetes di pipinya .
Tak mungkin Diana itu anaknya periang tapi sekarang kok jadi murung .Aku ingin pelajaran cepat usai , aku ingin mengetahui masalah yang dihadapi Diana , memang sih mencampuri urusan orang lain itu tak baik , tapi aku sangat penasaran .Akupun berusaha mendekatinya, tetapi rasanya dia berusaha menjahuiku .
Bel pulang yang kutunggupun berbunyi . Diana yang pertama kali keluar kelas . Aku mempercepat langkahku untuk mengambil sepedaku . Untung saja Diana belum dijemput oleh ayahnya . Aku menunggu sampai seperempat jam, tapi ayah Diana tak kunjung tiba . Sepuluh menit kemudian ayah Diana datang, aku membuntutinya dari belakang . Aku terus mengikuti Diana , tapi mengapa dia tak pergi ke rumahnya melainkan ke rumah tantenya . Rumah tantenya ialah rumahku . Memang aku dan Diana mempunyai hubungan darah , tetapi Diana tak tahu itu .
“ Diana , mengapa kau ada di sini ? “ tanyaku .
“ Aku ingin berkunjung ke rumah tanteku di sini , kalau kau mengapa kau ada di sini ?”
tanya Diana .
“ Aku tinggal di sini ,“ jawabku.
“ Oh…… ini rumahmu ? “ tanya Diana .
Aku hanya mengangguk dan tersenyum .Memang sih kami berdua telah bersahabat selama lima tahun , tetapi Diana tak pernah pergi ke rumahku . Lalu terdengar suara ibuku memanggil Diana . Dianapun masuk ke rumahku, lalu aku dibelakangnya .
“ Eh , kamu sudah datang Ika , ini Diana anaknya om Bram, “ kata ibu .
“ Saya sudah tahu bu , Diana itu teman sekelas saya,“ kataku .
“ Iya tante Ika itu teman sekelas Diana ,“ kata Diana
Aku tak mengerti mengapa Diana ada di sini katanya ingin berkunjung , tak biasanya .
Dianapun menginap di rumahku .
Malamnya Diana menangis lagi . Aku menanyakan penyebabnya , tetapi Diana hanya diam saja . Aku bingung dengan sikap Diana yang berubah drastis .
Esoknya Diana tetap bersedih . Setelah selesai sarapan Diana langsung menyeretku ke kamarku .
“ Ada apa sih kok kamu menarik - narik tanganku ? “ tanyaku .
“ Aku udah nggak tahan nyembunyiin semua ini dari kamu, sebenernya ayah dan ibuku akan bercerai dan aku akan tinggal di sini ,“ kata Diana .
“ Ha….. apa katamu om Bram dan tante Rose akan bercerai ? “ tanyaku setengah kaget .
Diana hanya mengangguk . Aku benar - benar tak menyangka tante dan omku akan bercerai , kasihan Diana dia harus kehilangan kedua orang tuanya .
Esoknya aku pergi sekolah bersama Diana . Dalam perjalanan aku menghiburnya dengan cerita konyol Dianapun tertawa , tetapi sepertinya dia tertawa seperti kewajiban saja .
Sesampainya di sekolah aku bertemu dengan kedua sahabatku, yaitu Ana dan Rina . “ Diana kok wajahmu terlihat pucat ada apa sih ? “ tanya Ana .
Diana diam saja sepertinya pikirannya tidak ada di sini .
“ Diana ..” bisikku pada Diana sambil menyenggol bahunya .
“ Ha.. ada apa ? sorry ya aku tadi mikirin gimana aku jadi pembawa acara pada saat upacara nanti soalnya aku grogi banget ,” kata Diana .
Sepertinya kedua sahabatku itu tak percaya bahwa Diana grogi, karena Dianakan sudah berulang kali menjadi pembawa acara .
Tak lama kemudian upacara dimulai dan tepat tiga puluh menit kemudian upacara selesai dan kamipun masuk ke kelas masing - masing . Saat tidak ada guru aku mendekat ke bangku Diana . Diana kelihatanya tak konsentrasi dengan pelajaran buktinya beberapa soal yang mudah dia tak tahu jawabannya . Andhikapun datang menghampiri kami . Dia menanyakan mengapa Diana terlihat murung . Tapi Diana hanya diam saja . Akupun menceritakan masalah Diana pada Andhika. Tak lama kemudian Guru kamipun datang , karena tugas kami harus segera di kumpulkan .
Satu setengah jam kemudian bel istirahatpun berbunyi . Diana terlihat malas melakukan sesuatu , jadi kuputuskan untuk menemaninnya . Tak lama kemudian Andhika datang dengan membawa tiga buah ice cream .
“ Nih , buat kalian berdua ,“ kata Andhika .
“ Terima kasih ya ,“ jawabku dan Diana .
Andhika hanya tersenyum . Lalu kami bertiga memikirkan bagaimana cara menyatukan kedua orang tua Diana , tetapi kami tidak mendapatkan ide yang cemerlang sampai bel masuk berbunyi . Dua jam kemudian pelajaran selesai dan kamipun pulang .
Akhirnya kami sepakat untuk memikirkannya di rumahku . Andhikapun setuju . Aku dan Diana berjalan untuk menuju ke rumahku . Pikiran Diana sepertinya melayang entah kemana dan tiba - tiba ………….
“ Diana … awas……. “ teriakku .
Diana dibawa ke rumah sakit oleh orang yang menabraknya , akupun mengantarnya , lalu aku menelpon rumahku , Handphone om Bram dan Handphone tante Rose . Aku juga menelpon Andhika agar Andhika tidak pergi ke rumahku melainkan ke rumah sakit . Tiga puluh menit kemudian Andhika sampai di rumah sakit .
“ Gimana sich kok bisa jadi seperti ini ? “ tanya Andhika .
“ Tadi Diana melamun dia tidak tahu kalau di belakangnya ada mobil yang melaju kencang ,“ kataku menahan tangis .
Kami lalu menunggu kedatangan orang tuaku dan orang tua Diana . Kami berduapun tiada henti - hentinya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar Diana selamat . Tak lama kemudian orang tuaku dan orang tua Diana pun tiba . Kemudian dokterpun keluar . Kata dokter Diana mengalami pendarahan dikepalanya , tetapi untung saja pendarahan itu bisa diatasi . Saat ini keadaan Diana kritis . Aku terus dan terus berdoa demi keselamatan Diana .
Esoknya aku kembali lagi ke rumah sakit . Aku menunggu kabar dari dokter itu . Ternyata Tuhan mengabulkan semua doa - doaku . Terima kasih Tuhan kau telah memberiku banyak sekali kebahagiaan hari ini ,yaitu dengan kesembuhan Diana dan batalnya perceraian om dan tanteku . Sekali lagi terima kasih Tuhan .
Kakak
Hari ini hatiku mendung tak seperti cuaca yang sangat cerah , karena Kak Indra akan pergi ke Paris . Pertemuan kali ini seperti pertemuanku yang terakhir dengannya .
“ Kak, jadi pergi ? “ tanyaku .
Kak Indra hanya mengangguk . Kamipun mengantarnya ke bandara . Tak lama kemudian Kak Indra pergi dengan membawa kenangan yang masih teringat dalam benakku .
Esoknya aku malas ke sekolah , aku tak bersemangat untuk mengikuti pelajaran.
Tapi karena aku tak ingin ketinggalan pelajaran aku berangkat ke sekolah . Sesampainya di sekolah aku bertemu kedua sahabatku Novi dan Ita .
“ Ada apa Ika kok kamu keliatannya sedih banget ? “ tanya Novi .
“ Iya nih cantik - cantik kok nggak ada senyumnya ,“ kata Ita .
Aku hanya tersenyum .
“ Ika , kalau kamu ada masalah cerita dong sama kami ! “ kata Novi .
“ Apa harus kuceritakan pada kalian semua masalahku ? “ tanyaku .
“ Ya , iyalah kami kan sahabatmu ,“ kata Ita .
“ Sebenarnya kakakku pergi ke Paris ,“ kataku .
Ita menghela nafas lalu berkata , “ Ika , Ika kamu itu gimana sich, kan enak kakakmu pergi ke Paris bisa lihat menara Eiffel yang indah itu , pasti suatu hari kamu akan ke sana . “
Akupun langsung pergi meninggalkan kedua sahabatku dan bergegas menuju kelasku . Memang kami bersahabat , tetapi kelas kami berbeda . Aku berada di kelas VII A sedangkan Ita dan Novi berada di kelas VII B .
Tak terasa bel masukpun berbunyi . Saat pelajaran dimulai aku tidak konsentrasi pada pelajaran . Tak lama kemudian bel istirahatpun berbunyi . Biasanya aku langsung bergegas ke kantin sekolah , tapi sekarang aku malas sekali .
“ Nggak keluar non ? “ tanya Ryan .
“ Nggak ah , malas ,“ jawabku singkat .
“ Kenapa , lagi ada masalah ? cerita dong sama aku ? “ tanya Ryan .
“ Kak Indra pergi ke Paris untuk belajar melukis di sana ,“ jawabku .
“ Lho itu kan bagus untuk masa depannya , lalu kenapa kamu sedih ? “ tanya Ryan lagi .
“ Kak Indra adalah satu - satunya kakak yang ku punya , jadi aku merasa sangat kehilangan.“
“ Ika, apa kamu tidak ingin kalau kakakmu jadi orang yang sukses ? “ tanya Ryan.
“ Ingin sich , tapi …… ya udah dech aku ikut kamu ,“ jawabku.
Akhirnya Aku pergi ke kantin bersama Ryan . Aku sekarang merasa lega, sampai suatu saat .
“ Ika ….. Ika ….. ada kabar buruk ! “ kata Ita sambil berlari .
“ Ada apa sich kok kayaknya ada yang penting ? “ tanyaku .
“ Ini bukannya penting lagi , tapi sangat super penting . Baca koran hari ini ,“ kata Ita .
Lalu Ryanpun melihatnya .
“ Ada berita apa sich . Ha … pesawat satu - satunya yang menuju Paris jatuh , penumpangnya tidak ada yang selamat…. sa…. tu… pun… “ kata Ryan kaget .
“ Ryan kamu jangan bercanda ,“ kataku .
“ Aku tidak bercanda aku serius ,“ jawab Ryan .
Aku lalu merebut koran yang ada di tangan Ryan . Setelah aku membaca koran itu , aku baru percaya yang dikatakan Ryan . Aku sedih sekali . Aku tak menyangka kakak yang sangat aku sayangi meninggal dengan cara yang mengerikan . Rasanya aku ingin segera pulang .
Akhirnya bel pulangpun berbunyi . Aku pulang dengan tergesa - gesa . Aku berlari dan terus berlari . Aku ingin segera sampai di rumah . Di dalam benakku bayang - bayang wajah kak Indra terus dan terus membayangiku . Sampai - sampai aku tidak memperhatikan jalanku dan …………
“ Auch ! “ seruku ketikaku terserempet sepeda motor .
“ Ha …. Ika kamu tidak apa - apa ? “ kata Om Andi .
Aku hanya menggeleng sambil memegangi sikuku .
“ Maafkan Om ya . Om tergesa - gesa , karena diberi tahu mamamu bahwa Indra
kecelakaan ! “ kata Om Andi , lalu ia menghidupkan sepeda motornya .
“ Jangan bengong saja ayo naik ,“ kata Om Andi lagi .
“ Berarti mama sudah tahu , tapi kenapa ya kok nggak telefon aku ? “ pikirku .
Akhirnya kami sampai di rumah . Tiba - tiba mama memelukku .
“ Ika, kak Indra … kecelakaan ,“ kata Mama diiringi deru tangis semua keluargaku.
Dua hari kemudian jasad kak Indra tiba di rumah . Air mataku yang perlahan - lahan hilang kini tak terbendung lagi saat melihat jasad kak Indra yang anggota tubuhnya tak utuh lagi . Aku tak menyangka tubuh kakakku satu - satunya hancur berkeping - keping . Esoknya aku tak sekolah , karena pemakaman Kak Indra . Aku merasa tak bisa melakukan sesuatu tanpa Kak Indra . Sepulang sekolah Ryanpun datang . Ryanpun menghiburku . Kini aku sadar tangisanku takkan membuat Kak Indra kembali . Selamat jalan kakak ku akan slalu mencintaimu .
“ Kak, jadi pergi ? “ tanyaku .
Kak Indra hanya mengangguk . Kamipun mengantarnya ke bandara . Tak lama kemudian Kak Indra pergi dengan membawa kenangan yang masih teringat dalam benakku .
Esoknya aku malas ke sekolah , aku tak bersemangat untuk mengikuti pelajaran.
Tapi karena aku tak ingin ketinggalan pelajaran aku berangkat ke sekolah . Sesampainya di sekolah aku bertemu kedua sahabatku Novi dan Ita .
“ Ada apa Ika kok kamu keliatannya sedih banget ? “ tanya Novi .
“ Iya nih cantik - cantik kok nggak ada senyumnya ,“ kata Ita .
Aku hanya tersenyum .
“ Ika , kalau kamu ada masalah cerita dong sama kami ! “ kata Novi .
“ Apa harus kuceritakan pada kalian semua masalahku ? “ tanyaku .
“ Ya , iyalah kami kan sahabatmu ,“ kata Ita .
“ Sebenarnya kakakku pergi ke Paris ,“ kataku .
Ita menghela nafas lalu berkata , “ Ika , Ika kamu itu gimana sich, kan enak kakakmu pergi ke Paris bisa lihat menara Eiffel yang indah itu , pasti suatu hari kamu akan ke sana . “
Akupun langsung pergi meninggalkan kedua sahabatku dan bergegas menuju kelasku . Memang kami bersahabat , tetapi kelas kami berbeda . Aku berada di kelas VII A sedangkan Ita dan Novi berada di kelas VII B .
Tak terasa bel masukpun berbunyi . Saat pelajaran dimulai aku tidak konsentrasi pada pelajaran . Tak lama kemudian bel istirahatpun berbunyi . Biasanya aku langsung bergegas ke kantin sekolah , tapi sekarang aku malas sekali .
“ Nggak keluar non ? “ tanya Ryan .
“ Nggak ah , malas ,“ jawabku singkat .
“ Kenapa , lagi ada masalah ? cerita dong sama aku ? “ tanya Ryan .
“ Kak Indra pergi ke Paris untuk belajar melukis di sana ,“ jawabku .
“ Lho itu kan bagus untuk masa depannya , lalu kenapa kamu sedih ? “ tanya Ryan lagi .
“ Kak Indra adalah satu - satunya kakak yang ku punya , jadi aku merasa sangat kehilangan.“
“ Ika, apa kamu tidak ingin kalau kakakmu jadi orang yang sukses ? “ tanya Ryan.
“ Ingin sich , tapi …… ya udah dech aku ikut kamu ,“ jawabku.
Akhirnya Aku pergi ke kantin bersama Ryan . Aku sekarang merasa lega, sampai suatu saat .
“ Ika ….. Ika ….. ada kabar buruk ! “ kata Ita sambil berlari .
“ Ada apa sich kok kayaknya ada yang penting ? “ tanyaku .
“ Ini bukannya penting lagi , tapi sangat super penting . Baca koran hari ini ,“ kata Ita .
Lalu Ryanpun melihatnya .
“ Ada berita apa sich . Ha … pesawat satu - satunya yang menuju Paris jatuh , penumpangnya tidak ada yang selamat…. sa…. tu… pun… “ kata Ryan kaget .
“ Ryan kamu jangan bercanda ,“ kataku .
“ Aku tidak bercanda aku serius ,“ jawab Ryan .
Aku lalu merebut koran yang ada di tangan Ryan . Setelah aku membaca koran itu , aku baru percaya yang dikatakan Ryan . Aku sedih sekali . Aku tak menyangka kakak yang sangat aku sayangi meninggal dengan cara yang mengerikan . Rasanya aku ingin segera pulang .
Akhirnya bel pulangpun berbunyi . Aku pulang dengan tergesa - gesa . Aku berlari dan terus berlari . Aku ingin segera sampai di rumah . Di dalam benakku bayang - bayang wajah kak Indra terus dan terus membayangiku . Sampai - sampai aku tidak memperhatikan jalanku dan …………
“ Auch ! “ seruku ketikaku terserempet sepeda motor .
“ Ha …. Ika kamu tidak apa - apa ? “ kata Om Andi .
Aku hanya menggeleng sambil memegangi sikuku .
“ Maafkan Om ya . Om tergesa - gesa , karena diberi tahu mamamu bahwa Indra
kecelakaan ! “ kata Om Andi , lalu ia menghidupkan sepeda motornya .
“ Jangan bengong saja ayo naik ,“ kata Om Andi lagi .
“ Berarti mama sudah tahu , tapi kenapa ya kok nggak telefon aku ? “ pikirku .
Akhirnya kami sampai di rumah . Tiba - tiba mama memelukku .
“ Ika, kak Indra … kecelakaan ,“ kata Mama diiringi deru tangis semua keluargaku.
Dua hari kemudian jasad kak Indra tiba di rumah . Air mataku yang perlahan - lahan hilang kini tak terbendung lagi saat melihat jasad kak Indra yang anggota tubuhnya tak utuh lagi . Aku tak menyangka tubuh kakakku satu - satunya hancur berkeping - keping . Esoknya aku tak sekolah , karena pemakaman Kak Indra . Aku merasa tak bisa melakukan sesuatu tanpa Kak Indra . Sepulang sekolah Ryanpun datang . Ryanpun menghiburku . Kini aku sadar tangisanku takkan membuat Kak Indra kembali . Selamat jalan kakak ku akan slalu mencintaimu .
SEORANG BINTANG
Di sekolah ada anak baru namanya Jesica Aulia dia adalah presenter sebuah acara di sebuah stasiun tv swasta anaknya memang cantik , pintar tapi anaknya sombong . Dia selalu di kejar - kejar oleh semua anak . Bila dia berhadapan dengan anak laki - laki sifatnya ramah tapi bila dia berhadapan dengan anak perempuan sifatnya berubah menjadi sombong .
“ Kenapa ya Jesica kok anaknya suka cari perhatian sama Ryan ?“ tanyaku pada Rani saudara kembar Ryan .
“ Nggak tau , tanya aja sama anaknya tuh ada di belakang ,“ kata Rani .
“Hai lagi ngomongin siapa sih , pagi - pagi kok udah ngegosip ?“ tanya Ryan .
“ Gila kamu siapa yang ngegosip,aku cuma nggak abis pikir kenapa ya kok Jesica anaknya sombong banget ,“ kataku .
“ Siapa bilang dia ramah banget kok ,“ kata Ryan .
“ Ih… itu kalo sama kamu coba sama kita - kita duh sombongnya ,“ kata Rani yang tadinya cuma mendengarkan .
“ Masak sih ? “ tanya Ryan penuh tanya .
“ Hai Ryan gimana kabarnya baik - baik aja kan ? “ tanya Jesica pura - pura ramah .
“ Pengacau ,“ kata Rani lirih .
“ Eee, Ryan kita masuk dulu ya ,ayo Rani ,“ kataku sambil menarik tangan Rani .
Ryan cuma mengangguk . Misalnya aku tidak mengajak Rani masuk akan terjadi perang dunia ke III.
Bel masuk berbunyi kami pun berbaris .
“ Tita , sini kamu ,“ kata Jesica memanggilku .
“ Kenapa ?“ tanyaku .
“ Eh ngapain sih kamu cerita sama Ryan soal sifat ku ke kamu ,“ kata Jesica .
“ Itu urusanku ,“ kataku lalu pergi .
Satu jam kemudian bel istirahat berbunyi .
“ Tita main yuk !“ ajak Ryan .
“ Ayuk ,“ kataku .
“ Rani,Rini,Roni,Rino ikut yuk , “ kataku .
“ Oke .“
Kami pun bermain lalu Ririn datang .
“ Tita,Rani,Rini,Roni,Rino,Ryan aku ada pengumuman mau denger nggak ,“ kata Ririn,
lalu kami menghampiri Ririn
“ Pengumuman apa Rin ? “ tanyaku penasaran .
“ Ini pak Soni ngadain lomba presenter yang menang akan menjadi presenter di televisi swasta ,“ kata Ririn .
“ Ayo Tit daftar. “
“ Eng…. “
“ Ayo lah Tit .“
“ Tita ayo apa perlu Ryan daftarin .“
“ Nggak usah Yan aku sendiri deh yang daftar .“
“ Nah gitu dong .“
Di tempat pendaftaran .
“ Ow kamu ikut daftar ya udah mempersiapkan diri untuk kalah ,“ kata Jesica .
Esoknya lomba di mulai .
“Hai aku Tita gimana kalo kita langsung mulai acaranya tapi aku bacain dulu urutan acaranya. Acara pertama pembukaan ,kedua sambutan, tiga acara inti yaitu perlombaan memasak antara kelas lima dan kelas enam , lalu akan ada pengisi acara yaitu kak Dodi dari kelas enam , terakhir penutupan nah itulah rangkaian acara perpisahan sekolah …….,“ kataku .
“ Bagus ,“ kata pak Soni .
Peserta lainnya maju kedepan tak lama kemudian saat yang ditunggu - tunggu pengumuman pemenang .
“ Pemenang ketiga ialah Sari ,“ kata pak Soni .
Kami lalu bertepuk tangan .
“Pemenang kedua ialah Jesica dan pemenang pertamanya ialah Tita . “
Setelah menerima hadiah aku menemui teman - teman ku .
“ Wah.. selamat ya Tit akhirnya kamu jadi pemenang pertamanya . “
“ Terima kasih ya teman - teman ini juga berkat doa kalian semua . “
Tiba - tiba Jesica datang menemuiku .
“ Hei ngapain kamu ke sini mau minta pertandingannya di ulang , sorry ya gak ada siaran ulang buat kamu !“ bentak Rani .
“ Maafkan sikapku selama ini teman - teman, aku juga minta maaf samamu Tit karna aku udah ngejek kamu ,“ kata Jesica .
“ Gak ada ….”
“ Ran, Jesica udah minta maaf ya udah kita lupain semuanya kita buat lembaran baru untuk persahabatan kita ,“ potongku .
“ Aku setuju dengan perkataan Tita yang lalu biarlah berlalu sekarang kita buat lembaran baru untuk persahanatan kita, setuju ? “ tanya Ryan .
“ Setuju …. “
Akhirnya aku,Ryan,Rani,Jesica,Rini,Roni,Rino,Ririn bersahabat selamanya .
“ Kenapa ya Jesica kok anaknya suka cari perhatian sama Ryan ?“ tanyaku pada Rani saudara kembar Ryan .
“ Nggak tau , tanya aja sama anaknya tuh ada di belakang ,“ kata Rani .
“Hai lagi ngomongin siapa sih , pagi - pagi kok udah ngegosip ?“ tanya Ryan .
“ Gila kamu siapa yang ngegosip,aku cuma nggak abis pikir kenapa ya kok Jesica anaknya sombong banget ,“ kataku .
“ Siapa bilang dia ramah banget kok ,“ kata Ryan .
“ Ih… itu kalo sama kamu coba sama kita - kita duh sombongnya ,“ kata Rani yang tadinya cuma mendengarkan .
“ Masak sih ? “ tanya Ryan penuh tanya .
“ Hai Ryan gimana kabarnya baik - baik aja kan ? “ tanya Jesica pura - pura ramah .
“ Pengacau ,“ kata Rani lirih .
“ Eee, Ryan kita masuk dulu ya ,ayo Rani ,“ kataku sambil menarik tangan Rani .
Ryan cuma mengangguk . Misalnya aku tidak mengajak Rani masuk akan terjadi perang dunia ke III.
Bel masuk berbunyi kami pun berbaris .
“ Tita , sini kamu ,“ kata Jesica memanggilku .
“ Kenapa ?“ tanyaku .
“ Eh ngapain sih kamu cerita sama Ryan soal sifat ku ke kamu ,“ kata Jesica .
“ Itu urusanku ,“ kataku lalu pergi .
Satu jam kemudian bel istirahat berbunyi .
“ Tita main yuk !“ ajak Ryan .
“ Ayuk ,“ kataku .
“ Rani,Rini,Roni,Rino ikut yuk , “ kataku .
“ Oke .“
Kami pun bermain lalu Ririn datang .
“ Tita,Rani,Rini,Roni,Rino,Ryan aku ada pengumuman mau denger nggak ,“ kata Ririn,
lalu kami menghampiri Ririn
“ Pengumuman apa Rin ? “ tanyaku penasaran .
“ Ini pak Soni ngadain lomba presenter yang menang akan menjadi presenter di televisi swasta ,“ kata Ririn .
“ Ayo Tit daftar. “
“ Eng…. “
“ Ayo lah Tit .“
“ Tita ayo apa perlu Ryan daftarin .“
“ Nggak usah Yan aku sendiri deh yang daftar .“
“ Nah gitu dong .“
Di tempat pendaftaran .
“ Ow kamu ikut daftar ya udah mempersiapkan diri untuk kalah ,“ kata Jesica .
Esoknya lomba di mulai .
“Hai aku Tita gimana kalo kita langsung mulai acaranya tapi aku bacain dulu urutan acaranya. Acara pertama pembukaan ,kedua sambutan, tiga acara inti yaitu perlombaan memasak antara kelas lima dan kelas enam , lalu akan ada pengisi acara yaitu kak Dodi dari kelas enam , terakhir penutupan nah itulah rangkaian acara perpisahan sekolah …….,“ kataku .
“ Bagus ,“ kata pak Soni .
Peserta lainnya maju kedepan tak lama kemudian saat yang ditunggu - tunggu pengumuman pemenang .
“ Pemenang ketiga ialah Sari ,“ kata pak Soni .
Kami lalu bertepuk tangan .
“Pemenang kedua ialah Jesica dan pemenang pertamanya ialah Tita . “
Setelah menerima hadiah aku menemui teman - teman ku .
“ Wah.. selamat ya Tit akhirnya kamu jadi pemenang pertamanya . “
“ Terima kasih ya teman - teman ini juga berkat doa kalian semua . “
Tiba - tiba Jesica datang menemuiku .
“ Hei ngapain kamu ke sini mau minta pertandingannya di ulang , sorry ya gak ada siaran ulang buat kamu !“ bentak Rani .
“ Maafkan sikapku selama ini teman - teman, aku juga minta maaf samamu Tit karna aku udah ngejek kamu ,“ kata Jesica .
“ Gak ada ….”
“ Ran, Jesica udah minta maaf ya udah kita lupain semuanya kita buat lembaran baru untuk persahabatan kita ,“ potongku .
“ Aku setuju dengan perkataan Tita yang lalu biarlah berlalu sekarang kita buat lembaran baru untuk persahanatan kita, setuju ? “ tanya Ryan .
“ Setuju …. “
Akhirnya aku,Ryan,Rani,Jesica,Rini,Roni,Rino,Ririn bersahabat selamanya .
Langganan:
Postingan (Atom)