Minggu, 09 November 2008

HANYALAH SEBUAH ANGAN






Hujan yang kemarin malam mengguyur kota Surabaya menyisakan kesunyian di mana-mana. Sang Surya masih bersembunyi dibalik kelamnya Sang Mega. Embun pagi menetes dari dedaunan pohon cemara. Burung - burung kecil bersenandung dengan riangnya. Awal pagi yang begitu indah tapi ini tak menjamin masa selanjutnya seperti perawalannya.
“ Indah…. Indah….. bangun Nak. Ayo shalat Subuh dulu,” kata Ibu.
“ Hoah…. Baik, Bu,” jawabku.
Tanpa menunggu perintah kedua dari Ibu aku segera bergegas menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu dan segera shalat Subuh. Setelah sarapan teman-temanku menyusulku
untuk segera pergi bekerja. Memang semenjak Ayah meninggal aku berhenti dari sekolah dan
menjadi tulang punggung keluarga karena Ibu sakit-sakitan.
“ Ndah, jangan lupa ya. Kalau sudah selesai mengantarkan koran, kamu antre minyak tanah di pangkalan minyaknya bang Rois. Tadi katanya stok minyak udah dikirim. Oh ya ini uangnya,” kata Ibu.
“ Iya Bu. Indah berangkat dulu ya. Assalamualaikum.”
“ Waalaikumsalam.”
Segara kukayuh sepedaku menuju ke kios milik Pak Andi. Sudah dua tahunan aku bekerja sebagai loper koran di kios Pak Andi. Pak Andi adalah salah satu orang kaya yang tak pernah merendahkan saudara-saudaranya yang berada di bawah. Sambil menunggu Pak Andi aku membaca headline koran hari ini. Di sana tertulis besar-besar “Harga Kebutuhan Pokok Naik Lagi”. Ya Allah harga kebutuhan pokok naik lagi akibat rencana kenaikan BBM. Harga BBM belum naik saja harga kebutuhan pokok sudah naik, bagaimana jika harga BBM naik. Berapa kali lipat lagi harga kebutuhan pokok harus naik.
Apa sih yang dipikirkan oleh Petinggi negara ini? Jelas-jelas ini tak adil bagi kami, para Petinggi negara hidup berkelimpangan harta. Sedangkan kami rakyat kecil hidup bertemankan kemiskinan.
Tiba-tiba Pak Andi datang dengan membawa setumpuk koran yang harus aku antar ke para Pelanggan.
“ Indah, ini koran-korannya hati-hati di jalan ya. Oh ya hari senin ini kamu bisa ambil gaji kamu pada saya.”
“ Terima kasih, Pak.”
“ Sama-sama ya sudah kamu berangkat sana nanti orang - orang nungguin kamu.”
“ Assalamuailaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Di jalan A.Yani lagi-lagi aku melihat kesenjangan sosial yang begitu nampak antara Si Kaya dan Si Miskin, tapi aku tak bisa merubah semua ketidakadilan ini. Yang kaya selalu dianak emaskan sedangkan yang miskin selalu dianak tirikan. Kapankah ketidakadilan ini akan berakhir?
Saat ini aku memasuki kawasan perumahan menengah keatas. Semua pelangganku di sini sangat baik padaku. Mereka tak pernah merendahkanku walaupun aku hanya seorang loper koran. Bahkan pada waktu lebaran kemarin ada beberapa pelangganku yang memberiku baju lebaran.
Tak terasa semua koran yang aku bawa sudah sampai ke rumah pelanggan. Segera saja kukayuh sepedaku menuju pangkalan minyak milik bang Rois, karena aku tak ingin antrean semakin panjang. Dugaanku tepat 100 persen, antrean minyaknya sudah sangat panjang. Dengan enggan aku mengantre hanya demi beberapa liter minyak, sangat tak sebanding dengan perjuangan untuk mendapatkannya. Tapi sekali lagi aku tak bisa berbuat apa-apa untuk merubah semua ketidakadilan ini. Kalau aku tak mengantre makan apa keluargaku hari ini. Menyedihkan ya, memang hidup ini sangat menyedihkan.
Aku tahu pasti semua kebutuhan para Petinggi negara telah tersedia. Tidak seperti aku saat ini yang kepanasan untuk mendapatkan minyak tanah. Pasti kalian berfikir mengapa aku tak menggunakan LPG dari bantuan pemerintah saja. Asal kalian tahu seluruh kampungku belum mendapatkan bantuan tersebut. Padahal kata Ibuku, Ibuku sudah menyerahkan surat-surat yang diperlukan untuk mendapatkan LPG beserta kompornya.
Sejujurnya aku iri pada orang yang sudah mendapatkan kompor itu, tapi malah ada yang beralih ke minyak tanah lagi. Dikasih yang enak kok malah milih yang susah. Tak terasa aku sudah berada di barisan paling depan. Jurigenku sudah diisi penuh oleh bang Rois dan akupun membayarnya.
Setelah meletakkan jurigen ke rumah aku langsung menuju ke Perpustakaan kecil yang dimiliki oleh Sheila. Dari sanalah aku belajar tentang banyak hal. Karena memang Ibuku tak mampu membiayai sekolahku lagi pula aku harus bekerja untuk mencari uang.
Terkadang aku memaki dalam hati anak-anak yang bolos sekolah. Bodoh sekali mereka, mereka sudah diberi kesempatan tapi malah disia-siakan. Ingin rasanya aku bertukar tempat dengan mereka agar mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan pada mereka. Tapi aku tahu itu semua adalah khayalan tingkat tinggi.
Setelah puas membaca, aku menuju ke sebuah toko untuk bekerja sebagai Pramuniaga. Mengapa hidupku hanya dipenuhi dengan bekerja dan bekerja. Ya mungkin ini semua sudah jalan takdir yang harus kujalani.
Hujan malam ini begitu deras seakan membawa kenikmatan bagi setiap anak manusia merasakannya. Malam ini aku, Ibu dan adikku, Ali sedang makan malam bersama.
“ Mbak, sebentar lagi Ali ada ulangan terus semua materi ulangannya ada di buku pendamping tapi Ali belum punya, tolong belikan ya Mbak,” kata Ali.
“ Iya, tapi mbak Indah cari uang dulu ya,” jawabku.
Sang Surya masih malu-malu untuk menampakkan dirinya di pagi hari yang indah ini. Dia masih senang bersembunyi di balik Sang Mega. Anak-anak burung bernyanyi dengan riang gembira. Awal hari yang indah dan aku yakin jika masa selanjutya akan seindah awal hari ini. Jika ku tak yakin, ku tak pernah dapatkan hari-hari yang indah.
Seperti biasa aku harus mengantarkan koran ke pelanggan-pelanggan. Aku bosan melihat keadaan yang sangat membedakan antara Si Kaya dan Si Miskin ini. Terkadang aku berpikir mengapa aku terlahir seperti ini. Rasanya aku ingin sekali terlahir kembali menjadi anak orang kaya. Yang bisa sekolah tinggi untuk bisa memajukan bangsa ini. Merubah kekacauan yang terjadi.
Andaikan saja aku adalah seorang Petinggi negara ini. Takkan pernah kuumbar janji tanpa sebuah bukti. Aku kan mengapdi pada negara ini tanpa rasa pamrih. Takkan pernah aku menikmati kekayaanku jika ku lihat banyak rakyatku yang menderita. Kan kurubah kesenjangan sosial yang nampak. Takkan pernah aku merugikan rakyat kecil dengan dalih apapun karna ku tahu itu semua bukan jalan yang terbaik. Tapi ini semua hanyalah sebuah angan yang bisa saja terjadi bisa saja tidak. Tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk memajukan bangsa ini.
Sudahlah lebih baik aku bekerja agar adikku bisa membeli buku yang ia perlukan. Lagi pula semua itu takkan pernah terjadi. Biarlah itu semua menjadi anganku saja tanpa seseorangpun yang mengetahuinya.
Sang Surya kembali bersembunyi di balik kelamnya Sang Mega. Pertanda hujan akan turun membasahi bumi. Segera kukayuh sepedaku karena ku tak ingin koran-koran yang ku bawa basah terkena hujan. Semoga suatu saat nanti ada seseorang yang kan merubah negri tercintaku menjadi negri yang lebih baik dari sekarang. Amien.

1 komentar:

tika mengatakan...

niy kritik niy bwt pemerintah. ksian rkyat bwh tw