Aku melihat Donita sahabatku tergolek lemas, karena ia terserang penyakit leukemia. Donita tak pernah bercerita pada siapapun tentang penyakitnya itu, dia juga sama sekali tidak pernah mengeluh. Ayah dan Ibu Donita baru saja bercerai, sekarang dia diasuh oleh tantenya.
Aku dan Esti, sahabatku tak bisa lagi membendung air mata kami. Melihat Donita seperti itu aku jadi ingat pada janjinya padaku dan Esti. Dia berjanji akan mengajak aku, Esti, Rendi dan Erdi jalan - jalan mengelilingi kota Malang.
Saat Donita sakit banyak sekali telepon yangmenanyakan kabarnya karena Donita adalah anak yang ramah, wajahnyapun cantik, jadi banyak sekali yang menyayanginya. Tapi aku tak tahu kabar kedua orang tuanya.Ternyata Donita telah digeroti penyakit itu selama setahun.
Esti membangunkanku, karena dia melihat Donita telah menggerakkan tangannya. Tanpa membuang waktu aku langsung mendekati Donita. Donita hanya tersenyum wajahnya yang cantik terlihat pucat. Sudah satu jam aku dan Esti mengabiskan waktu bersama Donita.Akhirnya kami berdua pulang karena besok kami berdua harus sekolah.
Esoknya saat berada di sekolah hatiku sangat bahagia karena Donita sudah sadar. Sampai dengan tak sengaja aku tersenyum - senyum sendiri seperti orang gila. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan kebahagianku apa aku harus meloncat - loncat. Rasanya aku ingin memberi tahukan pada dunia bahwa sahabat yang amat sangat aku cintai sudah sadar, memang sich itu terlalu berlebihan, tetapi aku memang terlalu bahagia.
Hari ini Donita sudah keluar dari rumah sakit dan kami berencana untuk mengajaknya jalan - jalan walaupun tidak sampai Malang tapi aku yakin Donita pasti bahagia.
“ Restika, Esti, Rendi, Edi misalnya nanti aku pergi maukah kalian menjaga persahabatan kita ?“ tanya Donita.
“ Udah dech Donita kamu kan dah nglewatin masa kritismu, pasti kamu akan sembuh !” seru Esti.
“ Donita kami nggak ingin kamu ninggalin kami ya kan,” tanyaku pada sahabat - sahabatku.
Semua sahabatku mengangguk. Donita hanya tersenyum wajahnya yang cantik terlihat pucat. Aku sama sekali tak ingin Donita pergi. Aku ingin Donita tetap di sini bersamaku. Memang aku egois aku tak peduli karena aku tak tahu apa yang harus aku lakukan tanpa Donita.
Di sekolah aku tak henti - hentinya aku mengembangkan senyum. Ini lebih parah dari kemarin, karena hari ini aku lebih bahagia. Aku yakin Donita akan sembuh karena akhir - akhir ini keadaannya sudah membaik.
“ Senyum - senyum sendiri kayak orang gila tau. Kemarin gara - gara Donita sadar kamu senyum - senyum sendiri sekarang keadaan Donita udah membaik harusnya kamu loncat - loncat kayak orang nggak waras,” kata Rendi.
“ Eh, kamu Ren kirain sapa. Abisnya aku seneng banget keadaan Donita udah membaik. Maunya sich aku ngikutin saranmu, tapi ntar aku dikira gila dong,” kataku.
“ Kamu bisa aja Res. Oh ya, gimana kalau kita berdua ntar jenguk Donita abis pulang sekolah ?“ tawar Rendi.
“ Woi, maunya cuma berduaan kita berdua gimana, emangnya mau dibuang ke sungai apa, kita berdua juga mau dong jenguk Donita,” kata Erdi.
“ Bukan gitu tadikan yang ada cuma Restika jadi, yang aku ajak cuma Restika,” elak Rendi.
“ Ngeles aja kalau udah kepergok,” kata Esti.
Ya begitulah persahabatan kami selalu terisi dengan canda tawa, walau kami saling menggoda tapi tidak ada rasa dendam diantara kami. Semua ini belum lengkap tanpa kehadiran Donita. Donita itu bagai mentari yang selalu menyinari persahabatan kami, tanpa Donita hidup kami terasa gelap tak bermentari ya itulah Donita.
Setelah bel masuk berbunyi, bu Ita mengumumkan bahwa setelah ulangan matematika kami diperbolehkan pulang karena guru - guru akan mengantarkan bu Ririn pergi haji. Dan akhirnya kamipun pulang. Setelah itu kami berangkat ke rumah Donita.
Sesampainya di rumah Donita kami langsung menuju kamar Donita. Kami sudah terbiasa masuk ke rumah Donita jadi tak ada yang menghalangi kami. Tapi ada yang aneh di sana karena di dalam banyak orang berkerumun.
“ Selamat siang …. Donita mengapa kamu pergi secepat ini,” kataku sembari memeluk jasad Donita semua orang memandangiku, tapi aku tak peduli aku ingin sekali memeluknya untuk yang terakhir kalinya.
Donita adalah sahabat yang paling dekat denganku bahkan masalah yang paling memalukan dalam hidupku kuceritakan padanya. Di sana aku melihat Ayah dan Ibu Donita. Aku merasa sedikit benci pada mereka, karena mereka tak mempedulikan Donita saat dia sakit. Tapi aku tahu aku tak boleh menghakimi mereka begitu, karena mereka sedang ada masalah.
Esoknya seusai sekolah aku, teman - teman dan guru - guru mendatangi pemakaman Donita. Air mataku tak terbendung lagi ketika melihat jasad Donita dimasukkan ke liang lahat.
“ Res, kamu yang tabah aja ya kita semua bisa menjadi Donita kedua bagimu. Ya kan teman - teman ,” kata Rendi.
Semua sahabatku mengangguk dengan pasti .
“ Makasih ya teman - teman, tapi Donita ya Donita tak ada seorangpun yang bisa menggantikan posisinya di hatiku. Tapi aku akan berusaha untuk nggak nangis lagi ,” kataku.
Selamat jalan sahabatku aku akan menjaga persahabatanku dengan Rendi,Esti dan Erdi hanya untukmu. Aku sadar walau ragamu tlah pergi tetapi jiwamu kan abadi di hatiku tuk slamanya.
1 komentar:
di crita niy q pake 2 namaq esti ma restika, coz q ska bgt ma 2 nama tu
Posting Komentar