Pelangi membereskan kertas-kertas yang berserakan di mejanya. Ia harus segera pulang, agar ia tak terlalu larut. Diliriknya jam di tangannya pukul delapan, pantas saja perutnya sudah keroncongan. Dengan segera ia mencari rumah makan yang paling dekat dengan kantornya. Dipilihnya sebuah meja di dekat jendela dengan pemandangan sebuah taman kota lengkap beserta air mancurnya. Cukup sempurna untuk sejenak menghilangkan kepenatannya selama ini.
Pelangi memperhatikan seorang wanita yang duduk di meja seberang. Ditatapnya wanita itu lekat-lekat. Mengapa wajah itu begitu familiar? Ia membongkar seluruh memori dalam otaknya. Dan ditemukannya sebuah nama, yang dulu pernah berarti dalam hidupnya. Raina…
" Raina….? Ini bener kamu, Raina?"
Raina terkejut. " Pelangi?!"
" Iya Ra. Ini aku Pelangi."
Tatapan Raina mendadak berubah saat ia mengingat suatu peristiwa. " Kamu!? Aku nggak ngerti kenapa aku harus ketemu sama kamu lagi."
" Kamu kenapa, Ra?"
" Kamu tanya ‘kenapa’?! Setelah semua yang kamu lakuin ke Kak Rhesa? Kamu masih tanya ‘kenapa’?!"
Pelangi tercekat. Nama itu… Nama yang semenjak dulu berusaha untuk dilupakan. Dengan susah payah Pelangi mengucapkan nama itu. " Rhe.. Rhesa.."
" Ya.. Kak Rhesa. Dia udah meninggal delapan tahun yang lalu. Tepat satu minggu setelah kamu pergi."
Tanpa terasa air mata Pelangi meleleh. " Rhe..Rhesa udah meninggal?"
" Ngapain sih kamu nangis? Bukannya kamu yang mau Kak Rhesa pergi. Ini semua salah kamu. Semenjak pertengkaran itu dia nggak mau berobat lagi, dia udah nggak punya semangat buat hidup. Sama persis kayak waktu dia belum ketemu sama kamu."
" Maafin aku, Ra. Aku nyesel banget."
" Nyesel??? Percuma, Semua udah terlambat. Penyesalanmu nggak akan buat Kak Rhesa kembali lagi."
Air mata Pelangi makin tak terbendung lagi.
" Ra.. kamu mau nganterin aku ke makam Rhesa?"
"Buat apa? Mau ngapain lagi kamu? Pengen nambah penderitaan Kak Resha lagi?!"
"Please, Ra..! Aku mohon sama kamu.."
Sesaat Raina terdiam.
"Ra, kalau nanti kakak udah nggak ada, kakak mohon sama kamu… Kalau kamu ketemu sama Pelangi, tolong antar dia ke tempat peristirahatan terakhir kakak.. Kamu mau kan?"
Terngiang di benak Raina, pesan kakaknya sesaat sebelum kakaknya meninggal…
Aroma bunga kamboja begitu terasa saat kaki Pelangi mulai memasuki areal pemakaman. Pelangi terpaku menatap pusara yang ada di hadapannya. Pusara yang di dalamnya terbaring jasad orang yang dicintainya. Pusara yang bertuliskan Rhesa Aldo Alana.
Setetes air mata mulai meleleh di sudut mata Pelangi, kala mengingat segala hal tentang Rhesa. Betapa bodohnya dirinya, ia meninggalkan Rhesa saat Rhesa membutuhkannya. Andaikan dulu ia mendengarkan alasan Rhesa, semuanya takkan menjadi seperti ini.
Fajar baru terjaga, seorang gadis sudah selesai menyiapkankan dagangannya. Gadis berusia lima belas tahun itu biasa menjual dagangannya di terminal-terminal. Pelangi… begitu dia biasa disapa. Rambutnya yang panjang terurai indah dipermainkan angin saat ia berlari kecil keluar dari kampungnya. Kali ini tujuannya bukanlah di terminal di mana ia biasa mangkal, tapi ke daerah-daerah yang mengalami kemacetan.
Dia begitu semangat menjalani hari-harinya tanpa peduli akan kesendirian yang menghantuinya. Sejak secil dia sudah terbiasa dengan kesendiriannya. Karena memang ayah ibunya sudah lama menghadap Sang Pencipta.
Kaki-kaki Pelangi bergerak begitu lincah ke sana ke mari seakan tiada mengenal lelah. Ada sepasang mata memperhatikannya. Sepasang mata yang kelak akan mengisi hari-harinya. Segala gerak-geriknya tiada yang luput dari pandangan sepasang mata itu.
" Air.. air.. air mineral.. kacang...." seru Pelangi penuh semangat.
" Dik.. dik… Air mineralnya satu," seorang ibu-ibu memanggilnya. " Berapa satu?" tanyanya seraya menggambil dompet di tasnya.
" Seribu lima ratus, Bu ," jawab Pelangi.
Di samping ibu-ibu itulah sepasang mata itu berada. Sepasang mata itu kembali menatap Pelangi. Pelangi menyadari hal itu, tapi Pelangi berusaha untuk tidak menggubrisnya. Sepertinya sepasang mata itu merasa bahagia saat melihat segala hal yang dilakukannya, semua semangatnya yang tak pernah padam. Perlahan-lahan kemacetan itu mencair dan mobil milik sepasang mata itu menghilang di ujung jalan.
Kaki-kaki Pelangi melangkah dengan tak sabar, rasanya ia ingin terbang atau menggunakan pintu ke mana saja seperti yang ada di film kartun favoritnya, untuk segera sampai di SMAnya yang baru. SMA yang dulu hanya bisa dilihatnya dari luar. Kini ia tak hanya bisa memasuki gerbangnya yang begitu megah, tapi ia telah menjadi salah satu siswa di SMA itu.
Pelangi menatap kagum gerbang SMA yang kini menjadi sekolahnya. Menakjubkan hanya kata itu yang pantas menggambarkan suasana sekolah barunya. Walaupun ia bisa masuk ke sekolah itu karena beasiswa, ia sama sekali tak percaya bisa bersekolah di sekolah semewah itu.
Berbagai pertanyaan menghampiri Pelangi, apakah teman-teman barunya yang rata-rata anak orang kaya akan menerimanya sebagai teman, apakah dia sanggup bertahan di sekolah barunya ini. Dengan segera Pelangi menepis semua pertanyaan yang berkecambuk dalam hatinya. Dengan langkah pasti dia memasuki gerbang yang bertuliskan SMA Putra Bangsa.
Tiba-tiba ada seorang gadis yang menghampirinya. " Hey… kamu anak baru juga kan?"
" Ehm… ya, kamu juga anak baru?"
" Yap, bener banget." Gadis itu lalu mengulurkan tangannya. " Oh ya kenalin namaku Raina, nama kamu siapa?"
Pelangipun mengulurkan tangannya. " Namaku Pelangi."
Raina dan Pelangi berjalan berdampingan menuju ke kelas mereka. Beberapa pasang mata memandangi mereka. Ada yang mengagumi kecantikan Raina dan Pelangi, tapi ada pula yang memandang risih ke arah Pelangi.
Pelangi memandangi seluruh pakaiannya. Seragam yang digunakannya memang sama seperti siswa-siswi SMA barunya, tapi tetap saja ia merasa tidak percaya diri. Apalagi pandangan yang seolah merendahkan dari beberapa pasang mata. Pelangi sadar dia tidak pantas bersekolah di tempat ini. Tanpa terasa langkah Pelangi terhenti.
" Kenapa kok berhenti?" tanya Raina.
" Aku ngerasa nggak nyaman deh."
Raina menatap Pelangi dalam-dalam. " Nggak nyaman kenapa? Karena pandangan mereka ngeremehin kamu? Atau kamu ngerasa beda sama mereka?"
" Kok kamu tau sih Ra?"
" Pelangi.. Pelangi.. Aku udah tau kalau kamu masuk sini karena beasiswa kan, tapi santai aja aku tetep mau temenan kok sama kamu. Ya udah ah, nggak usah peduli`in mereka. Yuk kita ke kelas aja." Dengan segera Raina menarik tangan Pelangi untuk menuju ke kelas.
Terik matahari siang ini begitu menyengat, tapi tentu saja tidak menghalangi Pelangi untuk tetap menjajakan dagangannya dari satu bus ke bus lainnya. Tanpa mengenal lelah Pelangi tetap melangkah dengan lincahnya.
Pelangi kembali melihat sepasang mata itu. Benarkah dia ada di sini. Benarkah dia memperhatikan Pelangi. Segala tingkah lakunya. Sesekali pelangi berusaha mencuri pandang ke arah sepasang mata itu untuk memastikan sepasang mata itu benar-benar ada dan bukan hanya khayalannya saja.
Pelangi ingin mengetahui sepasang mata itu milik siapa. Pelangi ingin mengetahui nama sepasang mata itu. Tapi tak mungkin ia menanyakannya pada sepasang mata itu. Kalau memang misalnya sepasang mata itu benar-benar memperhatikannya tak apa, jika selama ini sepasang mata itu tidak pernah memperhatikan pelangi mau di letakkan di mana muka Pelangi. Apalagi sepertinya sepasang mata itu berasal dari keluarga yang berada.
" Dik.. dik.." sebuah suara membuyarkan lamunan Pelangi. " Tehnya berapa harganya?"
" Ehm.. kenapa, pak"
" Aduh dik.. dik.. kerja itu jangan sambil melamun. Saya mau beli teh. Harganya berapa?"
" Oh.. maaf, pak. Tehnya dua ribu lima ratus, pak?"
" Ini uangnya. Lain kali jangan melamun lagi ya," kata lelaki separuh baya itu sambil memberikan sejumlah uang pada Pelangi.
Pelangi tersenyum malu. Pelangi mengalihkan pandangannya ke arah sepasang mata itu lagi, tapi sepasang mata itu telah menghilang.
Pelangi menatap bintang-bintang dari balik jendela kamarnya. Ia mengingat-ingat peristiwa yang beberapa hari ini lumayan menyiksanya. Bayangan tentang sepasang mata yang memperhatikan Pelangi. Apakah sepasang mata itu benar-benar ada, ataukah semua itu hanya khayalannya. Tapi sudah kali kedua ia melihat sepasang mata itu dari kejauhan.
Entah mengapa Pelangi berharap sepasang mata itu benar-benar ada. Ia ingin lagi menatap kelembutan sepasang mata itu saat memperhatikan gerak-geriknya. Ia sepertinya ketagihan untuk bertemu lagi dengan pemilik sepasang mata itu. Walaupun mereka sama sekali tak pernah mengobrol, Pelangi merindukan saat-saat sepasang mata itu menatapnya. Ia bertanya pada dirinya benarkah ini suatu kerinduan? Mereka baru dua kali bertemu, mengobrol saja mereka tak pernah. Bahkan terkadang Pelangi menganggap sepasang mata itu tidak benar-benar ada. Semoga ia bisa bertemu sepasang mata itu untuk kali ketiga, agar ia yakin bahwa sepasang mata itu benar-benar ada.
Pelangi memandang rumah yang ada dihadapannya. Benarkah ini rumah Raina? Jika memang benar, Raina berarti benar-benar anak orang kaya. Pelangi menjadi ragu-ragu untuk memencet bel. Ia takut orang tua Raina tak mau menerima kehadirannya. Tapi ia sudah berjanji pada Raina untuk mengerjakan tugas ini di rumah Raina, ia semakin tak enak jika harus mengerjakan di rumahnya yang kecil itu.
Akhirnya Pelangi memberanikan diri untuk memencet bel. Tapi tak ada seorangpun yang keluar bahkan suarapun tak ada. Sekali lagi ia memencet bel. Tetap saja tak ada respon. Dengan putus asa Pelangi memencet bel untuk yang ketiga kali.
" Ya… sebentar," suara seorang lelaki dari balik pagar. " Aduh bi` Inah ke mana sih. Ada tamu kok nggak dibukain," kata lelaki itu lagi sambil membuka pagar yang berdiri kokoh itu.
Ketika pagar sudah terbuka, Pelangi begitu terkejut melihat sosok yang ada di belakang pintu. Sosok itupun sama terkejutnya dengan Pelangi. Pelangi tak menyangka siapa sosok yang ada di hadapannya. Kenyataankah ini atau semua ini hanya mimpi atau khayalan belaka atau malah karena selama ini Pelangi terlalu memikirkan pangeran impiannya itu. Tapi ia begitu mengenal sosok itu, tatapannya yang lembut penuh arti, lekuk-lekuk wajahnya, apalagi sepasang mata yang di milikinya. Sepasang mata yang selama ini menghiasi mimpi-mimpi indahnya, sepasang mata yang selama ini berusaha dianggapnya tak pernah ada. Kedua anak manusia itu diliputi keterkejutan yang mendalam. Mereka tak menyangka bisa bertemu lagi untuk yang ketiga kalinya.
" Siapa kak tamunya?" sebuah suara menyadarkan mereka dari keterkejutan. " Ih.. Kak Rhesa kok nggak disuruh masuk sih, itu Pelangi…." Suara itu diam sejenak menyadari ada yang tak beres antara kakak lelaki dan teman perempuannya.
Rhesa segera mengakhiri keterpukauannya terhadap kedatangan Pelangi. " Ini temen kamu Ra? Ayo masuk."
Raina mengamit lengan Pelangi dan berjalan memasuki rumah. Di belakang mereka Rhesa mengikuti. Wajahnya masih diliputi keterkejutan yang amat sangat. Raina segera mengajak Pelangi menuju ke kamarnya.
" Ra… itu tadi kakak kamu?" tanya Pelangi saat di kamar Raina.
" Bener banget. Namanya Kak Rhesa. Ehm.. kamu udah kenal sama Kak Rhesa? Tadi kalian berdua kayak gimana gitu waktu ketemu," tanya Raina dengan tatapan penuh selidik.
" Kenal? Ehm kalo kenal sih nggak, aku kayak ngerasa pernah ketemu aja sama Kak Rhesa. Eh.. Ra ayo kita mulai dari mana nih."
Raina merasa Pelangi mengalihkan pembicaraan tentang Kak Rhesa. Tapi Raina menurut saja untuk memulai mengerjakan tugas mereka.
Tok,tok,tok. " Permisi boleh masuk kan, aku cuma mau nganterin minuman aja buat kalian berdua."
" Lho kok kakak yang anterin. Bi` Inah ke mana, kak? Tumben mau nganterin minuman. Biasanya aja nggak mau nganterin minuman buat…." Raina sadar celotehannya dari tadi sama sekali tak didengar kakaknya.
Rhesa sedang asyik memperhatikan tingkah laku Pelangi yang sedang mengerjakan kerajinan tangan. Rhesa begitu terpukau melihat gerak lincah tangan Pelangi ketika membentuk pola, sedangkan Pelangi sesekali mencuri pandang ke arah Rhesa.
" Ehem…"
Rhesa segera sadar apa yang telah dilakukannya tadi. " Minumannya kakak taruh sini ya." Rhesa meletakkan minuman itu di atas meja dan Pelangi kembali mengerjakan tugasnya.
Raina tahu jika ada sesuatu antara Kak Rhesa dan Pelangi, tapi mereka tak mau mengakuinya. Rainapun pura-pura tak menyadarai semua dan kembali mengerjakan bagiannya.
Pelangi merasa ada yang aneh pada Raina seharian ini. Dari awal pelajaran sampai pelajaran berakhir, selalu saja mengoceh tentang Kak Rhesa tentang kebaikan Kak Rhesa, kepintaran, bahkan ketampanannya - yang ini diakui oleh Pelangi -. Untung saja waktu sepulang sekolah Pelangi pergi ke perpustakaan. Menurut Pelangi walaupun Raina mengikutinya Raina tak bisa mengoceh banyak tentang Kak Rhesa di perpustakaan.
Tapi bukan Raina namanya jika tak mempunyai akal untuk tetap memamerkan kehebatan kakaknya di depan Pelangi. Bulatan kertas melayang ke arah Pelangi, Raina tersenyum ke arah Pelangi dan menyuruhnya untuk membaca bulatan kertas itu. ` Pelangi, tau nggak sih Kak Rhesa itu pinter banget main gitar dan main piano `. Huft.. apa sih mau Raina itu. Semakin banyak lagi bulatan-bulatan yang melayang ke arah Pelangi. Dari pada ia dimarahi pengurus perpustakaan karena mengotori perpustakaan, lebih baik ia segera keluar dari perpustakaan itu. Raina segera menyusul Pelangi dan berjalan di sampingnya.
" Pelangi Kak Rhesa itu…"
" Stop! Aduh Ra.. kamu itu apa`an sih," potong Pelangi. " Penting nggak sih, cerita-cerita tentang Kak Rhesa terus. Aku kan jadi… ups."
" Apa? Aku kan jadi? Jadi apa jadi keinget terus sama Kak Rhesa, " kata Raina menggoda Pelangi.
Pelangi tersipu malu sehingga Raina semakin gencar menggoda Pelangi.
" Hai, Pelangi."
" Ha..hai." Pelangi terpaku melihat siapa yang menyapanya.
" Ehem.. yang disapa cuma Pelangi nih. Ade`nya yang imut ini nggak dianggep."
" Apa sih Ra? Ayo kita pulang," kata Rhesa.
" Ehm.. Ra.. aku nggak jadi nebeng deh," bisik Pelangi.
" Kenapa nggak jadi? Karna ada Kak Rhesa?" tanya Raina keras-keras, yang disebut namanya menoleh.
" Raina." Bisik Pelangi.
" Ayo, Raina, Pelangi kalian kok jadi bengong gitu."
" Iya, kak." Raina langsung mengamit lengan Pelangi agar Pelangi segera naik ke dalam mobil.
Mobil Rhesa berhenti di sebuah tempat kursus piano. Rainapun turun dan Pelangi mengikutinya.
" Lho Ra.. kamu mau ke mana?" tanya Pelangi.
" Aku mau les. Ngapain kamu ikut turun. Tenang aja Kak Rhesa bakal nganterin kamu pulang kok."
" Tapi Ra…"
" Udah naik cepetan," kata Raina lalu mendorong tubuh Pelangi masuk ke dalam mobil.
" Pelangi ayo masuk, tenang aja. Aku anterin kamu pulang kok," kata Rhesa.
Pelangi menurut dan masuk dari pintu belakang.
" Duduk depan dong. Memangnya aku supir kamu," kata Rhesa sambil tersenyum.
Pelangi menjadi salah tingkah karena ucapan Rhesa. Diapun pindah ke kursi depan. Suasana mobil menjadi hening. Pelangi ingin menghidupkan suasana, tapi ia bingung apa yang harus dikatakannya.
" Ehm… Pelangi.. aku lagi BT banget nih di rumah. Enaknya kita ke mana?" tanya Rhesa memulai pembicaraan.
" Biasanya kalo aku lagi sedih, lagi ada masalah, atau lagi bosen aku ke suatu tempat yang bagus banget. Tempatnya di kota ini kok. Kak Rhesa mau ke sana?" tanya Pelangi.
" Boleh banget. Kamu tunjukin ya."
Pelangi tersenyum.
Tempat yang dimaksud Pelangi adalah sebuah danau lengkap dengan taman bunga yang mengitarinya. Jika danau itu terkena sinar matahari, ada pantulan cahaya yang menyerupai pelangi. Danau itu begitu jernih, sehingga bebatuan di dasar danau itu terlihat. Tempat itu sangat indah tak ada kata yang dapat menggambarkan keindahan tempat itu.
" Tara… ini dia tempatnya," kata Pelangi.
" Wow.. sumpah ini keren banget, Pelangi. Aku nggak nyangka di kota ini ada tempat seindah ini," kata Rhesa, matanya masih terbelalak kagum melihat keindahan taman itu.
Pelangi tersenyum. " Ayo ikut aku, Kak." Pelangi berlari ke pinggir danau dan Rhesa mengikuti. " Kalau Kak Rhesa lagi kesel, coba deh teriak pasti semua kekeselan Kak Rhesa ilang."
" Hooooooiiiiiiiiiiiii."
" Kurang keras, kak. Kayak gini. Hooooooooooiiiiiiiiiii.."
" Wow teriakan kamu keras banget. Aku coba ya. Hooooooooiiiiiiiii." Rhesa tersenyum. " Kamu bener Pelangi. Semua beban aku rasanya terlepas. Makasih banget ya."
" Waktu kecil, aku sering banget ke sini sama orang tuaku. Sekarang kalau aku lagi sedih aku sering ke sini dan teriak sekenceng-kencengnya buat ngilangin semua beban itu." Ada kilatan di sudut mata Pelangi.
Rhesa mengusap dengan lembut air mata yang mulai membasahi pipi Pelangi. " Eh liat deh, itu ada orang jual gelembung sabun. Beli yuk." Tanpa sadar Rhesa menggandeng tangan Pelangi. " Ups.. maaf."
Pelangi tersenyum dan mengikuti Rhesa.
Rhesa membeli dua gelembung sabun dan memberikan satu untuk Pelangi. Pelangi meniupkan gelembung itu ke arah Rhesa. Rhesa membalasnya, tapi Pelangi sudah berlari menjauh. Rhesapun berlari mengejar Pelangi.
Pelangi dan Rhesa terus berkejar-kejaran mengitari danau. Dan mereka berhenti di bawah pohon di pinggir danau.
" Hh..hh.. gila… kamu lari hh.. cepet banget sih," kata Rhesa terengah-engah.
" Ye.. itu sih Kak Rhesa yang lambat," kata Pelangi.
" Ya, mungkin karna lemak yang udah menumpuk ini ya.. " Kata Rhesa sambil bercanda..
Pelangipun membalas dengan senyum..
" Kamu haus?" Tanya Rhesa.
" Yah lumayan."
" Bentar ya, aku beli minum dulu." Rhesa pergi ke tempat penjual minuman. Lalu Rhesa kembali sambil membawa dua botol minuman dingin. " Ini buat kamu..."
" Makasih, Kak."
" Ehm.. jangan panggil kak dong, kita beda berapa tahun sih, paling tiga tahun kan. Panggil Rhesa aja langsung."
" Lho kan Kak Rhesa kakaknya Raina."
" Oh.. jadi kamu anggep aku sebagai kakaknya Raina bukan temen kamu."
" Bukannya gitu, Kak."
" Kalo kamu anggep aku temen kamu, panggil Rhesa aja. Ok?"
" Oke deh. Rhesa"
" Nah gitu dong. Ehm… dari tadi aku di tempat ini, tapi aku belum tau namanya. Apa sih nama tempat ini?"
" Ehm.. sebenernya tempat ini belum ada namanya sih kak eh Rhes."
Rhesa tersenyum. " Ehm… gimana kalo namanya Taman Pelangi?"
" Kok gitu?"
" Ya, soalnya di tempat ini ada dua pelangi, yang hiasin hari aku."
Pelangi menatap Rhesa heran.
" Ya dua pelangi. Pelangi di danau itu dan kamu." Kata Rhesa sambil memandangi Pelangi dengan penuh senyuman..
Semenjak kejadian di Taman Pelangi, Rhesa dan Pelangi semakin dekat. Dan merekapun juga sering ke Taman Pelangi. Taman Pelanginya kini terasa begitu lengkap karena ada pangeran yang selama ini diimpikannya, yaitu Rhesa. Pelangi begitu bahagia saat berada di dekat Rhesa. Tatapan mata Rhesa yang lembut itu begitu dirindunya.
" Whoy… nglamunin Kak Rhesa ya," suara khas Raina yang manja mengagetkan Pelangi.
" Apa`an sih, Ra. Aku nggak nglamunin Rhesa kok." Pelangi memperhatikan ekspresi Raina yang lain dari biasanya. " Kamu kenapa, Ra? Kayaknya seneng banget."
" Jelas dong. Aku seneng banget mulai kemaren Kak Rhesa udah punya waktu buat aku. Biasanya waktunya diabisin buat kamu sama penelitiannya itu," kata Raina pura-pura kesal.
" Yah, maaf deh kalo Rhesa sering pergi sama aku."
" He..he..he.. kalo pergi sama kamu sih bodo, aku malah seneng. Yang bikin waktunya habis itu masalah penelitiannya. Syukur sekarang penelitiannya udah selese."
" Penelitian? Penelitian apa Ra, Rhesa kok nggak pernah cerita."
" Ih.. keterlaluan banget sih Kak Rhesa, masa kamu nggak dikasih tau tentang kesehariannya. Itu lho Kak Rhesa ada tugas penelitian tentang ehm.. kalo nggak salah kehidupan pedagang asongan, ya gitu deh biasa anak kuliahan."
" Kehidupan pedagang asongan?"
" Yap.. Kehidupan pedagang asongan. Tau dapet ide….." Raina masih mengoceh tentang penelitian Rhesa, tetapi Pelangi tak mendengarkannya.
Pikiran Pelangi melayang. Penelitian Rhesa tentang kehidupan pedagang asongan dan dirinya adalah pedagang asongan. Jadi selama ini dirinya hanya dibuat bahan penelitian. Dia sama sekali tak menyangka, Rhesa yang selama ini dianggapnya sebagai orang yang baik dan tulus, tega menjadikannya sebagai obyek penelitian.
" Pelangi… hey.. kamu dengerin aku nggak sih?"
" Ra.. bilang sama kakakmu itu. Udah cukup kebohongannya selama ini." Pelangi beranjak pergi lalu menoleh pada Raina " Oh ya satu lagi Ra? Bilang sama dia makasih buat semuanya."
" Pelangi… apa maksudmu aku nggak ngerti… Pelangi."
Pelangi berjalan dan terus berjalan tujuannya hanya satu. Taman Pelangi. Ia ingin meluapkan segala kekesalannya di sana.
" Argh….. kamu jahat Rhes. Aku nggak nyangka kamu bisa setega itu sama aku. Aku benci sama kamu." Air mata Pelangi mulai meleleh, tapi ia tak peduli. " Bodoh banget aku nyangka kamu punya perasaan yang sama kayak aku. Aku benci sama kamu."
Tanpa Pelangi sadari Rhesa sudah berdiri di belakangnya.
" Pelangi… aku tau kamu pasti di sini." kata Rhesa.
" Puas kamu. Puas kamu liat aku nangis di sini karna kamu. Tulis semua itu di penelitian kamu. Tulis bahwa ada seorang gadis pedagang asongan bodoh yang percaya ada seseorang yang tulus sayang sama dia. Tulis… tulis semua kebodohanku."
" Pelangi kamu nggak ngerti, aku nggak pernah jadi`in kamu bahan penelitian."
" BOHONG!! Aku nggak percaya. Aku nggak mau lagi jadi orang bodoh yang percaya sama ketulusan orang kayak kamu."
" Pelangi…"
Pelangi menutup kedua telinganya. " Udah cukup Rhes, cukup! Aku nggak mau liat kamu lagi. Jangan pernah ganggu aku lagi!"
Pelangipun pergi meninggalkan Rhesa sendiri. Mata hatinya seakan tertutup untuk melihat sinar ketulusan dari sepasang mata itu. Sepasang mata milik Rhesa.
Selembar surat tanpa nama tergeletak di teras rumah Pelangi. Tanpa perlu Pelangi membukanya, ia sudah tahu surat itu pasti dari Rhesa. Pelangi ingin membuang surat itu, tapi ada dorongan dalam hatinya yang memaksanya untuk membaca surat itu.
Ku tak ingin lagi melihat air matamu
Air mata yang mengalir dari mata indahmu
Air mata yang mengalir karnaku
Karna semua kebodohanku
Andai ku bisa hapus sgala lukamu
Andai ku bisa buatmu kembali tersenyum
Ku kan lakukan sgalanya untukmu
Ku kan pergi
Jika itu yang kau ingini
Ku kan pergi
Dan tak kan pernah kembali
Tapi kau harus mengerti
Kau kan slalu di hati
Dan takkan pernah terganti
Ps: Pelangi aku mohon temui aku di Taman Pelangi. Aku janji ini pertemuan terakhir kita. Aku akan selalu menunggu.
Love
Rhesa Aldo Alana
Sebuah tangan menyentuh pundak Pelangi dan membuyarkan semua lamunannya akan Rhesa.
" Pelangi… maafin aku, aku tau kamu nggak salah. Kamu nggak usah terlalu menyalahkan diri kamu. Kamu nggak tau kan kalau Kak Rhesa lagi sakit."
" Kamu bener Ra. Seandainya dulu aku dengerin semua alasan Rhesa, aku bisa dampingin Rhesa di saat-saat terakhirnya. Dan bukannya seperti saat ini, aku baru tau Rhesa udah meninggal bertahun-tahun setelah kematianya. Apalagi pertemuan terakhirku dengan Rhesa adalah sebuah pertengkaran."
" Sudahlah Pelangi. Ayo kita pulang."
"Makasih Ra, tapi aku masih pengen disini dulu.."
Setetes air mata mulai membasahi pipi Pelangi. Pelangi meremas surat terakhir Rhesa yang sampai sekarang masih disimpannya. Andaikan saja dulu Pelangi mau menemui Rhesa. Andaikan saja dulu ia tidak pergi. Pelangi sadar penyesalan selalu datang terlambat. Waktu takkan bisa diputar untuk kembali ke masa yang tlah lalu. Masa saat dirinya dan cinta pertamanya bertemu.. andai waktu dapat ku putar kembali.
1 komentar:
cerpen ini aku bikin waktu ada tugas bhasa indonesia dari guruku..
di kejer deadline dan harus lebih dari 10 hal.. jujur ini pertama kalinya aku bikin cerpen sepanjang ini.. jadi maaf klo rda berantakan..
Posting Komentar