Senin, 30 November 2009

Adilkah ini ?

" Anak-anak karena sebentar lagi ujian akan datang. Ada bab-bab yang kalian belum mengerti ?" tanya Pak Andri, guru matematikaku.
" Saya masih belum mengerti masalah Persamaan Garis Lurus,pak?"
" Ya, begini saya jelaskan lagi…."
Semua murid kelas 9F mendengarkan penjelasan dari Pak Andri. Tapi, pagi ini aku kembali melihat Doni, saudara kembarku tidur dengan santainya, tanpa menyimak pelajaran yang diberikan Pak Andri Aku heran melihat dia padahal ujian kurang seminggu lagi. Aku tak yakin dia bisa mengerjakan soal-soal latihan yang akan diberikan oleh Pak Andri.
" Don, Doni bangun dong. Nanti ketauan Pak Andri lho!"
" Apa`an sich, kalo kamu nggak nglapor ya nggak bakalan ketauan."
" Tapi kamu `kan nggak nyimak pelajaran nanti kalo waktu ujian nggak bisa gimana ?"
" Alah… aku kan bisa nyontek kamu waktu ujian."
Dasar Doni, sebenarnya aku kasihan juga pada dia. Bagaimana jika ujian nanti dia tidak lulus gara-gara nilai matematikanya jelek. Tapi dia sendiri malah acuh tak acuh. Aku tak habis pikir bagaimana bisa dia menghadapi ujian minggu depan tanpa persiapan. Padahal aku yang mendapat juara dua pada Olimpiade matematika saja belajar. Daripada aku bingung memikirkan Doni, lebih baik aku belajar untuk persiapan ujian.
" Dona, kamu belum tidur sayang ?"
" Eh Mama, iya ma Dona masih belajar. Takut ujian nanti nggak bisa."
" Ya ampun kamu sama Doni itu beda sekali ya. Sudah sana kamu tidur dulu, setiap hari `kan kamu belajar pasti bisa. Sudah tidur nanti kamu kelelahan."
" Baik ma."
Saat yang mendebarkan pun tiba, ujian dimulai untung saja aku berhasil mengerjakan soal-soal dengan mudah. Berbeda dengan Doni dia berulang kali bertanya padaku tentang soal-soal yang tidak bisa dijawabnya. Dan aku yakin aku pasti lulus. Tapi aku harus menunggu satu bulan lagi untuk mengetahui hasil ujian itu.
Hari-hari kulalui dengan penuh keyakinan bahwa pasti lulus ujian nasional. Karena selama ini aku belajar dengan tekun dan pelajaran yang awalnya aku tidak bisa pada waktu ujian kemarin dengan mudahnya aku berhasil lulus.Pada saat tour untuk perpisahan teman-temanku juga mengatakan bahwa aku pasti lulus.
Hari ini adalah hari yang kutunggu-tunggu karena hari ini adalah pengumuman kelulusan. Hatiku berdebar-debar kira-kira aku lulus atau tidak. Rasanya waktu ingin segera kuputar agar aku bisa segera mengetahui hasil ujian itu. Saking tergesa-gesanya aku hampir lupa sarapan dan berpamitan pada orang tuaku.
" Dona, sarapan dulu. Lagi pula Doni masih sarapan kamu kan berangkat dengan Doni," kata Mama.
" Iya kamu kan juga belum pamit sama Papa dan Mama," ingat Papa.
" Tau nich, kenapa sih buru-buru. Yakin banget kalo lulus, kalo nggak?"ceplos Doni.
" Doni, apa`an sich kamu. Kayaknya kamu doa`in kalo aku nggak lulus?" bentakku.
" Aku nggak doa`in `kan siapa tahu?" jawab Doni.
" Sudah-sudah kalian berdua sekarang sarapan terus berangkat!" nasehat Mama
" Baik ma."
Tiba-tiba aku merasa menjadi tidak tenang karena memikirkan kata-kata Doni. Benar juga jika aku tidak lulus bagaimana. Berbagai pertanyaan muncul di benakku. Sampai-sampai aku tidak sadar jika mobilku sudah berada di depan gerbang sekolah.
" Don, ayo turun nglamun aja dari tadi," tegur Doni.
Ternyata teman-temanku sudah berkumpul di depan aula melihat pengumuman kelulusan. Kata Linda di sekolahku hanya ada satu orang yang tidak lulus. Untung saja cuma satu jadi aku bisa menepis dugaan-dugaan yang merusak pikiranku. Aku segera menerobos kerumunan itu untuk melihat nilai ujianku. Dona Amalia : Bahasa Inggris: 9.8, Bahasa Indonesia: 10, IPA: 9.5, dan Matematika……. Ini tak mungkin, ini benar-benar sangat tidak mungkin. Nilai matematikaku…. 3.00 itu berarti aku adalah satu-satunya siswa yang tidak lulus di sekolahku. Dan yang lebih membuatku tak percaya aku tidak lulus karena nilai matematikaku di bawah standart.
Seorang yang mendapat juara dua pada olimpiade matematika tingkat Jawa Timur tidak lulus karena nilai matematika di bawah standart. Bisa-bisa ini menjadi headline koran besok. Ya Allah adilkah ini. Aku yang belajar mati-matian selama setahun ini tidak lulus sedangkan Doni yang begitu santainya menghadapi ujian lulus dengan nilai yang lumayan baik. Apa gunanya aku bekerja keras selama ini, begadang setiap malam, itu semua sangat membuang-buang waktu dan tenaga karena tanpa ada hasil yang memuaskan.
Tanpa terasa aku sudah berada di tengah jalan dan aku tak melihat jika ada sebuah mobil yang sedang melaju. Dan….. tiba-tiba semua terasa gelap, aku tak sadarkan diri. Saat aku membuka kedua mataku aku melihat ada Mama, Papa, dan……. Doni.
" Doni, ini semua gara-gara kamu. Kamu nyontek aku terus waktu ujian matematika jadinya aku nggak konsen. Kamu harus tanggung jawab Don."
Aku melihat ada raut muka bersalah dari wajah Doni. Tapi aku tak peduli aku sudah sangat kesal padanya.
" Dona, sudahlah. Kamu tidak usah menyalahkan Doni terus. Ini semua adalah jalan yang sudah Allah gariskan padamu."
" Tapi ini nggak adil, Ma. Dona udah belajar mati-matian, tapi hasilnya apa? Sedangkan Doni, tinggal nyontek aja bisa lulus. Kalo gitu caranya medingan dulu waktu mau ujian Dona nggak akan belajar tapi main terus."
" Maafin aku, Don. Aku tahu ini semua nggak adil buat kamu, tapi aku yakin ini adalah jalan yang terbaik buat kamu."
" Ya, iyalah kamu bisa ngomong gitu orang kamu nggak ngalamin itu. Kamu nggak belajar mati-matian dan kamu lulus. Udah dech aku sekarang lagi pengen sendiri."
Saat ini, hatiku sangat hancur. Sempat terfikir untuk bunuh diri, tapi tidak kulakukan karena aku sekarang sudah dianggap bodoh dan aku tak mau gelar baru menempel padaku yaitu pecundang. Aku tak mau disebut sudah bodoh, jadi pecundang lagi. Tapi aku bingung apa yang harus kulakukan esok nanti. Masa depan yang kurancang hancur berantakan semua. Aku tak mungkin bisa masuk SMA negri yang kuinginkan. Dan apakah aku bisa mencapai cita-citaku untuk menjadi Dokter.
Tiba-tiba terlintas sebuah ide cemerlang dalam benakku dan harus kulakukan sekarang. Segera saja aku mengambil air Wudlu dan melasanakan Shalat. Selesai Shalat semua perasaan yang berkecamuk di benakku hilang sudah. Walaupun rasa kecewa masih tersisa, tapi aku mulai sadar jika Allah itu Maha Adil. Dan aku yakin pasti ada rencanaNya yang lebih baik dari lulus Ujian yang dibuatNya untukku. Aku yakin itu.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Nice... Asik banget dibaca.. Endingnya juga bagus!!!

Aku udah kehabisan kata2 pujian...

-alvi-