Senin, 30 November 2009

Air

Matahari bersinar begitu semangatnya, sehingga membuat hari ini sangat panas. Tapi tak mempengaruhi Doni dan Dino untuk berhenti bermain. Dua bocah kembar itu memang suka bermain sepeda mengelilingi kampung dan mencari kubangan lumpur untuk mengotori sepeda mereka lalu mereka akan mencuci sepeda sembari bermain-main air.
" Dino… kena kau," kata Doni sambil menyemprot selang ke arah Dino. Dinopun membalasnya. Dan mereka saling semprot-menyemprot.
" Lho… kok mati airnya? " tanya Dino heran. Dino menuju ke arah kran dan berkata," Ada yang mati`in kak? Siapa ya? " tanya Dino. " Ih…. Kak Santi jail, kok di mati`in sich?". Lalu dia menyalakan kran dan menyemprotku.
" Dino… apa`an sich… jangan gini dong. Kalian itu dari tadi main air terus. Kalau sudah nyuci sepeda ya sudah jangan di teruskan kan mubadzir airnya," kataku menasehati kedua adik kembarku. " Kalian itu inget dong sama sodara-sodara kita yang kekurangan air bersih, kalian harus bersyukur tapi jangan boros makainya. Kalau kalian yang kekurangan air bersih gimana?"
" Biarin aja, kan asyik main air. Seru… ," kata Doni menimpali." Sodara dari mana kenal aja nggak. Lagian kita kan nggak kekurangan air."
Aku hanya bisa menggelengkan kepala jika melihat tingkah kedua anak kembar itu, susah sekali untuk mendengarkan nasehat orang lain. Tanpa mempedulikan mulutku yang berbusa, mereka malah asyik melanjutkan permainan mereka. Bagaimana caranya agar mereka mengerti akan pentingnya berhemat air.
Malamnya, saat makan bersama ibu menasehati Dino dan Doni agar tidak mencuci sepeda sambil bermain air. Aku bingung dari mana ibu tahu jika Dino dan Doni sering bermain air, padahal aku tidak melaporkannya pada ibu. Pasti Dino dan Doni menuduhku yang melapor.
Betul saja dugaanku Dino dan Doni menuduhku melaporkan mereka, dan mereka marah padaku. Mereka berkata mereka tidak akan berbicara lagi denganku. Dasar anak kecil sifat gondoknya keluar. Paling-paling besok sudah balik lagi.
Esoknya Sang Surya kembali bersinar terik, bahkan lebih terik dari biasanya. Ternyata acara marah-marahan adik kembarku tidak cepat usai buktinya pagi ini saat aku membangunkan mereka, mereka masih marah padaku.
" Kak Santi…. Kak…." Panggil Doni dan Dino. Tuh kan benar dugaanku mereka tak akan betah marah padaku.
" Kenapa sich pake teriak-teriak segala… pelan-pelan kan kakak juga udah denger," kataku sambil tersenyum. " Kalo ngomong sama kakak harus teriak. Kak… Kakak ya yang mati`in airnya, ayo nyala`in kita mau sekolah nih," kata Dino.
" Kurang kerja`an banget kakak mati`in air pagi-pagi gini." kataku. " Jadi bukan kakak yang mati`in trus siapa," tanya Doni dan Dino bersamaan.
Ternyata penyebab matinya air di rumah kami adalah bocornya pipa PDAM dan sekarang masih dalam perbaikan. Untung saja kami masih tinggal di wilayah pedesaan jadi kami masih mempunyai sumur untuk persediaan air bersih. Tapi berhubung saat ini musim kemarau, sumur itu sangat dalam.
Ayah dan ibu menyuruh Doni dan Dino menimba air sepulang sekolah. Lucu juga melihat mereka berjalan gontai membawa timba berisi air yang berat. Dua bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu tak lagi bermain-main sepeda, tapi rutinitas mereka sekarang adalah menimba air.
Sekarang dua bocah itu lebih cerewet dari aku masalah penghematan air. Contohnya siang tadi saat aku mencuci piring. Mereka mengatakan jangan terlalu banyak menggunakan air nanti keperluan yang lain tidak terpenuhi. Aku hampir tertawa mendengar nasehat itu. Aku tak percaya kata-kata itu muncul dari mulut mungil kedua adikku.
Untung saja matinya air tidak berlangsung lama. Karena sore ini air sudah keluar lagi. Jadi aku dan kedua adik kembarku tak perlu bersusah payah menimba air lagi untuk keperluan sehari-hari.
" Kak.. ternyata kalau nggak ada air kita jadi susah ya," kata Doni. " Iya nggak ada air sehari aja rasanya nggak enak banget, " Dino menimpali.
" Tuh kan bener apa kata kakak, kalian harus hemat air. Kalian boleh main-main air tapi jangan terlalu sering. Gimana kalau minggu ini kita berenang supaya kalian bisa puas main airnya? " tawarku.
" Beneran kak??? Kita mau banget. Mulai sekarang kita janji nggak akan boros air lagi," kata si kembar kompak dan langsung memelukku.
Terima kasih Tuhan Kau telah mengabulkan doaku. Kau telah menyadarkan kedua adikku dan Kau buat kedua adikku menjadi lebih dewasa. Sekali lagi terima kasih Tuhan.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Aku suka cerita ini..!!
Pas banget buat anak2 sepertiku

:P

-alvi-