Minggu, 09 November 2008

MAAFKAN AKU BAPAK

“ Assalamualaikum,” sapa Bapak.
“ Waalaikumsalam. Bapak mana pesanan Dini tadi pagi, pak ?,” jawabku tanpa menunggu Bapak melepas lelah barang sejenak.
“ Din… kasian Bapak baru pulang istirahat dulu baru nanti kamu tanya,” kata Ibu.
“ Sudahlah Bu biarkan saja, ini Din pesanannya,” kata Bapak.
Tanpa berterima kasih pada Bapak aku langsung membuka kantung plastik yang di bawa Bapak. Bapak dan Ibu cuma bisa menggelengkan kepala melihat tingkahku. Tapi begitu aku melihat isi yang ada dalam kantung itu aku langsung kecewa.
“ Bapak ini bagaimana sich? Tadi pagi kan Dini pesan boneka beruang seperti punya teman - teman Dini. Tapi kok Bapak bawa boneka beruang yang tidak ada tangannya.”
“ Apalagi sih Din Bapakmu kan sudah bawa yang kamu pesan.”
“ Tapi bu kalo bonekanya seperti ini Dini bisa malu bu kalo di tunjukkan ke teman - teman Dini, mereka pasti menertawakan Dini. Pokoknya besok Dini nggak mau sekolah”
“ Dini teman - temanmu kan anaknya orang kaya, sedangkan kamu cuma anak seorang pemulung. Masih untung kamu bisa makan, sekolah saja kamu mendapatkan beasiswakan. Kalau besok kamu tidak masuk bisa - bisa beasiswamu di cabut.”
“ Kenapa sih Dini dilahirkan di keluarga miskin, kenapa Dini kok nggak terlahir dari keluarga pejabat seperti keluarga Nita.”
Plak!!! Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku langsung pergi meninggalkan kedua orang tuaku dengan emosi yang memuncak. Aku merasa Allah tak adil padaku. Mengapa Dia memberiku sebuah keluarga yang miskin. Bapak seorang pemulung sedangkan Ibu seorang buruh cuci. Mengapa aku tak terlahir di keluarga Nita yang Ayahnya seorang anggota DPR sedangkan Ibunya adalah pemilik sebuah Mall yang terkenal di kotaku.
Andaikan saja aku bertukar tempat dengan Nita. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya menjadi anak seorang pemulung yang selalu dihina. Aku juga ingin merasakan menjadi seorang Nita, yang selebritis, anak seorang pejabat. Tapi sayang semua itu hanya impian semu belaka.
Sekarang aku tak tahu aku harus tidur di mana. Aku tak mungkin pulang karena kedua orang tuaku pasti masih marah padaku. Apa aku harus tidur di emperan toko. Aku sudah lelah berjalan, apa aku pulang saja. Ah biarlahlah aku tidur di sini saja. Angin berhembus sangat lembut seakan dia tahu bahwa aku sedang kedinginan. Dan akhirnya aku tidur beralaskan tanah dan berselimutkan dinginnya malam.
Sang Surya membangukanku dengan sinarnya yang menerpa tubuhku. Betapa nyenyaknya tidurku malam ini. Tapi kok alasku untuk tidur berubah menjadi empuk. Dan suasana ini bukan suasana emperan toko yang kemarin menjadi tempatku untuk tidur. Ini adalah suasana sebuah kamar.
“ Pagi non, Tuan dan Nyonya sudah menunggu di bawah untuk sarapan.”
Ya Allah ini bukan mimpikan. Harapanku terkabul aku bertukar tempat dengan Nita seperti film yang pernah ku tonton dulu.
Aku langsung bergegas untuk menuju ke ruang makan. Aku begitu kaget melihat kedua orang yang sedang sarapan di ruang makan. Mereka adalah Bapak dan Ibuku.
“ Bapak, Ibu…”
“ Pagi sayang Dini kamu sudah lupa ya mulai Papimu ini menjadi anggota DPR kamu harus memanggil kami Papi dan Mami jangan Bapak dan Ibu. Oh ya Mami berangkat dulu ya ada janji mau lihat koleksi berlian yang di miliki Ibu - Ibu sekalian memamerkan Berlian milik Mami.”
Ketika aku hendak memberi salam pada Ibu, Ibu malah berlalu. Aneh tidak seperti biasanya.
“ Sayang Papi berangkat dulu.”
Seperti Ibu, Bapak juga banyak berubah. Sepertinya mereka terburu - buru. Ah biarlah yang penting sekarang impianku telah terkabul. Aku jadi anak seorang pejabat. Aku begitu senang tak sabar rasanya aku melenggang ke sekolahku melihat ekspresi teman - temanku.
Di sekolah aku menjadi pusat perhatian bahkan Rendra lelaki yang selama ini aku sukai mau mendekatiku. Dulu menoleh padaku saja tidak, sekarang malah dia yang selalu menyapaku. Ini baru yang namanya hidup bahagia. Aku tak pernah merasakan sebahagia ini dulu.
Nanti pulang sekolah aku akan mengajak teman - temanku pergi menonton di bioskop milikku yang baru saja diresmikan oleh Bapakku oh ya aku lupa maksudku Papiku.
Aku melihat Nita sekarang berubah, ya berbalik seratus delapan puluh derajat denganku. Aku sangat menikmati hidupku saat ini. Teman - temanku tak ada lagi yang memanggilku dengan sebutan ` anak pemulung `. Predikat itu kini disandang oleh Nita.
Di rumah aku tak perlu lagi mengerjakan pekerjaan rumah yang melelahkan karena para pelayanku yang mengerjakan semuanya. Yang aku kerjakan hanya tidur, menonton tv, mendengarkan musik ya pokoknya santai terus.
Semua kenikmatan ini membuatku lupa diri. Aku tak pernah lagi berkumpul dengan teman - temanku yang dulu. Yang menyayangiku apa adanya. Tapi sekarang aku tak lagi membutuhkan mereka, karena di sini aku memiliki banyak teman yang sederajat denganku.
Hari ini aku ada janji dengan Rendra untuk pergi ke acara ulang tahun Chintya di sebuah Hotel ternama di kotaku. Sebuah mobil BMW mulus menjemputku. Dengan menggunakan gaun terindahku aku melenggang tanpa memperdulikan semua pasang mata yang tertuju padaku dan Rendra.
Di pesta itu aku seperti seorang putri yang selalu menjadi pusat perhatian. Tapi aku melihat Nita datang juga ke pesta itu bersama teman - teman gembelnya. Ih… mengapa mereka datang ke sini merusak pemandangan saja. Aku langsung menghampiri mereka.
“ Dini… kamu Dinikan. Masya Allah Dini kamu cantik banget. Impian kamu sekarang terkabul ya,” kata Ira.
“ Udah deh gak usah norak gitu kenapa biasa aja lagi. Eh kalian ngapain ke sini? Oh… aku tahu, pasti kalian mau ngambilin botol - botol bekas ya, kaliankan pemulung. Asal kalian tahu ya kalian tuh nggak pantes ada di sini ngerusak pe..man..da..ngan.. tahu?!?!”
“ Astaugfirullah Dini kamu kok berubah gini sih Din kamu bukan kayak Dini yang dulu. Kami tahu kami cuma anak seorang pemulung dan kami nggak pantes ada di sini, tapi kami ke sini karena Chintya ngundang kami.”
“ Ya… ya….ya… udah selesai ceramahnya. Emang aku bukan Dini yang dulu, Dini yang dulu tuh anak seorang pemulung kalo Dini yang sekarang tuh anaknya pejabat ngerti. Udah deh mendingan kalian pergi aja.”
Semua anak - anak gembel itupun segera pergi. Aku nggak habis pikir. Kok bisa ya Chintya mengundang gembel - gembel itu. Merusak pemandangan saja.
Sampai di rumah aku tak menemukan kedua orang tuaku. Mereka pasti belum pulang. Sudah lama aku tak merasakan kasih sayang orang tuaku. Melihatnya saja jarang karena keduanya selalu saja berangkat pagi, pulang malam. Aku rindu masa - masa dulu, walaupun dulu Bapak hanya seorang pemulung kami selalu berkumpul untuk sekedar bercanda saja.
Tapi biarlah yang penting saat ini hidupku sekarang telah berubah seperti yang kuimpi - impikan. Sekarang saatnya aku tidur di atas kasurku yang empuk.
Sang Surya pagi ini tertutup awan tebal. Untung saja hari ini hari minggu jadi aku bisa tidur lebih lama di kasur favoritku. Tapi tiba - tiba ada suara gaduh di lantai bawah. Dan aku mengintipnya ternyata ada beberapa orang petugas yang hendak menangkap Papi. Ada apa ini? Papipun di bawa ke kantor polisi. Akupun menanyakannya pada Mami. Kata Mami, Papi melakukan korupsi dana pendidikan.
Ya Allah mengapa keluargaku menjadi hancur seperti ini. Mengapa Bapak melakukan semua itu. Aku benci pada Bapak yang sekarang. Tapi aku kan masih punya teman - temanku. Aku harus menceritakan semuanya pada mereka agar mereka mau memberikan solusi padaku.
Tanpa mengulur - ulur waktu aku langsung menceritakan semua masalahku pada Rendra. Tapi apa yang terjadi bukannya memberi solusi atau setidaknya menghiburku Rendra malah menjauhiku. Katanya dia tak mau berteman dengan orang miskin.
Ya Allah kini aku sadar teman - temanku bukanlah teman sejati yang mau menerimaku dikala senang maupun sedih, tapi mereka hanya mau berteman denganku ketika aku sedang diatas. Kini aku benar - benar rindu ketika aku masih menjadi anak pemulung seandainya aku tak pernah berharap untuk menjadi anak pejabat.
Air mata penyesalan terus mengalir membasahi pipiku. Andaikan aku tak pernah menuntut Bapak untuk menjadi orang kaya. Hari ini adalah hari terakhirku untuk tidur di kasur favoritku karena besok aku dan Ibu harus pergi dari rumah ini.
Tiba - tiba suara gaduh membangunkanku, ternyata itu adalah suara para pemilik toko yang mengusirku dari tempatku tidur. Ya Allah ini semua hanya mimpi. Berarti aku masih jadi anak pemulung yang Bapaknya bukan seorang koruptor. Alhamdulillah permintaanku terkabul.
Aku langsung pergi kembali ke rumah. Aku tak peduli walaupun Bapak dan Ibu marah padaku karena semalam aku tak pulang. Mereka marahkan karena memang aku salah. Aku rindu menatap wajah Bapak yang begitu berwibawa dan wajah Ibu yang begitu menentramkan hatiku.
“ Dini… kamu ke mana saja ,nak. Bapak dan Ibu khawatir padamu.”
“ Maafkan Dini ,Pak,Bu. Dini tahu Dini salah.”
“ Sudahlah ,nak yang penting sekarang kau sudah pulang. Bapak janji nanti Bapak akan membelikan boneka beruang seperti milik teman - temanmu, tapi hari ini kamu ekolah ya.”
“ Nggak usah ,Pak. Dini sudah nggak perlu lagi boneka itu. Dini lebih senang jadi diri sendiri nggak memaksakan kehendak Dini. Uang itukan bisa buat kita sekeluarga makan ya kan ,Bu. Sekarang Dini mau mandi dulu takut terlambat ke sekolah.”
Bapak dan Ibu tersenyum melihat tingkahku. Aku begitu senang memamandang wajah mereka sekarang walaupun wajah Bapak dan Ibu dalam mimpiku terlihat lebih rapi tapi aku lebih senang memandangi mereka sekarang.
Aku segera menyusul teman - temanku untuk berangkat sekolah.
“ Din… gimana kamu udah dapet bonekanya ?” tanya Ira.
“ Belum,” jawabku.
“ Kamu gimana sih Din katanya kamu nggak mau disebut “anak pemulung” sama Nita syaratnya kan cuma kamu bawa boneka kayak punya dia.”
“ Lho memangnya kenapa kalo aku disebut `anak pemulung` akukan memang anak pemulung. Ngapain harus malu, inikan pekerjaan halal daripada Bapakku jadi pejabat terus korupsi. Aku baru malu kalo disebut `anak koruptor` benerkan?”
“ Kamu berubah Din. Aku lebih suka Dini yang sekarang daripada Dini yang dulu. Kenapa harus malu kalo Bapak kita pemulung yakan.”
Aku dan kawan - kawanku melenggang dengan riang menuju ke sekolah.
“ Hai `anak pemulung` gimana udah dapet boneka yang kita pesen.” tanya Cindy.
“ Eh inget lho kita nggak mau dibawain boneka yang nggak utuh ato boneka dari tempat sampah,” kata Nita.
“ Ya nggak mungkin lah ,Nit Si `anak pemulung` ini bisa dapet boneka baru,” kata Cindy.
“ Ya emang aku nggak dapet bonekanya….”
“ Tuh kan , jadi kamu harus siap dong di panggil `anak pemulung`.”
“ Ya terserah kalian mau panggil aku `anak pemulung`, daripada dipanggil `ANAK KORUPTOR`.” Setelah puas berkata aku dan kawan - kawanku meninggalkan Nita dan Cindy yang masih melongo.
Aku sadar buat apa malu dengan keadaan orang tuaku. Toh walaupun aku malu itu takkan merubah keadan orang tuaku kan. Sekarang aku tak lagi ingin menjadi anak seorang pejabat ataupun sebangsnya. Aku lebih senang menjadi anak eorang pemulung yang hidup berbahagia

1 komentar:

tika mengatakan...

niy crita bernafaskan islami yg pertama kali q buat. crita ni q bkin bwt ikut lomba nulis cerpen.. but smpe skr q g tw hsilx