Senin, 30 November 2009

Who are my love ?

Awalnya hati ini hanya untuk Bagas seorang, hanya dialah yang menghiasi malam indahku dengan semua khayalan indah bersamanya. Tapi semenjak Hendra datang, semuanya berubah. Hendra juga menghiasi malam-malam indahku bersama Bagas. Ya kini selalu ada mereka berdua di hatiku.
Terserah kalian mau menganggap aku apa, tapi kenyataan itulah yang kualami. Padahal Bagas dan Hendra sangat jauh berbeda. Bagas adalah lelaki yang ehm…. lumayan tampan, dan Hendra lelaki yang ( maaf ) dengan wajah yang jauh berbeda dengan Bagas. Untuk sifat Hendra lebih baik daripada Bagas.
Tapi cara mereka memperlakukan aku sama. Pertama, mereka menunjukkan jika mereka menyukaiku. Setelah aku mulai menunjukan jika aku juga suka pada mereka, apa yang mereka lakukan mereka malah dengan cueknya pergi seakan-akan mereka tak pernah mengenalku.
Dua-duanya sama-sama pernah membuat hidupku hancur. Entah sudah berapa liter air mata ini menetes untuk mereka. Entah sudah berapa kali nilai ulanganku jatuh karna mereka. Entah sudah berapa kali aku kepergok melamunkan mereka oleh teman-temanku. Entah sudah berapa banyak kertas yang terbuang sia-sia untuk menuliskan nama mereka.
Ya mereka berdua tak ada yang mendominasi, semuanya rata. Aku betul-betul bingung.
Untungnya sekarang Hendra tak menjauhiku lagi. Itu yang membuatku yakin jika dia tak memiliki perasaan yang sama denganku. Walaupun begitu, entah mengapa ada sesuatu yang aneh dari cara dia memperlakukan aku sangat berbeda dengan cara dia memperlakukan orang lain. Rasanya seperti ada jarak antara aku dan dia.
Dan Bagas… entah kata apa yang pantas untuk melukiskan sikapnya padaku. Entah dia kini menganggapku sebagai apa kawan atau lawan. Dia sepertinya begitu tak ingin melihatku. Aku itu bagaikan virus yang mematikan yang membuat dia mati jika sampai melihatku. Padahal kami dulu adalah sahabat. Dia berubah semenjak dia tahu jikaku mempunyai rasa padanya.
Bagas maupun Hendra, keduanya sama-sama special di hatiku. Aku tak bisa memilih salah satu dari mereka. Jika aku di beri kesempatan untuk memilih oleh dewa cinta siapa orang yang sebenarnya berhak aku cintai. Sungguh aku lebih memilih Satria daripada mereka. Karna Satria mencintaiku dengan tulus. Namun dewa cinta tak sedikitpun memberi kesempatan pada Satria. Dia malah memberiku rasa cinta pada dua orang yang jelas-jelas tak mempunyai rasa padaku.
Aku tak tahu kenapa…. rasa sayangku pada Bagas tak bisa lenyap sedikitpun. Padahal aku dan dia jarang sekali bertemu, tidak seperti aku dan Hendra yang setiap hari bertemu dan ngobrol, karena tempat dudukku dengan Hendra berdekatan. Mereka berdua sungguh-sungguh membuatku bingung.
Pagi ini aku begitu bersemangat berangkat. Di sekolah Rita dan Dina langsung menuju ke arahku.
“ Tya…. Happy birthday. Wah, Din kita dapat traktiran nih,” cuap Rita dengan suara manjanya yang khas.
“ Selamat ulang tahun ya. Ini buat kamu dari kita berdua,” kata Dina.
“ Thanks ya. Aku aja lupa kalau sekarang ulang tahunku.”
“ Buka dong.” kata Rita dan Dina serempak.
Aku merasa aneh, bagaimana bisa aku melupakan hari pentingku ini. Untung kedua sahabatku ini mengingatnya. Dengan semangat ku buka kado pemberian mereka. Astaga.. ini kan boneka Hello Kitty yang selama ini aku inginkan. Mereka memang sahabat terbaikku.
Aku bergegas menaruh jaketku di dalam laci mejaku. Ada sesuatu di laci mejaku. Ternyata ada dua buah surat yang berwarna pink dengan aroma jasmine. Dan siapa pengirimnya….. yup Bagas dan Hendra. Aku tak tahu apa mereka janjian atau apa, isi surat mereka sama. Intinya mereka mengucapkan selamat ulang tahun dan… oh Tuhan aku tak percaya mereka menyatakan cintanya padaku. Jika salah satu dari mereka yang mengatakan itu aku mungkin bisa menjawab dan menghilangkan perasaanku pada yang lainnya. Tapi ini keduanya, aku sama sekali tak bisa memilih satu diantara mereka.
Di kelas aku tak seperti biasanya, aku lebih diam dan menghindari bertatap muka dengan Hendra. Aku ingin menghindari agar kami tak bertemu pandang, karna akan semakin menyulitkanku tuk memilih.
Saat pulang aku ingin cepat-cepat sampai di tempat biasa aku menunggu angkot, tapi aku kalah cepat. Hendra dan Bagas keburu menghalangi jalanku tuk meminta jawaban. Jujur… aku sangat bingunng. Aku ingin segera menaiki angkot yang sudah tersedia untuk menghindari mereka, tapi aku sadar mereka akan terus mengejarku. Aku memutar otak untuk memilih kata-kata yang tepat yang agar bisa terlepas dari mereka berdua.
“ Ehm… Bagas.. Hendra.. Please, aku jawab besok aja ya. Jujur aku bingung aku harus milih siapa. Kalian sama-sama special.. Please, kasih aku waktu.”
“ Okey… besok kita berdua tunggu jawabanmu,” kata Bagas dan Hendra serempak.
Fiuh.. akhirnya mereka mengizinkanku untuk naik angkot itu. Tapi ada yang janggal dari mereka berdua. Mengapa mereka begitu kompak dan tak ada sedikitpun aura persaingan antara mereka. Padahal mereka sama menyatakan cinta kepadaku. Aneh… benar-benar aneh…
Perlahan semuanya menjadi kabur lalu menjadi gelap. Kemudian cahaya muncul perlahan diiringi sayup-sayup suara yang ku kenal. Lho inikan di kamarku, dan suara itu adalah suara alarm di hpku. Ku ambil hpku. Pukul lima, sudah saatnya ke sekolah. Untung itu semua hanya mimpi, jika semua itu kenyataan aku sungguh tak tau aku harus bagaimana.
Sesampainya di sekolah, kedua sahabatku langsung menghamipiriku. Ada yang aneh dengan tingkah mereka.
“ Tya…. Happy birthday. Wah, Din kita dapat traktiran nih,” cuap Rita dengan suara manjanya yang khas.
“ Selamat ulang tahun ya. Ini buat kamu dari kita berdua,” kata Dina.
Astaga ini hari ulang tahunku. Mengapa sepertinya ucapan mereka sepertinya pernah terjadi. Aku langsung membuka kado dari mereka. Oh tidak.. Boneka Hello Kitty. Jangan-jangan…
“ Tya.. Tya.. kamu mau ke mana?” tanya Rita heran.
“ Aku ke kelas dulu ya..”
Tujuan pertamaku adalah laci mejaku. Apakah dugaanku benar. Dengan segera aku meraba laci mejaku. Oh tidak.. apa ini. Dua buah surat berwarna pink beraroma jasmine. Perlahan semua menjadi kabur lalu menjadi gelap.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Cerita yang biasa, ending yang biasa...
Tapi ngena banget...!!!!

-alvi-