“ Woi , ngelamun aja ada apa sih ? “ tanyaku mengagetkan Diana .
“ Eh .. kamu Ika ,nggak ada apa - apa kok ,“ kata Diana sambil menghapus air mata yang menetes di pipinya .
Tak mungkin Diana itu anaknya periang tapi sekarang kok jadi murung .Aku ingin pelajaran cepat usai , aku ingin mengetahui masalah yang dihadapi Diana , memang sih mencampuri urusan orang lain itu tak baik , tapi aku sangat penasaran .Akupun berusaha mendekatinya, tetapi rasanya dia berusaha menjahuiku .
Bel pulang yang kutunggupun berbunyi . Diana yang pertama kali keluar kelas . Aku mempercepat langkahku untuk mengambil sepedaku . Untung saja Diana belum dijemput oleh ayahnya . Aku menunggu sampai seperempat jam, tapi ayah Diana tak kunjung tiba . Sepuluh menit kemudian ayah Diana datang, aku membuntutinya dari belakang . Aku terus mengikuti Diana , tapi mengapa dia tak pergi ke rumahnya melainkan ke rumah tantenya . Rumah tantenya ialah rumahku . Memang aku dan Diana mempunyai hubungan darah , tetapi Diana tak tahu itu .
“ Diana , mengapa kau ada di sini ? “ tanyaku .
“ Aku ingin berkunjung ke rumah tanteku di sini , kalau kau mengapa kau ada di sini ?”
tanya Diana .
“ Aku tinggal di sini ,“ jawabku.
“ Oh…… ini rumahmu ? “ tanya Diana .
Aku hanya mengangguk dan tersenyum .Memang sih kami berdua telah bersahabat selama lima tahun , tetapi Diana tak pernah pergi ke rumahku . Lalu terdengar suara ibuku memanggil Diana . Dianapun masuk ke rumahku, lalu aku dibelakangnya .
“ Eh , kamu sudah datang Ika , ini Diana anaknya om Bram, “ kata ibu .
“ Saya sudah tahu bu , Diana itu teman sekelas saya,“ kataku .
“ Iya tante Ika itu teman sekelas Diana ,“ kata Diana
Aku tak mengerti mengapa Diana ada di sini katanya ingin berkunjung , tak biasanya .
Dianapun menginap di rumahku .
Malamnya Diana menangis lagi . Aku menanyakan penyebabnya , tetapi Diana hanya diam saja . Aku bingung dengan sikap Diana yang berubah drastis .
Esoknya Diana tetap bersedih . Setelah selesai sarapan Diana langsung menyeretku ke kamarku .
“ Ada apa sih kok kamu menarik - narik tanganku ? “ tanyaku .
“ Aku udah nggak tahan nyembunyiin semua ini dari kamu, sebenernya ayah dan ibuku akan bercerai dan aku akan tinggal di sini ,“ kata Diana .
“ Ha….. apa katamu om Bram dan tante Rose akan bercerai ? “ tanyaku setengah kaget .
Diana hanya mengangguk . Aku benar - benar tak menyangka tante dan omku akan bercerai , kasihan Diana dia harus kehilangan kedua orang tuanya .
Esoknya aku pergi sekolah bersama Diana . Dalam perjalanan aku menghiburnya dengan cerita konyol Dianapun tertawa , tetapi sepertinya dia tertawa seperti kewajiban saja .
Sesampainya di sekolah aku bertemu dengan kedua sahabatku, yaitu Ana dan Rina . “ Diana kok wajahmu terlihat pucat ada apa sih ? “ tanya Ana .
Diana diam saja sepertinya pikirannya tidak ada di sini .
“ Diana ..” bisikku pada Diana sambil menyenggol bahunya .
“ Ha.. ada apa ? sorry ya aku tadi mikirin gimana aku jadi pembawa acara pada saat upacara nanti soalnya aku grogi banget ,” kata Diana .
Sepertinya kedua sahabatku itu tak percaya bahwa Diana grogi, karena Dianakan sudah berulang kali menjadi pembawa acara .
Tak lama kemudian upacara dimulai dan tepat tiga puluh menit kemudian upacara selesai dan kamipun masuk ke kelas masing - masing . Saat tidak ada guru aku mendekat ke bangku Diana . Diana kelihatanya tak konsentrasi dengan pelajaran buktinya beberapa soal yang mudah dia tak tahu jawabannya . Andhikapun datang menghampiri kami . Dia menanyakan mengapa Diana terlihat murung . Tapi Diana hanya diam saja . Akupun menceritakan masalah Diana pada Andhika. Tak lama kemudian Guru kamipun datang , karena tugas kami harus segera di kumpulkan .
Satu setengah jam kemudian bel istirahatpun berbunyi . Diana terlihat malas melakukan sesuatu , jadi kuputuskan untuk menemaninnya . Tak lama kemudian Andhika datang dengan membawa tiga buah ice cream .
“ Nih , buat kalian berdua ,“ kata Andhika .
“ Terima kasih ya ,“ jawabku dan Diana .
Andhika hanya tersenyum . Lalu kami bertiga memikirkan bagaimana cara menyatukan kedua orang tua Diana , tetapi kami tidak mendapatkan ide yang cemerlang sampai bel masuk berbunyi . Dua jam kemudian pelajaran selesai dan kamipun pulang .
Akhirnya kami sepakat untuk memikirkannya di rumahku . Andhikapun setuju . Aku dan Diana berjalan untuk menuju ke rumahku . Pikiran Diana sepertinya melayang entah kemana dan tiba - tiba ………….
“ Diana … awas……. “ teriakku .
Diana dibawa ke rumah sakit oleh orang yang menabraknya , akupun mengantarnya , lalu aku menelpon rumahku , Handphone om Bram dan Handphone tante Rose . Aku juga menelpon Andhika agar Andhika tidak pergi ke rumahku melainkan ke rumah sakit . Tiga puluh menit kemudian Andhika sampai di rumah sakit .
“ Gimana sich kok bisa jadi seperti ini ? “ tanya Andhika .
“ Tadi Diana melamun dia tidak tahu kalau di belakangnya ada mobil yang melaju kencang ,“ kataku menahan tangis .
Kami lalu menunggu kedatangan orang tuaku dan orang tua Diana . Kami berduapun tiada henti - hentinya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar Diana selamat . Tak lama kemudian orang tuaku dan orang tua Diana pun tiba . Kemudian dokterpun keluar . Kata dokter Diana mengalami pendarahan dikepalanya , tetapi untung saja pendarahan itu bisa diatasi . Saat ini keadaan Diana kritis . Aku terus dan terus berdoa demi keselamatan Diana .
Esoknya aku kembali lagi ke rumah sakit . Aku menunggu kabar dari dokter itu . Ternyata Tuhan mengabulkan semua doa - doaku . Terima kasih Tuhan kau telah memberiku banyak sekali kebahagiaan hari ini ,yaitu dengan kesembuhan Diana dan batalnya perceraian om dan tanteku . Sekali lagi terima kasih Tuhan .
1 komentar:
ya mnrut q niy crita lbih lmyan drpda crita yg pertama, da kemajuan lah
Posting Komentar