Hari ini adalah hari yang dinanti - nantikan oleh Lili, karena dia dan teman - teman sekolahnya akan pergi ke Pulau Bali. Baginya ini adalah kesempatan yang langka, karena jarang sekali kedua orang tuanya memberi kesempatan dia untuk pergi jauh tanpa dampingan mereka.
Pukul tujuh tepat Lili dan teman - temannya ke airport . Seletah sampai Pak Iwan mengurus tiket mereka. Satu jam kemudian mereka berangkat. Lili tak sabar untuk mengetahui indahnya Pulau Bali. Di perjalanan semua teman - temannya tertidur lelap, tetapi Lili tak bisa tidur. Di pesawat dia melihat pemandangan yang sangat indah yang selama ini belum pernah dilihatnya .
Sampai suatu ketika pramugari pesawat itu menyuruh seluruh penumpang pesawat untuk menggunakan pelampung yang ada di bawah kursi mereka, karena pesawat yang mereka tumpangi mengalami kerusakan. Kegaduhanpun timbul semuanya saling berebut untuk keluar melalui pintu darurat. Sebelum keluar Lili mencari ketiga sahabatnya yaitu Ira, Roni dan
Irfan. Setelah menemukan mereka, mereka bersama - sama turun dari pesawat. Mereka bergandengan erat. Sampai mereka terjatuh di laut lepas.
Irfan melihat potongan kayu yang terapung, lalu dia mengajak mereka untuk berpegangan pada potongan kayu itu.
“ Aduh aku lapar, soalnya tadi aku belum makan. Ada yang yang bawa makanan nggak ?“ tanya Lili menahan lapar.
“ Yah … aku lupa di tasku ada snack, tadi karena terburu - buru aku lupa membawanya ,“ kata Roni.
Berhari - hari mereka terapung di lautan tanpa makan dan air hujan untuk minum.
“ Sampai kapan ya kita terapung di sini ?“ tanya Ira .
“ Kita semua tidak bisa menduganya ,” jawab Irfan .
Tak lama kemudian mereka melihat sebuah pulau, merekapun berenang mendekati pulau tersebut.
Setelah berada di daratan Roni dan Irfan mencari kayu bakar untuk api unggun, sedangkan Lili dan Ira mencari makanan untuk dibakar. Setelah mendapat banyak kayu Roni membakar kayu itu lalu mereka membakar ikan - ikan yang telah Lili dan Ira kumpulkan .
“ Enak sekali ya makanan ini !“
Akhirnya mataharipun tenggelam berganti bulan. Mereka semua ketakutan karna suasana begitu mencekam.
“ Fan, kita sekarang tidur di mana ?“ tanya Lili ketakutan .
“ Ya kita tidur di sini. Emangnya kamu mau tidur di mana ?Kamu mau tidur di laut lagi ?“ jelas Irfan.
“ Di sini Fan ? kamu gak salah ?“ tanya Ira tak percaya.
“ Ya, iyalah .“
“ Emangnya gak ada tempat yang lebih bersih lagi apa ?“ tanya Ira, matanya melihat seakan tak percaya dia harus tidur di tempat yang kotor dan berlumpur.
“ Sifatmu yang sok bersih itu tolong di hilangkan dalam keadaan darurat seperti ini ,“ kata Roni.
Akhirnya mereka tidur di tempat yang sama sekali berbeda dengan kamar tidur
mereka. Lili tersenyum melihat Ira yang biasanya harus tidur di kasur yang empuk tiba - tiba harus tidur di pinggir laut tanpa menggenakkan alas, padahal dulu waktu diadakan perkemahan di sekolah dia dengan sembunyi - sembunyi membawa bantal, sekarang jangankan bantal tikarpun tak ada.
“ Belum tidur ?“ tanya Irfan mengagetkan Lili.
“ Eh, kamu Fan belum nich aku nggak bisa tidur ,” jawab Lili.
“ Jangan bilang kamu nggak bisa tidur karena nggak biasa ,“ kata Irfan.
“ Bukannya gitu aku nggak bisa tidur soalnya aku mikirin teman - teman, gimana nasib mereka, apa mereka bisa selamat ? Kamu sendiri kenapa belum tidur ?“ tanya Lili.
“ Aku juga mikirin nasib teman - teman Li ,“ jawab Irfan.
Di lain tempat ayah ibu Lili mendengar bahwa pesawat yang anak - anak mereka tumpangi terjatuh dan sampai sekarang belum ditemukan.
“ Benarkan apa yang saya bilang, lebih baik Lili tidak usah diijinkan untuk pergi ke Bali. Ayah sih mengijinkan Lili pergi jadinya kan Lili hilang ,“ kata ibu Lili pada ayah Lili.
“ Sudahlah bu, Lili jugakan yang berjanji untuk menjaga diri kita harus percaya pada Lili, Lili pasti bisa memegang janjinya ,“ kata ayah Lili menenangkan istrinya.
Mentari pagi menyapa seakan menyapu kengerian yang ada di benak Lili dan kawan - kawannya.
“ Pagi semua ,“ kata Ira.
“ Udah bangun non, tidurnya pules amat katanya gak mau tidur di tempat kayak gini ,” kata Roni menggoda Ira.
“ Iya ya Ron, katanya jijik kok malah gak bisa bangun ,“ kata Lili menimpali.
“ Ih.. biarin daripada kemarin aku liat Lili sama Irfan asyik berduan di pinggir pantai ,“ ejek Ira.
“ Apaan sih kamu Ira kita berduakan cuma ngobrol , “ kata Lili.
“ Udah, udah nggak usah saling ngejek sekarangkan waktunya kita cari makan ,“ kata Irfan menengahi.
Roni dan Irfan kembali membuat api unggun agar menjadi tanda bila ada pesawat atau helikopter yang lewat. Sedangkan Lili dan Ira mencari ikan untuk makan mereka.
Berhari mereka ada di pulau tak bertuan itu, sampai sekarang mereka tak tahu apa yang ada di dalam hutan yang ada di pulau tersebut , karena mereka sama sekali tak berani untuk memasuki hutan itu. Mereka jika mencari kayu hanya di pinggiran hutan.
Semua korban kecelakaan pesawat itu telah di temukan oleh TIMSAR hanya Lili dan kawan-kawannya yang belum ditemukan. Hal ini membuat kedua orang tua mereka cemas.
Sampai suatu saat ada sebuah helikopter yang melintasi pulau tersebut, pilot helikopter tersebut melihat ada kepulan asap api unggun. Helikopter tersebut mendekat pulau itu dan mulai mendarat. Lili dan teman - temannya yang melihat ada helikopter mendarat segera berlari mendekati helikopter itu .
Akhirnya ada juga yang menyelamatkan mereka . Dan mereka tiba di Surabaya kota yang mereka cintai . Setelah keluar dari helikopter itu mereka segera diserbu oleh para kuli tinta, para kuli tinta itu menanyakan berbagai pertanyaan mengenai perjalanan mereka . Mereka menjadi seperti artis dadakan karena mereka sering didundang ke berbagai stasiun telivisi untuk memberi keterangan tentang perjalanan mereka .
Begitulah petualang Lili dan teman-temannya di pulau tak bertuan . Mereka sama sekali tak ingin mengulanginya kembali, bagi mereka cukup sekali saja mereka harus berada di pulau tak bertuan tersebut .
1 komentar:
crita niy q buat krn dlu q pngen bgt pux shbt co, yg bsa jg`in q. n skr Tuhan ngblin prmintaanq
Posting Komentar